Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Forum
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeForumManajemen KeuanganPerhitungan Kolektibitas
Perhitungan Kolektibitas 
Rama PM1, 9 Juli 2010, jam 14:35:29
Salam MK

Temen-temen, kita ramaikan lagi Yuk .... Forum MK kita

Saya jadi ragu dengan klasifikasi kolektibilitas yang saya buat, kasusnya seperti ini :

KSM Bandungrejo I meminjam ke UPK Mranggen Makmur bulan Januari 2010, bulan Februari 2010 KSM membayar angsuran pertama Rp 300.000 (memang angsuran per bulannya Rp 300.000). Bulan Maret belum bisa membayar, bulan April 2010 hanya mampu membayar sebesar Rp 300.000., demikian pula dengan bulan Mei 2010 hanya mampu membayar Rp 300.000, bulan Juni membayar lagi Rp 300.000.

Pertanyaannya : Berapa lama KSM Bandungrejo menunggak, dan masuk kolektibiltas berapa.(Bulan Juli ini saya akan buat kolektibiltas untuk bulan Juni 2010

Kalau saya : karena tunggakkannya sebesar Rp 300.000 (bulan Maret) maka saya hitung menunggak 1 bulan sehingga masuk kolektibilitas 2 (dalam perhaitian khusus)

Gimana temen-temen, bisa membantu ..... !!!!

[Kirim tanggapan | Kirim pesan baru]



Tanggapan 1
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
LUKMAN SAHRIL, 9 Juli 2010, jam 15:34:23
kalo menurut saya sih dia masih 1 bulan menunggak dgn nilai tunggakn 300rb. jadi masuk kolek 2
Tanggapan 2
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
Rama PM1, 9 Juli 2010, jam 16:02:54
Thanks Mas Lukman ......

Karena saya mendasarkan lamanya tunggakan sebagai berikut :

1. Bila belum jatuh tempo : Lama tunggakan dihitung dengan membagi jumlah tunggakan dengan besarnya angsuran setiap kaili angsuran (jadi kalau kasus di atas Rp 300.000 : 300.000 menjadi 1 kali tunggakkan)

2. Kalau udah melewati jatuh tempo: Lama tunggakan dihitung sesuai dengan lama bulan/kali nunggaknya, misalnya menugggak sebesar Rp 100.000, 2 hari saja setelah Tgl jatuh tempo kita hitung 1 kali tunggakkan, dan apabila menunggak 32 hari kita hitung 2 kali tunggakan dst-nya (walaupun jumlahnya Rp 100.000)

Namun ada beberapa temen yang berpendapat : karena yang tertunggak adalah bulan Maret, maka dihitung Maret, april, Mei dan Juni atau 4 bulan (pembayaran angsuran setelah bulan maret adalah membayar bulan yang bersangkutan), sehingga bulan Maret belum terbayar dan masuk kolektibiltas 3

Yang benar mana .... soalnya kita pemberdayaan ... bukan Profit oriented (Per-Bankan misalnya, atau rentenir)

Ada yang punya pendapat lain .... ?
Tanggapan 3
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
Rama PM1, 12 Juli 2010, jam 12:14:04
Hallo temen-temen TA MK , saya dibantu ..... masuk kolektibiltas mana ya KSM bandungrejo ... Pak Kus (Kalimantan), Mas Adi (Jatim) ... dan temen-temen yang lain, saya menunggu kejelasan

Tanks before
Tanggapan 4
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
achmad fauzi , 12 Juli 2010, jam 17:13:55
Yth. Rama PM1 & Lukman sahril.

Yuukkk... Ramaikan forum kita.. yyuukkkkk.....

Terima kasih atas “pancingan” diskusi kita tentang kolektibilitas, kami ingin berpendapat, sekedar urun rembug di mimbar kita ini.. bahwa menurut kami :

1. Pertama-tama yang harus dipahami adalah sistem pengakuan angsuran yang berlaku, dimana jumlah angsuran diakui untuk menutup kewajiban pada bulan sebelumnya, begitu seterusnya pada bulan-bulan berikutnya. contoh : angsuran ke-1 akan dibayar pada awal bulan ke-2, angusran ke-2 dibayar awak bulan ke-3 begitu seterusnya..
2. Jika awal bulan ke-3 tidak bisa membayar untuk angsuran ke-2 maka menjadi tunggakan dan KSM tersebut masuk kolektibilitas 2 (tunggakan 1-3 bulan)
3. Jika awal bulan ke-4 KSM tersebut membayar angsuran maka diakui sebagai pembayaran tunggakan bulan ke-2 . Dengan demikian KSM tersebut tetap masuk kolektibiltas 2 (karena mengandung tunggakan 1-3 bulan), begitu seterusnya...
4. Jika sampai dengan jatuh tempo pinjaman dibulan ke-10 (misal jangka waktu pinjaman 10 bulan) dan KSM yang bersangkutan belum juga melunasi pinjaman maka KSM tersebut akan masuk ke kolektibilas sesuai ketentuan yang ada, yaitu :
a. Kolektibilitas 2 (perlu perhatian) jika peminjam/KSM menunggak kurang dari 3 bulan/kali angsuran
b. Kolektibilitas 3 (kurang lancar) jika peminjam/KSM menunggak 3 – 6 bulan/kali angsuran
c. Kolektibilitas 4 (diragukan) jika peminjam/KSM menunggak > 6-9 bulan/kali angsuran
d. Kolektibilitas 5 (Macet) jika peminjam menunggak > 9 bulan/kali angsuran.
termasuk jika misalnya jumlah angsuran perbulan 300 ribu, namun hanya diangsur 100 ribu oleh KSM tersebut (belum melunasi pinjaman kelompok/KSM), maka ketentuan pada point 4 juga berlaku.. artinya KSM tersebut akan tetap berada di kolektibilitas terakhir, tidak bisa kembali ke kolektibilitas yang lebih rendah..

Demikian urun rembug kami, semoga bisa membantu..


Tim MK

Tanggapan 5
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
bocah mumet, 12 Juli 2010, jam 18:16:09
Untuk tunggakan sepakat masuk ke kolekt 2 krn emang baru nunggak 1 kali.
tapi stelah jatuh tempo beda......
Berapapun nilai tunggakannya kl sudah jatuh tempo harusnya masuk kolekt 5. logikanya kemungkinan tidak tertagihnya 100 %
Mudah2an teman2 memahami tujuan dibuatnya kolekt 1 s/d 5 yang tdk lain adalah untuk menghitung nilai resiko pinjaman.
Hanya saja karena akan membenani biaya terus pada gak mau buat sesuai aturan....
Terus ngapain buat perhitungan kolekt kalau gt......
Kalau tingkat resiko kt buat berdasarkan prosentase dari laba, mending perhitungan kolektnya gak usah dminta buat saja karena gak ada gunanya...
gitu bro ...
atau pada buka buku akuntansi lagi lah terutama yang bisa bikin kebijakan

Piss !...
ha..ha..ha...
Tanggapan 6
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
ortega 78, 12 Juli 2010, jam 21:07:40
UPK bukan bank bro... yang selalu menghitung bunga berbunga, jadi perhitungan mas rama menurut saya dah benar. Tetap nunggak 1 bln dan masuk kolektibilitas 2. kasihan UPK nya kalau kita catat seperti bank bisa-bisa biaya CRK nya tinggi. ha..ha..ha...senangnya...
Tanggapan 7
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
shiddieqy , 13 Juli 2010, jam 12:10:58
menurut sy perhitungan mas rama sudah benar karena dari kasus yg di sebutkan tunggakan masih 1 bln jd masuk dalam kolektibilitas 2 (bila peminjam menunggak kurang dr 3 bln atw 3 kali angsuran)
Tanggapan 8
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
Rama PM1, 13 Juli 2010, jam 12:20:46
Trims, temen-temen atas tanggapannya. Yang jelas saya melemparkan permasalahan ini, karena wilayah dampingan kita sangat banyak, sementara di wilayah kami saja ada perbedaan pendapat tentang hal itu. Sehingga, memungkinkan laporan yang berbeda, khususnya yang terkait dengan LAR dan PAR atau RR. Kalau ini berbeda, keputusan yang diambil oleh KMP atau WB yang didasarkan atas data yang kita kirim, akan merugikan salah satu wilayah yang kita dampingi. Dan kalau ini terjadi, kita ikut salah.

Sukses selalu temen-temen, Amin.

Beli Wayan dan Mas Afif (Jabar), mas Yusrizal, bu Endang (yogja) dan temen-temen yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu..... gimana khabarnya nieh .... saya butuh masukan.

Untuk Mas atau Bocah Mumet ... tolong saya diberi masukan tentang buku (refrensi) yang terkait dengan hal seperti ini (judul buku dan karangan siapa). Sekali lagi ingat kita pemberdayaan .... sifatnya humanis ... bukan pemaksaan, kalau per-Bank-an ada jaminannya dan bisa dipaksakan

Sekali lagi selamat bekerja dan sukses selalu, amin
Tanggapan 9
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
bocah mumet, 13 Juli 2010, jam 12:18:34
gak ada hubnya dengan bunga dong teman.
Walaupun bkn bank tetapi UPK juga bukan lembaga hibah, shgga pgn tetap berlanjut ...
bgini kl menurut pndpt sy...
kolekt adalah cara menghitung CRK agar diketahui dan dsiapkan dana jika trjd kemungkinan terburuknya yaitu tidak tertagih.
Kl tidak ada cadangan dan macetnya banyak sp yang mau bayar bro...
Akan sangat tidak real kl di neraca tercatat piutang KSM yang masih besar tetapi ternyata banyak yang macet dan tidak bs ditagih, bs diartikan piutang KSMnya gak real krn tidak bisa ditagih lg..
Selain itu akan lebih kasihan jika UPK merasa punya laba tapi sebenarnya tidak. UPK senarnya sdh pailit tp tdak diketahui dr awal , bagamnpun kita kan berharap agar UPK tetap exis....
Justru krn kt tdk bisa memaksakan mereka berarti kt harus siapkan cadangan untuk mereka yang bnr2 tidak bisa byr...
Lebih baik kita tutup pinjaman orang miskin yang macet dan benar2 tdk bs byr drpd sekedar memupuk laba ...
Kecuali kl yang macet2 mau dibiarin aja menunggu adanya kebijakan penghapusan...
gt bro.....

Tmn2 bs buka google kmdian tulis Piutang tak tertagih atau cadangan resiko pinjaman , disitu banyak literatur yg bs di baca..

piss ! senangnya...
Tanggapan 10
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
Rama PM1, 13 Juli 2010, jam 13:37:49
Sukses selalu dan salam MK

Trims ... Mas/Bocah Mumet, pinginnya sih saya Instan nggak harus nyari-nyari di goegle ... (kalau bisa sih diberitahu judul materi yang dibahas di goedle yang terkait dengan kolektibiltas yang saya maksud di atas).

Kalau masalah pembentukan CRK sih saya sepakat ... PERLU. Hanya, setahu saya di PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), ada 2 metode yang dapat digunakan untuk penghapusan Piutang : Yaitu metode Langsung dan metode tidak langsung.

Metode langsung tidak perlu membentuk cadangan terlebih dahulu, ketika ada yang tidak tertagih ... langsung dihapuskan pada saat itu juga. Tapi metode ini ada kelemahannya, yaitu tidak bisa kita kaitkan langsung antara kejadian piutang ("waktu terjadinya piutang") dengan Resiko yang dibebankan atas tidak tertagihnya piutang.

Jadi konsep CRK sebenarnya adalah mengalokasikan kemungkinan resiko tidak tertagihnya piutang pada waktu-waktu yang memanfaatkannya (memperoleh hasilnya), didalam konsep akuntansi kita pernah mendengar Konsep Menandingkan antara Pendapatand dengan Beban/Biaya.

Jadi konsep utamanya ... bukan untuk menutup piutang yang tak tertagih, karena ketika atau pada saat kita memberi pinjaman, pada saat itu juga sudah ada resiko (beban) yang harus kita antispasi.

Semoga bermanfaat, amin

Sukses selalu, amin
Tanggapan 11
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
bocah mumet, 13 Juli 2010, jam 18:36:05
Sepakat bro ini ada tambahan sedikit moga berguna bagi teman2 yang belum tahu :
1. Taksiran Jumlah Kerugian Piutang
Jumlah piutang yang disajikan dalam neraca hendaknya menunjukkan jumlah bersih yang diperkirakan dapat direalisir (Net realizable value). Untuk itu harus dilakukan prediksi terhadap jumlah piutang yang mungkin tidak akan tertagih. Piutang yang tidak tertagih diakui sebagai kerugian piutang.
Untuk menentukan besarnya piutang yang wajar perlu dibentuk cadangan penghapusan piutang (Allowance for Bad Debt)
Ada 3 cara untuk menaksir besarnya cadangan penghapusan piutang:
- Menggunakan analisis umur piutang (Aging Schedule)
- Taksiran dari saldo akhir piutang di Neraca ( yang kita pakai sekarang )
- Taksiran dari jumlah penjualan kredit selama satu periode
2. Pengakuan dan Pencatatan Kerugian Piutang:
Ada 2 cara
- Metode Langsung (Direct Write off), kerugian piutang diakui dan dicatat ketika debitur sudah tidak mungkin lagi membayar utangnya
- Metode Cadangan (Allowance for Uncollectible Method), menentukan kerugian piutang pada tanggal laporan keuangan dengan memperkirakan jumlah tertentu yang tidak bisa ditagih.
Semoga berguna !
Jangan lupa sampaikan ke masyarakat bahwa piutang yang dihapus dengan CRK bukan berarti lunas dan tetap ditagih. Soal cara membukukannya bisa kita bahas bersama lagi.

Sekarang yang paling penting adalah harus segera ada persamaan persepsi sehingga penilaian kinerja terutama RLFnya akan sama di semua wilayah dampingan.

Mari kita gunakan forum ini sebagai sarana saling mengisi
Selamat berjuang …..

Tetap semangat ! manis kan?...
Tanggapan 12
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
ngurah durya, 14 Juli 2010, jam 0:47:11
Ikut ninmbrung
Diskusinya jadi gayeng...

Selalu akan muncul diskusi karena wilayah "Akuntansi Manajemen" seperti perhitungan resiko, performance indicator, tidak ada standartnya. Sebaliknya disisi lain wilayah "Akuntansi Keuangan" seperti bagaimana menghapus buku, metode penyusutan aktiva, perhitungan persediaan, ada standartnya, lebih jarang dibicarakan, karena keputusan politisnya lebih cenderung akan diterima karena mengikat.

Intinya proses pemilihan suatu metode di wilayah Akuntansi Keuangan telah melalui proses politis, dan menghasilkan standart, sehingga diharapkan tidak terjadi perbedaan penafsiran atas Laporan Keuangan, sehingga diharapkan "teori" SFAC No.1, that the" Financial Reporting is Usefull" dapat dibuktikan/terjaga.

sedangkan proses politis untuk menentukan "standart" di wilayah Akuntansi Manajemen, khususnya di P2KP, biasanya dikemukakan di EGM dan kemudian disepakati bersama, tentunya "standart" tersebut diharapkan sesuai dengan Nafas P2KP. Artinya kesepakatan yang dibangun di EGM memang penting untuk terus diperkuat dengan tetap merespon kebutuhan lapangan.

terimakasih

Ngurah Durya
USK MK
KMP PNPM MP
Tanggapan 13
 
Re: Perhitungan Kolektibitas
Rama PM1, 14 Juli 2010, jam 8:12:56
Salam MK

Trims temen-temen .. mas Lukman, mas Fauzi, bocah Mumet, mas Ortega, mas Shiddieqy dan beli Ngurah ... dan yang lainnya ... atas pencerahannya, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin

Hanya saja, kami belum dapat jawaban yang pasti, saya sepakat dengan mas Fauzi, tetapi masih ada beberapa temen yang berpendapat lain :

1. KSM Bandungrejo menuggak 1 bulan, sehingga masuk kolek 2, atau

2. KSM Bandungrejo menunggak > 4 bulan sehingga masuk kolek 3, atau

Semoga sukses, selalu, amin


Kembali ke atas | Kirim tanggapan | Kirim pesan baru
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 207, akses halaman: 336,
pengunjung online: 155, waktu akses: 0,043 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank