Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip BP
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeGelar KaryaBest practiceBP-LingkunganPompa Air Hidrolik Sederhana Cermin Kearifan Lokal
Best Practice P2KP merupakan kumpulan dokumentasi pengalaman kegiatan lapangan yang sarat dengan inspirasi, prestasi, dan bermakna pelajaran. Tujuan sharing pengalaman dalam bentuk tulisan Best Practice ini agar khalayak terpacu untuk melakukan kegiatan-kegiatan serupa, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bagaimana penulisan, pengiriman, dan penayangan Best Practice P2KP? Klik disini...
Karawang, 20 April 2010
Pompa Air Hidrolik Sederhana Cermin Kearifan Lokal

Kabupaten Karawang adalah kota kecil yang kurang menonjol dari segi identitas kota. Padahal, di kota ini berdiri kawasan industri yang cukup besar. Termasuk desa dampingan kami, Desa Wanasari, Kecamatan Teluk Jambe Barat, yang notabene merupakan kawasan industri yang bersanding dengan pertanian.

Di daerah ini, sebagian besar desa tidak mempunyai sumber mata air. Kalaupun ada, sumber mata air berada di kedalaman lebih dari 50 meter. Jika ditemukan sumber mata air dangkal, maka itu adalah anugerah.

Terlebih, jika air yang keluar berasa tawar, sungguh anugerah tiada tara! Karena, pada umumnya air sumur di kawasan ini berasa payau. Sejauh ini belum diketahui apa penyebabnya. Apakah terjadi gara-gara intrusi akibat dari keberadaan artesis pabrik di kawasan industri, atau ada faktor lain? Mengingat jarak antara daerah ini dengan laut cukup jauh, yakni sekitar 25 km.

Desa Wanasari memang mengalami kesulitan air. Secara umum, warga menggunakan air mineral galon untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Sedangkan untuk kegiatan mandi-cuci-kakus (MCK), warga menggunakan air Sungai Cibaregbeg yang berjarak sekitar 1 km dari rumah warga.

Padahal air sungai ini tercemar limbah pabrik tekstil di kawasan industri sekitar. Di musim kemarau, air sungai berwarna hitam akibat konsentrasi zat terlarut demikian tinggi. Sementara itu, warga yang mampu dapat membuat sumur di tepian atau tengah sungai, kemudian disedot ke rumah melalui pipa dengan bantuan jet pump.

Oleh karena itu, keberadaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Desa Wanasari disambut antusias oleh warga. Pengajuan tahap pertama pun tak lain adalah pembuatan saluran pipa dengan sumber air dari irigasi. Karena air irigasi cenderung lebih bersih dari zat terlarut mineral berbahaya.

Pembuatan saluran pipa ini dibantu mesin pompa sederhana, mengingat kondisi geografis daerah yang memiliki kontur yang unik, yakni berbentuk V. Dengan posisi irigasi di atas, sementara perkampungan berada di atas dan di lembah. (Lihat gambar di bawah, klik untuk memperbesar).

Dalam konsep pemberdayaan partisipasif kita tidak bisa mengabaikan kearifan lokal dari masyarakat setempat. Termasuk pilihan struktur dan konstruksi, yang merupakan pilihan akan kesadaran kemampuan masyarakat dalam merencanakan, mengerjakan, memanfaatkan, dan memeliharanya.

Warga yang memilih pompa air berteknologi sederhana ini menimbang faktor hemat energi dan biaya. Selain itu, warga juga memahami sistem kerja pompa, sehingga bisa membuat sendiri dengan bantuan mesin las. Mesin ini tidak memerlukan bantuan listrik maupun BBM dalam pengoperasiannya. Berikut skema pipanisasi air dengan bantuan Mesin Pompa Air Hidrolik Sederhana.

Pompa ini menggunakan teori sederhana seperti halnya sistem plumbing pada pemipaan utilitas bangunan gedung. Dan teknik pembuatan pompa ini pertama kalinya diperkenalkan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) pada kegiatan KKN di Desa Donorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, pada tahun 1984.

Setelah mesin pompa dipasang, dibentuk semacam tim pemelihara yang diketuai oleh Kholiq. Beliau inilah yang kemudian menyempurnakn sistem kerja mesin, sehingga lebih stabil. Yakni, ketika air deras mengalir klep tidak bergeser, sehingga tidak menyebabkan mesin berhenti.

Melalui suami-istri asal Magelang yang menjadi anggota BKM Desa Wanasari, yaitu Saryono dan Maryam, mesin pompa tersebut diperkenalkan dengan mengundang Kholiq, yang ternyata adalah tetangga Saryono. Pompa pun dibeli seharga Rp5 juta, plus ilmu cara membuat pompa itu sendiri.

Jadi, total pengerjaan untuk satu titik dan bak kontrol, pipa pralon, serta bak utama/bak pembagi adalah sebesar Rp17.280.000 dari BLM dan Rp10.112.000 dari swadaya masyarakat.

“Dulu, sebelum adanya PNPM Mandiri Perkotaan, saya sudah mengajukan kepada pihak desa, tapi tidak kunjung di-ACC. Mungkin terkendala dana, sementara dana ADD lebih dibutuhkan untuk pekerjaan yang lebih bermaslahat lainnya,” ujar Saryono. Apalagi, lanjut dia, saat itu masyarakat telah terbiasa MCK di sungai. Namun, setelah PNPM hadir dan BKM dibentuk, pembuatan saluran pipa air ini dapat terealisasikan.

Dalam rapat penetapan prioritas kegiatan, masyarakat—termasuk para relawan dan BKM, yang baru saja terbentuk—menyatakan kepada forum, masalah yang paling utama terjadi di Wanasari adalah cai (air). “Air sungai di musim hujan memang banyak, tapi di musim kemarau sangat sedikit, bahkan bisa dibilang kering,” kata salah seorang warga bernama Abas.

Karena sebagian besar masyarakat di wilayah ini termasuk dalam kategori warga miskin (warmis), uang menjadi sesuatu yang sulit untuk dibebankan. Akhirnya, berdasarkan kesepakatan bersama dalam musyawarah perencanaan kegiatan, disepakati bahwa warga iuran dalam bentuk beras, mengingat sebagian besar warga adalah petani. Adapun bagi mereka yang memiliki uang, boleh iuran dengan uang.

Begitu pekerjaan ini terselesaikan, sungguh luar biasa antusiasme warga! Mereka memasang pipa secara swadaya untuk dialirkan ke lingkungan masing-masing. Dan, saat ini warga sudah pada tahap proses iuran membuat bak penampung untuk masing-masing (terdiri dari 4-5 keluarga). Ini dimaksudkan untuk membangun kebersamaan dan kerukunan sesama warga masyarakat.

Sementara itu, Tim Pemelihara juga telah dibentuk. Tugas mereka adalah menetapkan jadwal air mengalir pada tiap-tiap kelompok keluarga, juga mengumpulkan iuran warga demi keberlanjutan bangunan pipa air ini.

Masyarakat juga berharap suatu saat ada penambahan mesin pompa baru, agar air mengalir lebih deras, dan jumlah jatah air untuk masing-masing keluarga semakin besar, sehingga tidak ada lagi keluhan masalah air di masa mendatang. 

Jadi, melalui kelembagaan BKM ini, tidak hanya masalah lingkungan saja yang dapat diselesaikan, tapi juga masalah sosial seperti halnya advokasi terhadap masyarakat yang tanahnya terjebak dalam kawasan SPBU dan rest area tol Karawang Barat. Selain kelembagaan yang cukup dinamis, kepala desa beserta jajarannya pun memberikan dukungan yang luar biasa.

Jika ada daerah lain di seluruh Nusantara yang memiliki permasalahan air, dengan kondisi geografis yang mirip dengan desa kami, barangkali kami bisa membantu melalui BKM Desa Wanasari, atau lewat Bapak Kholiq secara langsung. Hal ini sebagai bentuk dari tali silaturahim yang kami tawarkan kepada rekan-rekan lain sesama Fasilitator dan agen pemberdaya di seluruh Indonesia. (Sri Purwanti, Fasilitator Infrastruktur Kabupaten Karawang, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
BKM Sari Mandiri
Dusun Baregbeg RT 06/RW 03
Jln Yudistira No. 01, Desa Wanasari
Kecamatan Teluk Jambe Barat, Kabupaten Karawang

Contact Person
- Enjah S (Koordinator BKM), HP. 085281988970
- Sri Purwanti (Fasilitator Infrastruktur), HP. 085642037194
- Kemal Rohmana (Senior Fasilitator), HP. 081977703904
- Kus Handono (Askot Infrastruktur), HP. 08161912490
- Jejen Z (Koordinator Kabupaten), HP. 081322367382

(dibaca 7764)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Indeks BP-Lingkungan | Arsip BP-Lingkungan | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 364, akses halaman: 760,
pengunjung online: 107, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank