|
 |
| Jum'at, 3 September 2010
, Selamat datang di website P2KP!
Forum P2KP dipergunakan untuk curah pendapat pelaksanaan P2KP. Tidak diperkenankan mengirimkan berita atau pesan yang berupa fitnah, hasutan, penghinaan, pelecehan, pornografi, narkoba, pendapat yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan), iklan (advertising), spamming, politik, dan sejenisnya, apa pun bentuknya. Gunakanlah bahasa yang sopan dan berkaidah/beretika. Tim Website P2KP tidak bertanggungjawab atas isi atau kebenaran informasi di forum ini.
|
 |
|
| Forum: Mimbar bebas |
Kirim tanggapan | Kirim pesan baru | Daftar | Arsip | Cetak |
Surat Cinta dari Redaksi
Redaksi Web, 7 September 2009, jam 22:06:48 |
Assalamu'alaikum wr wb., Selamat malam, rekan-rekan pengguna Web P2KP-PNPM Mandiri Perkotaan, baik relawan maupun pelaku.. Apa kabar semuanya? Semoga rekan semua, beserta keluarga, sehat wal afiat dan senantiasa ada dalam lindungan Allah, SWT. Amiiin.. 
Mohon maaf, judulnya agak nyeleneh. Semata, agar eye-catching saja. Hehe.. Kebetulan malam ini saya belum bisa memejamkan mata, karena merasa punya utang kepada rekan-rekan semua. Mungkin rekan-rekan bingung, "utang" apa yang saya maksudkan di sini..
Begini, sekitar lima minggu lalu, saya mendapat masukan dari rekan kerja terkait "curhatan" saya tentang masih banyaknya "kesalahan berjamaah" dalam penggunaan kata dan ejaannya. Hah? Kata? Ejaan?
Mungkin kelihatannya remeh, "Ah, kan hanya salah ejaan kata saja, yang penting maknanya benar.." Sebagian besar dari kita tampaknya akan berkomentar demikian. Tapi, tidak untuk saya (dan, pastinya untuk rekan-rekan seprofesi saya juga). Maklum, sebagai seorang Editor (dan juga jurnalis), saya pernah bersumpah pada diri sendiri untuk "turut mencerdaskan bangsa" melalui kemampuan saya dalam hal tulis-menulis. "Sampaikan yang benar, jangan sampai memberikan informasi sesat, meskipun itu terpisah hanya koma dan titiknya," begitu pesan guru besar jurnalistik saya beberapa tahun silam. Pesan itu saya jaga betul hingga sekarang..
Nah, sekian minggu lalu, saya mengoreksi rekan kerja saya tersebut karena kekeliruan beliau mengeja satu kata. Bukan untuk menggurui, tapi sekadar sharing pengetahuan dan saya memiliki beban moral untuk menyampaikan hal yang benar. Alhamdulillah, karena rekan-rekan kerja saya memang memiliki nilai luhur, sesuai semangat P2KP (hehehe..), mereka justru menghargai koreksi saya tersebut, dan saya pun menghargai sikap penerimaan mereka yang sangat baik. Mereka mengaku, kata yang keliru ejaan tersebut ditulisnya karena terpengaruh tulisan orang lain, yang melakukan kekeliruan serupa. (Nanti akan saya jelaskan, kata-kata apa saja yang secara EYD adalah keliru). Intinya, ini adalah common mistake--kesalahan yang dilakukan masyarakat umum dan oleh mayoritas (saya menyebutnya, "kesalahan berjamaah", hehehe..).
Lebih lanjut, beliau menyarankan agar saya berbagi pengetahuan melalui Forum Web kita sendiri, agar "kesalahan berjamaah" ini tidak lagi terulang, minimal berkurang.. Kemudian, saya pun berjanji pada diri sendiri untuk mewujudkan permintaan tersebut. Jadi, inilah dia, utang (pada diri sendiri) saya bayarkan..
Baiklah, kita masuk ke topik sesungguhnya...
Tapiiiii, agar tidak bosan dan terlalu panjang, saya sampaikan kata-kata keliru atau salah kaprah tersebut di tanggapan ya..
*Bukan bermaksud mengulur-ulur, saya hanya melakukan "permainan paragraf" saja, agar benak tidak keburu terantisipasi kejenuhan membaca tulisan super panjang.. hehe..* 
to be continue....  |
[ Kirim tanggapan | Kirim pesan baru] |
Tanggapan 1 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Nina K Wijaya, 7 September 2009, jam 23:16:43 |
Kelompok kata pertama yang akan saya sampaikan adalah kata yang merupakan serapan dari bahasa asing.
Apa saja kah kata yang merupakan serapan dari bahasa asing? Wah, buanyaak sekali! Tapi, saya hanya akan memberi contoh beberapa kata saja di sini. Kata-kata berikut ini umum digunakan, terutama kaitannya dengan kegiatan kita di dunia pemberdayaan.. *halah* 
Kosakata Indonesia yang merupakan serapan bahasa asing, di antaranya, adalah... (ehm, maaf... makna katanya, menyusul yaa.. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer saya tertinggal di kantor, hehe..):
- Aktif ----> dari bahasa asing: Active - Produktif ----> dari bahasa asing: Productive - Sinergi -----> dari bahasa asing: Synergy
Nah, ketika kata tersebut berdiri sendiri, kita semua dapat mengejanya dengan baik. Tapi, ketika kata tersebut dijadikan kata benda (ditambahkan ---itas, atau --sasi), beginilah yang umumnya terjadi...
- Aktif ---> Aktifitas - Produktif ---> Produktifitas - Sinergi ---> Sinergitas
Coba perhatikan.. Menurut Anda, kata di atas benar atau tidak ejaannya hayooo? 
Kalau sudah benar, saya nggak akan membahas lagi dooong! Hehehehe.. Yes, kata-kata tersebut di atas: SALAH!
Seharusnya: Aktif ---> Aktivitas
Berhubung aktif merupakan serapan dari kata "active", maka ketika ditambahkan akhiran, ia tidak lagi menggunakan "f", melainkan "v", menjadi AKTIVITAS.
Begitu juga dengan:
Produktif ---> PRODUKTIVITAS, bukan produktifitas.
Lalu, bagaimana dengan kata "Sinergi"? Bisa kah menjadi Sinergitas??
Begini, bos... Saya sudah bongkar-bongkar kamus bahasa Indonesia, dan tetap saja, tidak ada itu istilah Sinergitas. Bahkan dalam bahasa asing pun, tidak ada istilah "synergity"...
Untuk itu, kata "sinergi" tetap berdiri sebagai SINERGI saja, tidak dapat diubah menjadi sinergitas, apalagi sinergisasi.. 
Ah iya, satu lagi... Istilah "Pavingisasi" dan "Pipanisasi", biasanya terkait pembangunan infrastruktur sarana-prasarana.
Saya kerap menemukan kata ini dalam tulisan yang dikirimkan oleh rekan-rekan KMW. Terus terang, saya sering nyengir geli membacanya. Dalam kaidah bahasa Indonesia, tidak ada istilah pavingisasi atau pipanisasi ini. Konon, menurut seorang rekan yang menggeluti bidang Tata Kota, kata tersebut umum digunakan oleh "orang-orang infrastruktur". Padahal, dalam bahasa Indonesia, kata tersebut salah.
Untuk itu, hindari penggunaan istilah Pavingisasi. Ganti saja dengan "Pemasangan paving". Begitu juga dengan Pipanisasi, hindari istilah tersebut dan ganti saja dengan "Pemasangan pipa". Memang jadinya lebih panjang, tapi kalimat tersebut tepat, dan Anda akan terhindar dari malu akibat keliru menggunakan istilah..
Oke, malam semakin larut... Saya akan melengkapi dan melanjutkannya lagi besok siang (di sela-sela editing) atau petang (usai editing dan updating konten WARTA-BEST PRACTICE di website).
Jika ada kosakata yang menurut rekan-rekan menarik untuk dibahas, silakan sharing. Insya Allah, saya bisa menjawabnya, sesuai dengan EYD dan kaidah bahasa yang tepat. Atau, kalau ada rekan lainnya yang bisa menjawab, silakan. Saya akan senang sekali kalau ada rekan pengguna Web, berkenan berbagi, sekaligus membantu saya meningkatkan ilmu. Intinya, kita sama-sama belajar kok.. Selama kita masih hidup, kita masih harus terus semangat belajar dan mengembangkan diri.
Dan, soal bahasa Indonesia ini, hayo kita ikut membantu Pak JS Badudu (Bapak EYD-nya Indonesia) agar berhenti tersedu, karena mungkin selama ini beliau miris menyaksikan rakyat Indonesia kurang mengindahkan bahasanya sendiri...
Mari, menggunakan bahasa Indonesia secara baik, benar, tepat dan lugas! Bravo P2KP-PNPM Mandiri Perkotaan! Semangat terus!
nuhun ah, NiNaGeuLiS |
| |
Tanggapan 2 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
rina suprabowo, 8 September 2009, jam 10:18:27 |
Wah bagus nih.
Teh Nina... lanjutkan!
Salam manis, Rina |
| |
Tanggapan 3 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
tamharudin tamharudin, 8 September 2009, jam 12:16:43 |
| Mau tanya nih, Kalau kata selektif bagaimana sebaiknya, contoh kita harus selektif dong. Thanks atas jawabanya |
| |
Tanggapan 4 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Mila Djamhari, 9 September 2009, jam 0:55:21 |
@redaksi web Alhamdulillah bahwa mulai ada kesadaran mensosialisasikan penggunaan bahasa Indonesia dengan benar.
Ada satu kata di kalangan orang-orang PU/Kontraktor infrastruktur Jawa Timur, yang mungkin juga tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata "plengsengan" di kalangan masyarakat Jawa Timur sangat akrab, kira-kira di dalam bahasa Indonesia yang benar apa? Kata "plengsengan" tidak ditemui di wilayah Indonesia lain selain Jawa Timur.
Dulu saat saya di Clean Urban Project Jawa Timur kata "plengsengan" ini sempat bikin ramai orang pusat dan USAID. Kata "plengsengan" tidak ditemukan padanan katanya dalam Kamus Bahasa sehingga binggung untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ada yang bisa jawab? |
| |
Tanggapan 5 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Nina K Wijaya, 9 September 2009, jam 11:31:26 |
Assalamu'alaikum, selamat siaang.. Maaf, baru nongol lagi di MB. Hehe..
@ Bu Rina: Terima kasih atas dukungannya, Buuu.. Salam kangen dari Mbak Rati.. Maaf OOT nih, Bu.. Berbagi info aja, Mbak Rati sekarang jadi salah satu anggota Rose Heart Writers (untuk buku keluaran Rose Heart Publishing) lho, Bu.. Insya Allah, beliau segera jadi selebritis. Apalagi usaha bunga Mbak Rati sudah pernah diliput oleh Tabloid Genie.. Hebat deh pokoknya beliau sekarang!
@ Pak Tamharuddin: Kata Selektif merupakan adjektiva (kata sifat)---artinya: 1 melalui seleksi. 2 mempunyai daya pilih. Penulisannya sudah tepat, Pak: Selektif. Kata ini berasal dari bahasa asing "selective". Maka dari itu, ketika kata "selektif" dijadikan kata benda (nomina) maka kata tersebut menjadi Selektivitas --- artinya: 1 hal atau kepandaian memilih. 2 (radio) kemampuan untuk menerima siaran pada suatu gelombang dengan cermat tanpa terganggu oleh siaran-siaran pada gelombang yang lain. .
Ditunggu artikel-artikel berikutnya, Pak Tamharuddin! Saya termasuk salah satu penggemar tulisan Anda lho! Hehehe.. 
@ Mbak Mila Djamhari: Terima kasih banyak, Mbak.. Mudah-mudahan niat membudayakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa benar-benar terwujud ya! Amiiiin!
Mengenai kata plengsengan, walah... Saya yo baru denger kie, Mbak!  Saya buka kamus, memang nggak ada kata plengsengan ini, jadi keliatannya memang benar-benar merupakan bahasa daerah yang biasa digunakan sehari-hari. Apa ya, artinya Plengsengan ini?
Ah iya, saya jadi teringat, soal bahasa daerah yang akhirnya "dibakukan" (boleh digunakan sebagai kata baku)... Ada beberapa lho! Hayooo coba tebak, kata apa sajaa ituuu? 
Segini dulu ya, nanti kita lanjut lagi.. Monggo yang ingin menanggapi, kami akan senang sekali menjawabnya! 
nuhun ah, NiNaGeuLiS Web Editor |
| |
Tanggapan 6 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Nina K Wijaya, 10 September 2009, jam 10:28:34 |
Selamat pagiiii.. Saya datang lagi.. Tapi kali ini hendak menjelaskan makna kata yang kita bahas di atas.. Pertama, soal kata AKTIF.
Berdasar Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, terbitan MEP-Jakarta, yang disusun oleh Drs. Peter Salim, M.A. dan Yenny Salim, B.Sc.: Aktif (adjektiva) 1 giat; gesit. 2 masih bekerja. 3 energik. 4 penerimaan lebih banyak daripada pengeluaran (istilah akuntansi). Aktif juga berarti selalu berusaha, bekerja, atau belajar dengan sungguh-sungguh supaya mendapat kemajuan atau prestasi yang gemilang.
Kata aktif, jika bertemu prefiks (awalan) me-, pe-, ke-; dan/atau konfiks ke-an; dan/atau sufiks -kan; dan/atau akhiran -an;bentuknya akan menjadi: mengaktifkan---bukan mengaktivkan! (kata kerja transitif), artinya menggiatkan pengaktif---bukan pengaktiv, (kata benda), artinya 1 yang menyebabkan aktif. 2 zat yang menaikkan keaktifan enzim. pengaktifan---bukan pengaktivan, (kata benda), artinya perihal mengaktifkan keaktifan---bukan keaktivan, (kata benda), kegiatan.
Adapun bentuk kata aktif yang menggunakan akhiran v (aktiv) ada pada list berikut: - Aktiva (n) aset; kekayaan perusahaan - Aktivasi (n) 1 perangsang. 2 tindakan membuat radioaktif, - Aktivator (n) bahan yang merangsang kerja bahan lainnya. 2 bahan yang mempercepat reaksi - Aktivis (n)--bukan aktifis--1 orang yang melibatkan diri dalam suatu kegiatan atau perjuangan secara aktif dan agresif. 2 penggerak - Aktivisme (n)--bukan aktifisme--1 paham para aktivis. 2 doktrin mencapai tujuan dengan tindakan kekerasan. - Aktivitas (n)--bukan aktifitas--1 kegiatan; kesibukan. 2 kekuatan pikiran atau badan; daya. 3 pekerjaan.
Jika diperhatikan, kata Aktif yang mengubah f menjadi v umumnya adalah saat kata tersebut berubah menjadi kata benda (nomina), kecuali pada istilah kimia, seperti disebut di atas.
Ini tentang kata AKTIF... Selanjutnya.... to be continued...  |
| |
Tanggapan 7 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Nina K Wijaya, 10 September 2009, jam 11:11:26 |
Oke, selesai tentang AKTIF, kita berlanjut menuju kata PRODUKTIF.
Produktif merupakan bentuk adjektiva dari Produksi. Produktif artinya banyak menghasilkan. Ketika kata Produktif ini menjadi kata benda (nomina)--ditambahkan sempalan -itas--maka ia berubah menjadi PRODUKTIVITAS, bukan produktifitas.
Produktivitas artinya kemampuan menghasilkan; daya hasil; keproduktifan.
Jika melihat penjelasan makna kata Produktivitas ini, dapat disimpulkan, kata yang memiliki akhiran f, biasanya tetap berbentuk f jika bertemu dengan prefiks, sufiks, konfiks dan akhiran -an. Namun demikian, ketika berubah menjadi nomina yang ditambahkan akhiran -itas, f tersebut berubah menjadi v. Kemungkinan besar alasannya adalah karena kata tersebut memang serapan dari bahasa asing (bahasa asing yang di-Indonesia-kan).
Sekarang, kita menuju kata SINERGI. Sinergi, n, kerja sama antara orang atau organisasi yang jumlah produksinya lebih besar dibandingkan dengan jumlah produksi yang diperoleh apabila masing-masing bekerja sendiri-sendiri.
Kata ini hanya bisa berubah menjadi SINERGISME. Sinergisme, n, hubungan yang ada antara dua parameter atau lebih.
Seperti saya katakan, dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer kata Sinergis ini hanya bisa berubah bentuk menjadi Sinergisme (sama-sama kata benda). Ia tidak dapat dijadikan bentuk kata lainnya. Jadi, nggak mungkin juga ia bisa berubah menjadi "Sinergitas".. 
Nah, mengenai prefiks, sufiks, konfiks dan akhiran -an terhadap kata Sinergi, saya sendiri jujur kurang memahami, apakah kata Sinergi ini boleh ditempelkan "fiks-fiks" tersebut.. (Karena kata sinergi memang tidak umum digunakan. Pun jika digunakan, tidak menggunakan "fiks-fiks" tadi, melainkan berdiri sendiri). So, ada yang bisa membantu lebih jauh tentang kata SINERGI ini?? 
Hari ini cukup sekian.. Jika ada masukan lagi, mohon ditulis saja di tanggapan yaa.. Terima kasih.. Sukses selalu! NiNaGeuLiS |
| |
Tanggapan 8 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
tony kurniawan, 10 September 2009, jam 19:27:32 |
buka kursus bahasa indonesia ya...??? tapi nampaknya sulit masyarakat awam bisa memahami secara benar kata,kalimat, yang bisa malah membuat masyarakat menjadi bingung dengan kata keren tersebut. Apalagi mayarakat di daerah tapal kuda. mungkin "plengsengan" itu kata yang populer di daerah tapal kuda ya?? pengelola web ini coba lebih kreatif meng-koneksi-kan dengan media translate punya google untuk memudahkan penerjemahan english - indonesia atau sebaliknya. atau kalo ada yang EYD juga, biar sama-sama kita belajar. jangan jare e-jare e saja. |
| |
Tanggapan 9 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Redaksi Web, 14 September 2009, jam 16:13:54 |
Rekan Tony, Buat saya pribadi, secara moral tetap harus mengajarkan hal yang benar, meski itu sulit diterima oleh masyarakat awam. Saya hanya berharap, dengan penjelasan saya, masyarakat akan menyadari pentingnya menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Kalau untuk bicara sehari-hari, memang tidak perlu terlalu baku dan EYD sekali lah. Tapi, begitu Anda berhadapan dengan literatur atau diplomasi, maka kita wajib menggunakan bahasa dan ejaan yang baik.. Setidaknya, supaya tidak mempermalukan diri sendiri..
Kalau masyarakat terus-menerus dibiarkan salah kaprah dan keliru dalam penggunaan bahasa, yang celaka ya kelak mereka sendiri. Udah banyak kok contoh pejabat yang malu sendiri, karena mereka tidak bisa berbahasa dengan baik, sehingga ketika sedang berpidato, salah bicara dan ditertawakan orang lain. Ya kita menjaga agar pelaku dan relawan P2KP tidak sampai begitu! Jadi, saya pribadi nggak akan membiarkan saudara-saudara saya sebangsa setanah air tetap berada dalam "ketidaktahuan"nya.
Untuk saat ini, Redaksi cukup sharing ilmu terkait bahasa Indonesia dulu aja yah, nggak melompat langsung ke English. Lha wong bahasa Indonesianya aja masih belum rapi, mosok mau langsung ng-English? Rapikan dulu aja penggunaan "bahasa ibu" kita dulu yaa.. Kecuali kalo Web kita ndilalah ada versi English, dengan berita yang juga harus di-translate ke English, nah, barulah kita memikirkan how to use a good English. 
Tapi, kalau Anda punya kreativitas sampai ke arah sana, monggooo.. Bagi-bagi ilmunya. Nggak dilarang kok.. 
Silakan melanjutkan diskusi. Untuk pembahasan kata selanjutnya, kita tunda dulu yah.. Kemarin sih sempet ada kata yang pengen dibahas, tapi kok ya lupa.. Tunggu besok aja yaa, insya Allah sempet nulisnya..
nuhun ah, NiNaGeuLiS |
| |
Tanggapan 10 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Mila Djamhari, 15 September 2009, jam 13:45:49 |
Mbak Nina dan atau redaksi web bila kita ingin mensosialisasikan penggunaan Bahasa Indonesia dengan benar maka pembahasannya bukan hanya sekedar masalah perbendaharaan bahasanya saja melainkan juga sistematika/aturan dalam penulisannya.
Disatu sisi web mengajarkan kata demi kata dengan benar tetapi dipihak lain web juga melakukan kesalahan dalam sistematika penulisan. Dalam aturan penulisan Bahasa Indonesia bila menggunakan kata-kata dari bahasa asing, daerah, atau kata-kata serapan dari bahasa lain (misal bahasa gaul) maka penulisannya harus miring atau ada dua tanda petik, kemudian diberikan penjelasan artinya dalam Bahasa Indonesia. Penggunaan kata asing diusahakan tidak dilakukan kecuali dianggap perlu sebagai penekanan atau tidak ada padanan kata di Bahasa Indonesia yang tepat.
Mari kita perhatikan tulisan mbak Nina yang terakhir, ada kata-kata asing apa saja yang sebenarnya ada padanan dalam Bahasa Indonesia atau tidak perlu untuk ditulis; - kata "sharing" bisa diganti dengan berbagi - kaja aja harusnya saja - kata nggak harusnya tidak - kata lha wong harusnya dibuang karena selain bahasa asing/daerah juga kata sandang yang tidak ada perlu dalam konteks kalimatnya - kata mosok harusnya masak atau mengapa - kata ndilalah, selain bukan Bahasa Indonesia juga kata sandang yang tidak perlu karena tanpa kata tersebut pun tidak mengurangi pesan yang akan disampaikan, dengan kata lain pemborosan kata. - kata nah juga sama seperti di atas pemborosan kata - kata monggo, sempet, sih, dan pengen
Sering tanpa disadari dalam berbahasa kita melakukan pemborosan kata, menggunakan kata sandang yang tidak perlu karena memang tidak dibenarkan apalagi bila digunakan dalam situasi resmi. Tertulis: Jadi, saya pribadi nggak akan membiarkan saudara-saudara saya sebangsa setanah air tetap berada dalam "ketidaktahuan"nya. Harusnya: Saya pribadi tidak akan membiarkan saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air berada dalam "ketidaktahuan"nya.
Tertulis: Tapi, kalau Anda punya kreativitas sampai ke arah sana... Harusnya: Kalau anda punya kreativitas ke arah sana....
Selamat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
|
| |
Tanggapan 11 |
|
Re: Surat Cinta dari Redaksi
Jeany Lisdiani, 16 September 2009, jam 20:17:34 |
ah, Teh Nina keren.... masih ada perempuan cantik yang pintar EYD. ajarin saya, Teh. Jangan bosan-bosan juga memberi masukan membangun untuk tulisan-tulisan saya dimedia warga BKM Motekar, Limbangansari, Cianjur, Jawa Barat. Saya perlu belajar banyak. |
| |
|
| |
|
|
 |