Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Forum
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeForumMimbar bebasTANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN 
Hendra Widjayakusuma, 24 Desember 2010, jam 18:08:46
MENGKRITISI DAN MEMPERTANYAKAN KODE ETIK JURNALISTIK DAN KEAKURATAN PEMBERITAAN (WARTA) BADAI FKA BKM, SF GUGAT KORKOT,
Tanggapan atas pemberitaan diwarta p2kp.org dan dikritisi oleh : Hendra Widjayakusuma.,Spd.,ST


Pertama membaca warta “Badai FKA BKM, SF Gugat Korkot”, cukup menggangu saya sebagai salah satu alumni fasilitator teknik di Kecamatan Bojong Gede, setelah dua tahun memfasilitasi kecamatan tersebut. Apa yang tertulis semata hanya opini sebagian pihak yang tidak bertanggung jawab. Berikut ini beberapa hal yang saya kritisi perihal warta tersebut yang saya nilai tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan mengandung unsur kebohongan publik. Hal tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Dari sisi Judul Badai FKA, sebetulnya bukan badai lebih tepatnya sikap kritis dari FKA BKM Bojong Gede menyikapi arogansi dari senior fasilitator (SF) dan kewenangan tak terbatas faskel CD yang di back up wartawan p2kp (penulis warta Badai FKA BKM, SF Gugat Korkot) –tindakan tandensius dan kolusi. Sehingga memperkeruh suasana. Ditambah lagi ketidakakuratan konten, topik yang diberitakan dengan headline pemberitaan. (maaf)

2. Keputusan Korkot 19 November 2010, yang didasarkan surat dari FKA BKM tersebut merupakan satu-satunya bukti tertulis yang berani menyatakan sikap secara terbuka atas metode atau cara yang dilakukan oleh seorang SF terhadap relawan, yang mereka anggap tidak menghargai dan tidak mewakili sikap dari seorang fasilitator (apakah layak fasilitator bersikap seperti bos terhadap anak buah - relawan). Sebetulnya banyak sudah pengaduan dari relawan, BKM, fasilitator (bahkan teman satu timnya), yang disampaikan secara lisan pada korkot, hanya saja belum ada yang berani menyampaikan secara tertulis.

3. “ .... menjatuhkan sanksi berat, yakni menurunkan “pangkat” Khairun dari yang semula SF menjadi Faskel, bahkan dipindahkan ke TF 15 ”

Tanggapan : kata-kata ini sungguh mempermalukan citra PNPM, kalau mau cari jabatan, pangkat, penghargaan bukan di PNPM/p2kp jadi saja karyawan swasta, lagi pula di dalam kontrak sudah di jelaskan bahwa setiap personil PNPM, korkot, Askot, Senior Faskel, dan Faskel siap untuk ditugaskan dimana pun tanpa terkecuali. Apa yang salah ??

4. Khairun menghadap pihak OC-4 didampingi PK BKM Amanah Mandiri Dra. Tirza Sarendeng (sejak kapan jadi Dra ??), Koordinator PK BKM Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur Puji (kenapa membawa BKM di luar Bojong Gede, bukankah permasalahannya di Bojong Gede?? Apa mungkin di bawa yang pro dengan beliau saja – jelas tidak seimbang informasi yang di peroleh OC)

Serta relawan Desa Bojong Baru, antara lain Tirza (yang ini BKM pa, bukan relawan), Henny (yang ini relawan yang pernah bermasalah karena usulan di tolak, karena penerima manfaat tidak jelas dan status lahan tidak jelas, dan saat Bp Khairun masuk usulan dikabulkan, sampai sekarang pun saya masih tidak setuju, efeknya menjadi sekutunya juga – lagi lagi informasi tidak seimbang) dan Mulyadi (kalau ini BKM yang baru diangkat beberapa bulan lalu, artinya belum paham pahit getirnya masalah di Bojong Baru, lagi pula dengan menunjuk langsung tidak melalui pemilu BKM-bagaimana relevansi, respentatif dan legalitas sebagai narasumber??? ).

5. “mekanisme dan prosedur yang dilakukan Korkot dalam mengambil sebuah keputusan penting atas kariernya, yang justru dilakukan ketika Khairun berkomitmen membangun dan memperbaiki progres lapang yang dinilainya terkena “penyakit berat” akibat dampingan SF sebelumnya”.

Tanggapan : Berat banget bahasanya, sejak kapan Bojong Gede kena penyakit???, masalahnya datang saat SF masuk dan bukankan istri bapa wartawan ini adalah Fasilitator CD yang memfasilitasi semenjak awal masuk PNPM, bahkan sempat jadi SF juga, tanyalah dengan istri bapa bagaimana cara memberdayakan masyarakat Bojong Gede sampai seperti ini, bukankah tugas utama faskel CD (lihat lagi jobs description bung),

Lihat progress Bojong Gede sebelum masuk SF baru apakah progressnya buruk, jawaban Korkot dan Asskot pasti tidak, dan saat SF masuk kondisi menjadi berpenyakit (kalo mau pake kata-kata itu), maka menurut saya wajar Korkot bertindak tegas, untuk menyelamatkan Bojong Gede.

6. Kalau memang merasa bahwa korkot tidak bijaksana dalam memutuskan masalah, kenapa tidak diklarifikasi terlebih dahulu di Korkot, kenapa langsung ke OC saya yakin korkot tidak seceroboh itu memutuskan masalah, pastinya dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan dan dimusyawarahkan di jajaran askot dan korkot. Lagi pula masalah turun jabatan atau di pindahkan dari satu tim ke tim lainnya, bukankah hal yang biasa, anda di pindah dari tim Ranca Bungur ke tim Bojong Gede kenapa tidak protes dari kapan hari ???

7. ”Dalam kesempatan itu, PK BKM Amanah Mandiri Tirza Sarendeng dan Koordinator Relawan Desa Bojong Baru Henny Darwis turut mengungkapkan kondisi lapangan, peran FKA, termasuk kinerja Faskel Infra dan Ekonomi di wilayahnya”

Tanggapan : Ya Ampuuun pa, Faskel Sosialnya koq ga di sebut seeh??? Ooowh ... mungkin sudah baik ya kinerjanya, padahal dari awal semenjak usul faskel CD (dulu pernah jadi SF juga) minta di bagi desa (saya sendiri tidak tau saat keputusan dibuat) dan Bojong Baru adalah dampingannya beliau .. sampai kondisi seperti ini, mana tanggung jawabnya???

8. “.... Keikutsertaan kami menghadap OC-4 adalah atas kemauan sendiri (kalo keputusan sendiri kenapa ke OC pake mobil pa Kahirun, Ongkoss sendiri aja lah ting..ting!,

“ .... Surat FKA BKM Kecamatan Bojonggede ini kami nilai tidak sah, karena hanya ditandatangani oleh 4 dari 18 anggota FKA, serta tanpa dimusyawarahkan terlebih dulu dengan seluruh anggota.
(RALAT : berdasarkan Berita Acara Pembentukan Anggota FKA BKM tahun 2009 ada sembilan orang yang merupakan perwakilan dari koordinator atau anggota BKM aktif yang ditunjuk berdasarkan kesepakatan pimpinan kolektif masing-masing Desa, khusus untuk Kec.Bojong Gede FKA hanya ada 8 orang karena BKM Bojong Gede tidak ada, kondisi saat itu sedang pemilu ulang BKM, sehingga sekalipun surat di tanda tangani 4 BKM, saya pikir hasilnya seimbang .. karena jika dihadirkan semua pimpinan kolektif, saya yakin anda akan malu sendiri karena prediksi saya hasilnya sama saja)

9. “ ... Yaitu tentang pola dampingan SF, dan merasa ujung-ujungnya bisa merepotkan mereka.”

Tanggapan : Dari jamannya jadi relawan juga sudah repot, kalo TIDAK mau repot, mana mungkin BKM dan Relawan masih bertahan (salut buat BKM, dan relawan yang masih bertahan dan melanjutkan nilai2 universal)

“Ketika dampingan masih oleh SF lama, Faskel Infra dan Faskel Ekonomi, banyak hal-hal penting terlewati, tapi dibiarkan. Bahkan prosesnya termudahkan. Misalnya, tentang disetujuinya pembangunan Posyandu di lingkungan perumahan. Secara proses pembentukan KSM Lingkungan sebetulnya tidak dilakukan dengan benar, karena tidak pernah dilakukan MP2K dan seterusnya. Tahu-tahu BLM cair. Selain itu juga pelaksanaan pekerjaan kurang diawasi oleh Faskel”

Tanggapan : Mana yang terlewati dan mana yang dimudahkan, sekalipun dimudahkan siapa yang dimudahkan ?? apa untungnya memudahkan proses untuk fasilitator ??? kegiatan pembentukan KSM, MP2K merupakan tugas pokok dari Faskel CD, bu (coba lihat buku pedoman teknis yang warna biru, ukuran setengah HVS), meskipun demikian fasilitator infrastruktur, UPL dan BKM tetap melakukan kegiatan tersebut sekaalipun tanpa faskel CD.

Yang benar itu seperti apa bu?? Yang menentukan benar dan salah siapa?? Mana mungkin di dunia ini ada faskel yang selalu benar ??

Pembentukan KSM Posyandu dilakukan di Pos Ronda di Belakang rumah Bu Effendi (lupa euy tanggalnya, coba liat lagi BA pembentukan KSM, ada di proposal) dan BKMnya hanya Bu Effendi, sedangkan anda tidak hadir dan mungkin belum aktif. Sedangkan MP2K dilakukan di Musollah yang di depannya ada lapangan Tenis, Kemudian selesai sosialisai massal di kantor desa, kemudian di posyandunya sendiri pernah diadakan rapat, dan di rumah KSM (rmh bp qori dan Bp RW-nya juga ada), hanya memang anda Tidak Hadir bu, mangkanya tidak tau. Lagi pula yang tanda tangan dan menandatangani skala prioritas (RAPPUK), anda termasuk satu dari 13 anggota BKM, kenapa anda pertanyakan kembali ??

Posyandu di perumahan, jelas tidak diperbolehkan tapi bagaimana dengan penerima manfaat, warga kampung sekitar perumahan yang membutuhkannya. Dan ketika akan dilakukan pembangunan di wilayah perkampungan mereka kesulitan mendapatkan hibah tanah, sehingga dibangun di lokasi tersebut, tanya Ibu Effendi BKM yang lebih tau masalah posyandu.

10. .... Lebih lanjut, menurut dia, yang mengherankan adalah sertifikasi bagi KSM infra. “Bisa dikeluarkan nilainya oleh Faskel tanpa diketahui dan ditandatangani BAPP-nya oleh BKM, dan tanpa adanya LPJ dari KSM yang bersangkutan. Hal ini terjadi pada TA 2009, mulai dari BLM tahap 2 dan 3”

Tanggapan : Haduh, naon deui yang dimaksud nilai sertifikasi ?? kayak raport aja ada nilainya. Yang ada di dalam format sertifikasi itu nilai BLM, nilai swadaya, volume rencana, volume realisasi, tingkat kelayakan bangunan (layak, tidak layak, atau layak dengan penyempurnaan), lagi pula untuk sertifikasi itu dilakukan oleh Faskel, UPL, KSM dan BKM. Waktu sertifikasi di posyandu kan ibu sedang tidak cocok dengan KSM dan salah satu anggota BKMnya sehingga ibu tidak hadir ;D, ayolah sedikit berfikiran postif dan jangan membuat barisan sakit hati karena tidak baik untuk ibu sendiri. Masalah LPJ, silahkan ibu koordinasikan setau saya KSM sudah membuat LPJ, permasalahnnya tingkat kelayakan LPJ menjadi sebuah Laporan yang akurat sesuai standar sarjana yang belum selesai (sedangkan anda tau sendiri tingkat pendidikan KSM tidak dapat disama ratakan), bukan tidak ada LPJ .. salah itu (tolong diralat ya pa).

Saya ingat , kemarin itu waktu anda sms saya mempertanyakan LPJ KSM, apa maksudnya untuk laporan ke OC 4. Aneh narasumber koq tidak tau, malah nanya faskelnya untuk menjatuhkan kembali faskel yang telah memberi informasi pada anda.

11. “ ..... Begitu juga dengan Faskel Ekonomi yang dinilai tidak maksimal dan menyebabkan pemanfaatan yang tidak tepat sasaran, sehingga terjadi kemacetan pengembalian oleh anggota KSM. “Ini karena dahulu arahan dari Faskel Ekonomi untuk mengabaikan data PS2. Jadi pemanfaat dana adalah mereka yang sudah berwiraswasta. Bahkan ada info dana pengembalian KSM digunakan oleh UPK di desa lain, tutur Tirza ”

Tanggapan : Apakah yang menjadi takaran untuk seorang fasilitator berkinerja maksimal?? jika tidak didukung oleh masyarakat, relawan, BKM dan Aparatur Desa. Pemanfaatan tidak mengikuti data PS2 karena waktu melakukan PS2 yang didampingi oleh Faskel CD (waktu itu karena pembagian desa), tidak akurat bahkan ada yang tidak masuk daftar PS2 tetap dipaksakan masuk (termasuk anda pinjam juga ke UPK, bahkan Bp Khairun pun tau, kenapa sekarang membuka aib sendiri ??). Sehingga berdasrkan kesapakatan dan koordinasi dengan Askot MK, bersama-sama mencari alternatif lain dengan memperbolehkan peminjaman tidak berdasarkan pada data PS yang ada (tetapi yang masuk data PS lebih di utamakan) melainkan diperbolehkan warga yang sesuai dengan KRITERIA PS (diluar kriteria tidak diperbolehkan) yang belum tercantum dalam data PS-2 untuk dilakukan updating ulang data PS-2. Dan verifikasi peminjaman pun salah satu speciment tandatangan di proposal dan buku rekening anda juga bu, lantas dimana letak kesalahannya. Coba lah anda koreksi diri sendiri sebelum mangkoreksi orang lain, termasuk untuk sang penulis warta mohon diperhatikan kembali penggunaan bahasa dan keabsahan isi.

12. “ ...... keterlibatan Faskel Infra dalam pembuatan papan proyek dan prasasti, yang diduga ada keterlibatan BKM desa lain terlibat dalam pengadaan material bagi KSM. “

Tanggapan : Apakah suatu hal yang haram ketika papan proyek dan pembuatan prasati melibatkan anggota BKM dari desa tetangga, padahal asumsinya sama saja seperti membeli bahan bangunan ke toko yang bukan satu desa !! yang perlu dikritisi adalah apakah ada paksaan dari pihak fasilitator atau dari BKM sendiri mengenai KSM harus membeli material kepada mereka. Dalam Musyawarah KSM biasanya ditawarkan mengenai pembuatan papan proyek, prasasti dan material (mungkin, karena biasanya diserahkan langsung pada KSM), ketika KSM sepakat dan ada beberapa KSM yang tidak sepakat perlakukan dari kami tidak melakukan perbedaan cara memfasilitasinya (perlu bukti cek ke lapangan !!). kalau masih menduga tanpa ada bukti sebaiknya tidak perlu diungkapkan hanya akan memperkeruh suasana saja. Ada bukti mari kita diskusikan bersama ...


13. “ .... Atas kondisi demikian kami menilai betapa sulitnya bagi SF pengganti yang baru empat bulan bertugas (Khairun—Red)”

Tanggapan : Kalau tidak ada masalah untuk apa pemerintah menugaskan senior fasilitator dengan gaji yang tinggi kalau tidak bisa menyelesaikan masalah, jangan jadi fasilitator dong kalo tidak mau ketemu masalah. Jangan seperti telor yang dimasukan dalam panci panas, semakin keras jika bertemu dengan masalah. Jadilah bijih kopi yang mampu berbaur dengan masyarakat (pembelajaran peldas 14 hari).

14. “.... sedikitnya PK BKM se-kecamatan yang terbilang aktif. Per desa rata-rata hanya 3-5 orang dari jumlah total 13 anggota BKM. Demikian juga dengan keberadaan FKA BKM, selama hampir dua tahun terbentuk, hanya 2 - 3 kali mengadakan rapat ”

Tanggapan : Selama anggota BKM masih mau menandatangani berita acara atau apa pun itu, saya rasa BKM tersebut masih terlibat walaupun pasif. Sedangkan rapat hanya 2 -3 kali setahun saya pikir itu kebohongan besar, rapat rutin biasanya satu bulan sekali apalagi ketika di kejar progress pemanfaatan bisa rapat terus tiap malam, sekalipun anggota yang hadir tidak maksimal. Akan tetapi, BKM yang tidak hadir mendapatkan informasi yang berkelanjutan dari setiap rapat. Bagaimana mungkin kita mengharapkan semua angggota BKM hadir di setiap rapatnya, sedangkan mereka adalah relawan yang memiliki kemampuan meluangkan waktu terbatas, kita harus punya toleransi yang wajar, untuk hal-hal demikian sambil mencari alternatif lainnya.

15. “Informasi serupa disampaikan juga oleh Henny Darwis. Menurutnya, yang terjadi di BKM Amanah Mandiri saat pencairan BLM Tahap 1 termin 2, UPL langsung memotong dana BLM bagi delapan KSM, masing-masing sebesar Rp100.000 untuk digunakan biaya pembuatan prasasti. “Pencairan dilakukan pada 12 November 2010, dan dihadiri oleh seluruh Faskel di Tim 11. Sedangkan pemotongan dana BLM oleh UPL untuk biaya pembuatan papan proyek sebesar enampuluh ribu rupiah, dilakukan saat pencairan BLM Tahap 1 termin 1, pada 29 Oktober 2010. Lalu, UPL lainnya (Rusdi) mengakui dihadapan BKM bahwa pembuatan papan proyek dan prasasti dilakukan oleh Faskel Infra,” jelas Henny.

Tanggapan : UPL sama sekali tidak memotong dana BLM, dan KSM membayar papan banner sebelum penyerahan dana BLM sedangkan penyerahan BLM baru dilaksanakan setelah papan banner terpasang di masing-masing lokasi proyek. Artinya masih membutuhkan waktu 2–7 hari sampai pada pemanfaatan. Dana BLM yang diserahkan tidak ada pemotongan sedikit pun, sekalipun ada hal tersebut sudah tercantum dalam RAB masing-masing KSM dan hal tersebut jelas kegunaannya serta di sepakati oleh semua pihak.

Kebohongan besar jika faskel membuat papan proyek di Desa Bojong Baru, tahap 1 termin 2. Adapun kronologis yang benar adalah karena keterbatasan waktu yang dimiliki oleh masing-masing KSM, mereka menyepakati untuk dilakukan pembuatan papan proyek secara masal oleh UPL (tanpa ada paksaan dari pihak mana pun) sekalipun ada KSM yang tidak mau, tidak menjadikan hambatan yang pasti saat kelapangan ada papan proyek. Dan perlu dicatat bahwa fasilitator tidak membuatkan papan proyek melainkan membantu membuat sketsa gambar papan proyek untuk dijadikan banner (saya sendiri yang mendampingi secara langsung).

16. “ ... BKM Jatisari, Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur Puji mengungkapkan peran Khairun sebagai SF di wilayahnya saat itu ....”.
Tanggapan : Saya tidak mau komentar, karena saya sendiri tidak tau kondisi sebenarnya di Desa Bantarsari, bagaimana dengan BKM yang kontra dengan Bp Khairun di Desa Bantarsari apa sudah diminati keterangan ??? kalo yang pro yang dibawa sama saja dengan demo orang bayaran di senayan, layaknya kasus video hot ariel demo pake kaos seragam sama ... cape deeeh

17. “ .... Menurut Khairun, pada Jumat, 19 November 2010, ia dan Faskel CD menginput data Renta di Basecamp Tim 11 sejak pagi”.
Tanggapan : Masih oge ngaggugulung renta .. pekerjaan 3 bulan lalu yang masih belum juga sempurna di mata mereka. Ironi pembelajaran ...

18. Permasalahan FKA saya anggap suatu pembelajaran kearah positif, jika ditanggapi terlalu lebay ... ya jadinya masalahnya akan lebay juga. Akan tetapi disisi lain saya bangga sebagai mantan fasilitator yang memfasilitasi Bojong Gede selama 2 tahun, bersam-sama dan paham betul suka duka di sana. Salut buat FKA Bojong Gede yang mampu secara jantan melakukan kritisi atas permasalahan yang mereka hadapi.

19. “ .... SF Tim 11 yang baru ini dahulu bertugas di Tim 2 dengan wilayah dampingan meliputi Desa Kalisuren, yang bermasalah terkait raibnya dana BLM nyaris Rp200juta akibat ulah salah seorang PK BKM setempat. Kasus ini terjadi beberapa bulan lalu “

Tanggapan : Heran sudah jelas yang bawa raib uang bukan fasilitator, masih juga dipermasalahkan, kalau memang melihat orang yang sudah cacat tidak dapat diperbaiki, sama dengan tidak memberikan kesempatan orang untuk berubah dan belajar dari kesalahan. Apalagi untuk memfasilitasi masyarakat untuk berdaya, apa mampu ... aneh

20. “ .... Inti pembicaraannya adalah soal kinerja Tim Fasilitator, serta kebijakan mutasi dan penurunan jabatan yang dilakukan Korkot Kabupaten Bogor terhadap Khairun,”

Tanggapan : Masalahnya jelas tentang kinerja tim fasilitator, serta kebijakan mutasi dan penurunan jabatan tetapi dari awal sampai pertengahan yang dibicarakan hal teknis yang sesungguhnya hanya bualan semata karena sentimen yang didukung barisan sakit hati tanpa bukti.

PELANGGARAN KODE ETIK JURNALISTIK DAN KEBOHONGAN PUBLIK (WARTA)
Tanggapan atas pemberitaan diwarta p2kp.org dan dikritisi oleh : Hendra Widjayakusuma.,Spd.,ST

Khusus untuk sang penulis, bagaimana anda mempertanggungjawabkan tulisan anda ke meja publik, dan menjadikan kami korban tujuan yang tidak beralaskan.
Sudahkah anda melakukan konfirmasi dengan mantan SF, mantan Faskel Teknik (saya), Faskel Teknik dan Faskel Ekonomi. Sulitkah untuk melakukan klarifikasi terlebih dahulu sebelum membuat wacana yang menyesatkan dan mendeskriditkan beberapa pihak, tidakkah ini cukup menyakitkan untuk tim kami, terutama fasilitator CD yang tidak pernah anda singgung kekurangannya, akan tetapi selalu kami bantu untuk menutupi ?? semoga anda menyadari akan tindakan anda ini.

Saya hanya berharap secepatnya dapat dilakukan klarifikasi terhadap warta tersebut apabila tidak dilakukan, kami sebagai korban mungkin akan menuntut pada jalur yang seharusnya. Kepada pihak tergugat narasumber maupun penulis warta, dan pihak-pihak yang ikut serta dalam kegiatan yang dimaksud. Berikut ini Analisa kami terhadap pelanggaran yang telah terjadi :

1. Tindakan penulis warta Badai FKA BKM, SF Gugat Korkot merupakan tindakan “Power tend to be corrupted'' menggunakan media p2kp.org sebagai kekuatan mendeskriditkan beberapa pihak dalam menyelesaikan masalah. Dengan melakukan tindakan pencemaran nama baik (defamation), penghinaan (insult), fitnah (slander, libel) dan kabar bohong (false news).

2. Penulis warta telah melanggar kode etik jurnalistik, antara lain :
a. Tugas atau kewajiban seorang wartawan adalah mengabdikan diri kepada kesejahteraan umum dengan memberi masyarakat informasi yang memungkinkan masyarakat membuat penilaian terhadap sesuatu masalah yang mereka hadapi. Wartawan tak boleh menyalahgunakan kekuasaan untuk motif pribadi atau tujuan yang tak berdasar. Sedangkan penulis warta ini telah lalai dari tugas dan kewajibannya dan menimbulkan persepsi buruk pada tingkatan Desa-desa di Kecamatan Bojong Gede, tingkat kecamatan Bojong Gede, Kabupaten bahkan bersifat nasional (dengan publikasi melalui situs).

b. Berita yang ditulis tidak berdasarkan fakta melainkan narasumber yang tidak kompeten, dan tidak memiliki kredibilitas atas permasalahan yang dibahas, mencampur adukkan opini dengan berita, tulisan yang ada jelas merugikan orang lain.

c. Penulis warta tandensius dan tidak memiliki integrity dalam penyampaian informasi, berita yang ditulisnya tidak akurat, berat sebelah dan cenderung memihak dan tidak dapat membedakan mana berita dan opini secara jelas dan tegas.

d. Penulis warta pun tidak menghormati hak-hak orang yang terlibat dalam berita yang ditulisnya serta tidak dapat mempertanggungjawab-kan kepada publik bahwa berita itu akurat serta fair. Seharusnya, orang yang dipojokkan oleh sesuatu fakta dalam berita harus diberi hak untuk menjawab.

3. Undang-undang Pers No 40 tahun 1999, yang telah dilanggar sebagai berikut :
a. Penulis warta tidak bersikap independen, berita yang dihasilkan tidak akurat, berimbang, dan beritikad buruk, dalam arti lain memberitakan peristiwa atau fakta tidak sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Tidak berimbang dalam hal ini semua pihak tidak mendapat kesempatan setara. Beritikad buruk dengan sengaja menimbulkan kerugian pihak lain.

b. Penulis tidak menguji informasi secara berimbang serta tidak menerapkan asas praduga tak bersalah dengan melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu dan memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional. Serta cenderung menghakimi pihak tertentu.

c. Pemberitaan yang ada cenderung masuk dalam kategori fitnah (slander, libel) karena tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

d. Menyalahgunakan profesi, untuk kepentingan pribadi dan dapat mempengaruhi independensi warta p2kp.org dalam pemberitaan.

4. Pasal 310 ayat (1) KUHP
“Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana .... “

Dalam hal ini penulis warta melakukan hal tersebut terhadap tim 11 Fasilitator Kab.Bogor, Desa Se-Bojong Gede, Korkot Kabupaten Bogor, BKM Se-Kecamatan Bojong Gede, Relawan serta Masyarakat Se-Bojong Gede.

5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Kebohongan Publik. Dalam Pasal XIV dan XV dijelaskan, kebohongan publik adalah siapa saja yang melakukan perbuatan atau serangkaian perbuatan yang dianggapnya benar, padahal tidak benar menurut publik dan menyebarluaskan pemberitaannya.

6. Pasal 317 KUHP tentang pengaduan fitnah dan pasal 390 KUHP penyiaran kebohongan, baik untuk narasumber maupun penulis warta, dan masih beberapa pasal lagi yang ingin saya sampaikan akan tetapi beberapa butir diatas mungkin dapat dipelajari oleh berbagai pihak untuk tidak menyalahgunakan wewenang dan memberikan keterangan palsu, yang berakibat merugikan dan mendeskreditkan pihak tertentu untuk alasan yang tidak berdasar. Semoga menjadi renungan kita bersama.

Saya berharap semoga warta p2kp.org dapat menerapkan informasi yang berimbang dan mengikuti kaidah dasar jurnalistik, maupun Undang-undang Pers sehingga tidak dengan mudah wartawan kacangan dapat membuat informasi yang dapat membuat keruh suasana. Untuk itu kami menyarankan warta p2kp.org melalui wartawannya untuk menggunakan hak jawab dan hak koreksi terhadap informasi berita yang telah terlanjur dipublikasikan (sesuai dengan UU no.40 tahun 1999 pasal 5).

Jika hak dan kewajiban telah dijalankan berdasarkan undang-undang yang berlaku, maka keseimbangan antara penulis warta dan pembaca warta akan terwujud, karenanya tidak ada lagi pelanggaran hukum, baik secara perdata maupun pidana oleh pelaku jurnalistik.

Kebenaran bisa menjadi pelindung, namun niat baik tidak. Seorang wartawan mungkin tidak bermaksud mencemarkan nama orang, namun jika tulisan itu tidak bisa dibuktikan demikian, niat baik saja tidak bisa melindungi seorang wartawan. Salam Pemberdayaan.

[Topik ini telah ditutup... Kirim tanggapan | Kirim pesan baru]



Tanggapan 1
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
rina suprabowo, 28 Desember 2010, jam 6:38:36

Adalah suatu kebetulan belaka bahwa saya mengenal secara pribadi beberapa orang yang tersebut dalam masalah ini.

Dan suatu kebetulan juga bahwa saya sempat membaca warta tersebut, tak lama setelah dipublikasikan. Jujur, saya sempat 'tercenung' ketika membaca bagian tentang Faskel ekonomi yang bekerja tidak mengikuti PS2.

Tapi terlepas dari soal itu, saya pikir, Hendra telah mengajarkan kepada kita semua cara yang 'cerdas' untuk memahami dan menyelesaikan masalah.

Pak Heru, wartawan yang menuliskan warta itu, ditunggu penjelasannya.

Salam Pemberdayaan (juga),

Rina Suprabowo
Tanggapan 2
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Redaksi Web, 28 Desember 2010, jam 10:57:46
@ Rekan Hendra:
Terima kasih telah menggunakan hak jawab Anda, Rekan Hendra. Kami mencatat masukan dan kritik dari Rekan Hendra untuk perbaikan WARTA ke depannya agar website kita semakin lekat sebagai media antarpelaku P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan.

Kami tegaskan dalam hal ini kami tidak berpihak pada kubu siapapun. Jika Rekan Hendra dan rekan-rekan lainnya merasa bahwa suatu pemberitaan dirasa tidak benar atau keliru dalam penulisannya, silakan memberi hak jawab dan klarifikasi di Mimbar ini, atau jika berkenan silakan mengirimkan tulisan berita tanggapan untuk ditayangkan pada halaman WARTA di website ini.

Kami membuka seluas-luasnya kesempatan berekspresi serta menyuarakan aspirasi dan kebenaran dari rekan-rekan pelaku dan relawan PNPM Mandiri Perkotaan, sesuai dengan visi dan misi website.

Di sisi lain, mengingat kaidah dan etika jurnalistik, kami tegas tidak memperkenankan pemberitaan yang menyerang kehidupan pribadi seseorang atau ada kecenderungan pembunuhan karakter. Kami semaksimal mungkin menyensor kalimat-kalimat yang tendensius dan ofensif, karena tujuan suatu pemberitaan bukanlah menjatuhkan satu pihak melainkan memotivasi dan sebagai pembelajaran agar selalu ada improvement serta perbaikan dalam kinerja rekan-rekan ke depannya.

Mengenai pemberitaan yang ditulis oleh kontributor, kami menilai tulisan tersebut dibuat berdasarkan event yang ada, yakni ketika narasumber menghadap ke Kantor OC (berita pertama) dan ketika narasumber menghadap ke Satker Provinsi (berita kedua). Berita tersebut mengutip kegiatan yang berlangsung dan sifatnya bukan investigatif. Maka dari itu kami meyakini dalam hal ini tidak ada tujuan memfitnah atau menjatuhkan satu pihak tertentu, melainkan hanya "selayang pandang" atau melaporkan kegiatan yang sedang terjadi.

Meski demikian, jika ada kekurangan narasumber (dalam hal ini belum ada statement dari Korkot atau Tim 11 sendiri), silakan narasumber bersangkutan menggunakan hak jawab, dan kami harapkan jawaban disampaikan secara objektif, jujur, serta tidak tendensius. Jadi pada intinya, kami setuju dengan Rekan Hendra bahwa pemberitaan harus objektif, tidak tendensius dan tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu.

Terima kasih atas perhatian rekan-rekan semua. Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran positif bagi kita semua, karena kami tidak memiliki tujuan lain, selain menyuarakan aspirasi dan kebenaran dari rekan-rekan semua.

Bravo PNPM Mandiri Perkotaan!
Bravo Pelaku Lapangan PNPM Mandiri Perkotaan!


@ Bu Rina:
Mengenai Faskel tidak mengikuti PS2, sudah diklarifikasi di berita kedua, Bu. Tepatnya pada paragraf terakhir:

"Pada kesempatan terpisah, salah seorang Faskel Ekonomi Tim 11 Rio membantah pernyataan dirinya pernah memberikan arahan untuk mengabaikan data PS2 bagi KSM, seperti yang diberitakan di tulisan sebelumnya (Baca: Badai FKA BKM, SF Gugat Korkot). Ia juga menegaskan dirinya telah memperbaiki kekurangannya dalam bertugas, antara lain dengan melakukan pembuatan berita acara bagi peminjam anggota KSM yang tidak terdata di PS2." Baca: PPK P2KP Jabar: Korkot Melampaui Wewenang

Mungkin di berita selanjutnya ada klarifikasi lebih lanjut, Bu. Ditunggu saja yaa..


Nuhun ah,
Redaksi Web PNPM Mandiri Perkotaan
Tanggapan 3
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
rina suprabowo, 28 Desember 2010, jam 15:48:23
Redaksi Web Yth,

Saya setuju dengan sebagian besar pernyataan dari Redaksi web. Itu sebabnya saya katakan, Hendra memilih 'cara yang cerdas' untuk menanggapi masalah ini (dengan menggunakan hak jawabnya), meski di sana sini tampak agak emosial juga (maaf Hendra).

Apapun, saya ikut berharap masalah ini segera selesai dengan cara yang baik.

Salam,
Rina

Tanggapan 4
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Hendra Widjayakusuma, 28 Desember 2010, jam 16:53:21
@redaksi: memang bener sih atas adauan pengadu ke oc. lalu bgmn tulisan yg tgl 24 ttng tanggapan ppk namun disitu diselipkan brita u mengangkat istrinya yg bekerja saat idul adha dan tulisan yg menyudutkan faskel lain yg libur saat idul adha? bukankah itu usaha u menyudutkan orang lain. saran saya seharusnya warta p2kp tdk digunakan u kepentingan pribadi. dan redaksi seharusnya lebih netral
Tanggapan 5
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Redaksi P2KP, 28 Desember 2010, jam 17:12:37
@ Rekan Hendra:
Dalam hal ini redaksi tetap netral kok, Pak. Kalau kami tidak netral, bukan media dong namanya, Pak.. manis kan?...

Menurut kami, kalimat mengenai "hari libur (Idul Adha) tetap masuk" tersebut dituturkan sendiri oleh narasumber, bukan pendapat pribadi kontributor. Narasumber mempunyai hak berbicara apa saja, meski pada saat editing, kalimat-kalimat narasumber telah diperhalus oleh Redaksi (mengingat editing adalah hak redaksi, tanpa mengubah maksud kalimat, pun tanpa mengabaikan kaidah dan etika jurnalistik, tentunya). Dan mohon diingat bahwa tulisan tersebut adalah berita, maka dari itu tidak ada sedikitpun opini penulis/kontributor atau redaksi di dalamnya.

Sekali lagi, jika memang masih dirasa keliru, Rekan Hendra masih punya hak jawab kok. Monggo digunakan..

Sejujurnya, kami juga menunggu-nunggu tanggapan dari Korkot bersangkutan, dari personel Tim 11, TL OC-4 Jawa Barat Gunawan, TA PPM KMP ICDD Deni Senjaya, bahkan tanggapan selanjutnya dari Satker PBL bersangkutan. Kami berharap permasalahan apapun di lapangan dapat diselesaikan dengan baik dan sarat pembelajaran, karena semua ini adalah untuk kepentingan masyarakat, khususnya para pemanfaat PNPM Mandiri Perkotaan, bukan untuk pihak-pihak tertentu.

Terima kasih.
Tanggapan 6
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Hendra Widjayakusuma, SPd., ST, 28 Desember 2010, jam 22:18:34
MASIH MEMPERTANYAKAN NILAI-NILAI LUHUR KEMANUSIAN PENULIS,
(WARTA) BADAI FKA BKM, SF GUGAT KORKOT

Sebelumnya terimakasih telah di berikan ruang dan kesempatan untuk menuliskan tanggapan (hak jawab) pada halaman WARTA, dengan tidak mengurangi rasa hormat kami tidak berkenan melakukan klarifikasi dengan menulis artikel pada WARTA tersebut. Hak jawab yang kami maksud adalah klarifikasi langsung atau statment dari pihak penulis yang menyatakan bahwa tulisan yang dimuat tersebut hanya berdasarkan sumber sepihak dan belum diklarifikasi dengan pihak lainnya yang terkait, salah satunya saya sebagai korban.

Kami berfikir jika kami melakukan klarifikasi dengan menuliskan warta, sama saja melakukan penyangkalan atas apa yang tidak pernah kami perbuat. Kami berharap dari pihak penulis sendiri yang melakukan klarifikasi dilapangan atas apa yang terlanjur di publikasikan. Dan meminta maaf kepada keluarga besar Kecamatan Bojong Gede, karena menurut kami banyak BKM, UPL, UPS, UPK, dan aparatur Desa/Kecamatan tersakiti dan terluka atas pemberitaan tersebut. Apa jadinya jika mereka secara masal meninggalkan PNPM?? Setelah berjuang dengan jiwa kerelawannya luntur akibat fitnah yang mereka tidak berbuat. Bukankah dari pihak Korkot dan OC telah melakukan klarifikasi dan telah menyimpulkan hasilnya secara objective. Lantas menunggu apa lagi dari pihak redaksi ?? kami pun menunggu klarifikasi dari pihak satker untuk melakukan uji materi WARTA.

Selain itu penulis WARTA pun ada dan mengetahui setiap detiknya klarifikasi yang dilakukan secara maraton, kenapa tidak menuliskan WARTA lanjutanya ?? kenapa TIDAK menuliskan proses klarifikasi dan gejolak yang terjadi di Bojong Gede saat ini ?? (bukankah lebih menarik sebagi berita, apa takut karena hasilnya jauh dari dugaan tulisan terdahulu)

Jika berita yang dibuat isinya hanya berdasarkan event yang ada,, apa bedanya dengan infotainmen yang isinya hanya bualan orang tidak bertanggung jawab dan penulis berita hanya bertugas mempublikasikannya tanpa menguji keabsahan. Saya pikir WARTA berbeda ;( dan apakah penulis memiliki bukti berupa surat pernyataan secara tertulis atau semacam rekaman wawancara dengan narasumber yang dapat dipertanggung jawabkan, bahwa apa yang dikatakan oleh narasumber adalah benar.

Bagaimana pertanggungjawaban penulis berkaitan dengan etika jurnalistik yang mengharuskan untuk mengklarifikasi terlebih dahulu kebenaran sumber beritanya, sebelum di publikasikan. Jika seperti ini kondisinya Jelas bahwa warta hanya sekedar opini saja bukan berita yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena isinya hanya "selayang pandang" atau melaporkan kegiatan yang sedang terjadi. Sehingga hipotesanya, WARTA merupakan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara valid dan realibility.

Bandingkan dengan Berita yang ada dikoran lokal atau nasional, apakah content-nya seperti WARTA yang ditulis oleh penulis BADAI FKA ? coba secara jujur menggunakan mata hati, apakah redaksionalnya harus seperti itu ?? mereka sama-sama memberitakan event/kejadian tapi TIDAK seperti yang dilakukan penulis WARTA. Jelas bahwa cita rasa penulis yang objetive harus terlibat secara langsung dalam pembuatan naskah berita. Dusta besar jika penulis berita tidak melibatkan opininya ditinjau dari sudut pandang penulis. Permasalahannya, opini seperti apa yang baik menurut jurnalistik?? Apa seperti yang dicontohkan oleh penulis WARTA ?? Karena seharusnya penulis berita menjunjung tinggi kode etik pers dan UU Nomor 40 Tahun 1999 pasal 5 tentang azas praduga tak bersalah.

Kami tidak menghakimi sebelum menganalisis delik hukum dan dasar gugatan kami, tegas kami sampaikan bahwa kami tetap menunggu klarifikasi dari pihak penulis secara langsung, dan kami tidak akan mundur untuk memperjuangkan Atas Nama BKM se-kecamatan Bojong Gede. manis kan?...manis kan?...
Tanggapan 7
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Hendra Widjayakusuma, 28 Desember 2010, jam 22:21:10
INTIMIDASI PECUNDANG TAK PERNAH MENYURUTKAN LANGKAH KAMI
MENGEMBALIKAN NAMA BAIK KECMATAN BOJONG GEDE


Pada Tanggal 28 Desember 2010, saya mendapat SMS sebagai bentuk intimidasi dari pecundang terhadap pribadi orang seorang, berikut ini bunyi SMSnya :

SMS from : 0852797177xx
Pkl : 16 : 57 : 02 WITA

“Assalamu’alaikum. Mas sebelumnya sy ucapkan terimakasih atas semua tanggapan anda yg menyangkut urusan pribadi sy. Perlu sy pertegas skrg bhw anda cabut itu kata-kata yg menyangkut pribadi sy krn anda perlu tau bhw korkot tlh melakukan kesalahan besar, pencopotan sy itu bukan kewenangan korkot, krn sy tdk kontrak kerja dgn korkot, anda tau bhw keputusan korkot ternyata ga berlaku, dan sy skrg dikembalikan lg ke tim 11. Krn korkot tlh memanipulasi data ke OC dan satker utk mencopot sy,anda pikir korkot sdh benar?, anda tau apa yg dilakukan korkot skrg?, sy sarankan sbg saudara anda jgn ikut campur urusan ini krn campur urusan ini krn anda ga tau apa2, smua yg sy gugat sy bisa melakukan pembuktian, jd skali lg sy mohon jgn ikut campur urusan pribadi saya, krn sy tdk punya urusan dg anda, saya tunggu pencopotan kata2 anda terhadap diri saya, krn spy anda tau bhw FKA itu sdh diarahkan oleh korkot utk menjatuhkan sy, skali lg tlng jgn ikut campur urusan sy dan korkot ok?, mksh”.

Ini adalah salah satu efek dari pemberitaan WARTA, lantas apakah masih bisa dibilang sebagai berita WARTA “Selayang Pandang” ??? Jelas2 kami di teror.
hik..hik!...hik..hik!...
Tanggapan 8
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Hendra Widjayakusuma, 28 Desember 2010, jam 22:28:01
PANGGILAN KLARIFIKASI DARI TIM OC 4

Sebelumnya saya mohon maaf, karena pada hari dan tanggal yang sama saya (hendra) menerima telepon dari OC 4 untuk melakukan klarifikasi permasalahan ini, namun karena keterbatasan waktu yang saya miliki saya tidak dapat memenuhi panggilan tersebut. Saya berharap ketidakhadiran saya tidak menghambat proses klarifikasi yang berlangsung. Akan tetapi harapan saya mewakili rekan-rekan relawan Bojong Gede adanya tindakan secara tegas, supaya masalah tidak berada di zona abu-abu, antara lain :

1. Penghapusan (WARTA) "BADAI FKA BKM, SF GUGAT KORKOT" dan WARTA tgl. 19 Desember 2010 berjudul "PPK P2KP Jabar: Korkot Melampaui Wewenang"
2. Klarifikasi dan Permintaan maaf Penulis WARTA melalui media Online kepada seluruh masyarakat Bojong Gede.

Kebenaran bisa menjadi pelindung, namun niat baik tidak. Seorang wartawan mungkin tidak bermaksud mencemarkan nama orang, namun jika tulisan itu tidak bisa dibuktikan demikian, niat baik saja tidak bisa melindungi seorang wartawan bung. manis kan?...
Tanggapan 9
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Indita, 29 Desember 2010, jam 12:28:17
Sebelumnya maaf nih ya, saya merhatiin thread ini sambil membaca tulisan2 yang dimaksud di atas, lha saya jadi bingung Pak Hendra ini sebenernya membela siapa sih? Belain tim 11? Belain Korkot? Apa sudah ada omongan atau keputusan resmi dari mereka meminta Pak Hendra yang mewakili suara mereka? Lha kan Pak Hendra ini sudah mantan tim 11 thoh? Kalau merasa mencemarkan nama baik Pak Hendra, di berita nggak onok nama Pak Hendra disebut-sebut. Saya ndak ngerti jadinya.. Selain itu, wong Tim 11 dan Korkotnya sendiri aja nggak komplain di Mimbar ini kok. Jangan sampe mengaku-ngaku mewakili orang-orang yang ternyata ngga minta diwakili lhoo..
Tanggapan 10
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Hendra Widjayakusuma, 29 Desember 2010, jam 19:25:22
@ inditia : sialhkan anda cermati kembali isi warta dan tanggapan yang ada di mimbar bebas, jika anda cukup cerdas mungkin akan menemukan jawaban dari pertanyaan anda manis kan?...manis kan?... Selamat menganalisa ...
Tanggapan 11
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
aak aax, 31 Desember 2010, jam 10:49:36
eeeehhhhhhhhhh pd ribut aja geerrrh!... ... segera dunk cairkan REMU/GAJI/SALARY DESEMBER OC4 .. katanya mu cair sblum tnggl 31 desember.. pdhl dah modal materai.. gimana mau ngurusin masyarakat klo ga cair sakiiit!... ..... awas ya...awas ya...awas ya...
Tanggapan 12
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Bahtiar Baihaqi Heraudie, 4 Januari 2011, jam 0:57:11
Halo semua, saya anggota baru nih. Kebetulan tinggal di Perum Lipi Rawa Panjang Bojong Gede. Jadi, "tanggapan atas pemberitaan" (dari Pak Hendra dkk) ini terkait dengan keberadaan saya sebagai warga setempat.
Tapi, kali ini saya hanya akan kirim aspirasi dari warga setempat juga, seorang mantan tenaga ahli sosialisasi (TA) KMW IX Sukabumi Jabar berkaitan dengan topik ini. Intinya sih agar semua pihak mesti bertindak pada trek yang benar sesuai dengan rambu-rambu PNPM dan landasan moral secara umum. Ini dia selengkapnya (panjang juga sih):


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Apa kabar teman-teman yang budiman di PNPM-Mandiri…………kumaha daramang? Semoga selalu sehat, tetap semangat, dan dilingungi Allah SWT. Oya…..kehadiran saya di website P2KP ini sekadar ingin anjang sana atau silarturahmi, juga mewakili tim relawan Bojong Gede, Bogor untuk sekadar berbagi kabar dan cerita. Kebetulan hari Rabu, 15 Desember 2010 ba’da dzuhur, teman-teman OC IV (Kang Ade, Kang Hamid, Kang Iwa, Pak Wayan, dll) dari Bandung berkenan mengunjungi lokasi tim relawan kami. Terlepas dari apakah kehadiran teman-teman OC IV tersebut karena terpicu oleh tiupan angin di website (postingan suami dari salah seorang faskel Bojong Gede Bogor : Mas Heru) kami atau karena ada jadwal reguler uji petik atau sekadar ingin memantau “wajah-wajah imut” relawan Bojong Gede atau apa pun, kami secara tulus mengucapkan banyak terima kasih dan bersyukur masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk bertatap muka langsung dengan teman-teman di tempat yang “tak diduga-duga”. Karena, bagi saya secara pribadi ini suatu kebetulan yang tampaknya sudah Allah SWT atur dengan sempurna.

Tampaknya, dari hasil evaluasi kemarin itu memang banyak sekali PR yang harus teman-teman relawan, kerjakan agar dapat lebih cerdas, bernas, dan tegas dalam mengabdi kepada masyarakat. Hatur nuhun, teman-teman………………………..Dan, apa pun hasil penilaian dari tim OC IV tersebut tidak terlalu membebani tim relawan karena mereka di sini lebih berkonsentrasi pada “sejauh mana” dapat berbuat lebih mulia lagi bagi masyarakat. Tolong juga untuk tetap memberikan masukan, bimbingan, dorongan, dan energi-energi positif lainnya agar tim relawan di sini dapat lebih kuat dan tabah dalam berkiprah di PNPM Mandiri di Bojong Gede Bogor ini. Tim relawan pernah berkata pada saya, “Kelemahan, kesalahan, kekhilafan, dan sifat-sifat dha’if lainnya memang kami miliki sebagai hamba Allah yang awam sehingga dalam pelaksanaan tugas di lapangan pun terpentang ketidaksempurnaan. Banyak bolong-bolong yang masih tampak dalam kinerja kami, karena itu tolonglah kami untuk tidak disudutkan, dihujat, apalagi difitnah karena perbuatan itu sungguh tidak bermanfaat bagi siapa pun. Angkatlah kebodohan kami dengan pengetahuan yang bapak-bapak miliki agar dapat kami ajarkan dan amalkan pada masyarakat di Bojong Gede Bogor. Bila ada kelemahan dalam akal dan jasmani kami sehingga berdampak pada sistem atau program PNPM Mandiri ini, topanglah dengan energi kebaikan yang bapak atau ibu miliki agar kami menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan tangguh dalam berhadapan dengan rintangan di masyarakat. Bila ada kealpaan yang tim relawan kami perbuat, ingatkanlah kami dengan kesabaran karena kami tidak tercipta dengan daya ingat yang super sehingga kami selalu dapat “tune in” dengan semangat teman-teman di PNPM Mandiri ini”.

Selanjutnya, “Kami sebagai relawan insya Allah ikhlas dalam menjalankan pemberdayaan ini tanpa dibayar sepeser pun, kami ikhlas secara materi dan nonmateri yang kami berikan bagi masyarakat meski kami bukan kaum konglomerat. Karena itu, tolong jangan lunturkan semangat pengabdian kami dengan kecongkakan dan kecerdasan pihak-pihak yang

mengatasnamakan kekuasaan, apalagi kepentingan pribadi. Jangan pula hancurkan kebersamaan kami dengan para faskel dengan berita-berita atau kata-kata yang tidak kami pahami. Berbahasalah dengan bahasa kami dan berikanlah contoh-contoh perbuatan yang sesuai dengan kearifan lokal kami sehingga tercipta keselarasan dan keharmonisan rasa dan pikiran kita semua. Kami hannyalah makhluk rapuh yang pasti juga akan jatuh bila angin besar menerpa kami dengan keras. Padahal, di padatnya tempat tinggal kami, terkepal harapan masyarakat menunggu janji kami untuk dapat membahagiakan mereka, menyejahterakan mereka”.

“Apa pun kesalahan yang telah kami lakukan, dengan kerendahan hati kami akui sebagai keawaman dan ketidaktahuan. Karena itu, mohon mudahkan kami untuk bertanya dan bertemu dengan faskel lainnya, yang tentunya berkaitan dengan tugas kami di lapangan”.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sering mengatakan kepada kami bahwa relawan adalah ujung tombak pemberdayaan masyarakat yang sekarang kami laksanakan, karena itu tolong tajamkanlah mata dan hati kami dengan tutur kata dan perbuatan bapak-bapak yang berhikmah agar kami bisa lebih dapat membelah masalah dan kesulitan dengan tabah dan tawakal. Tusukan ujung tombak memang tidak terlalu sakit kami rasakan, tapi ketajaman lisan atau kata-kata, baik langsung maupun melalui media, adalah sembilu yang dapat menembus ulu hati!”

“Sekali lagi, walau kami hanya relawan, tolonglah bila ada kesalahan dan kekhilafan, ajaklah kami bicara atau berwacana agar masalah dapat terdedah dengan jelas. Kami tidak membutuhkan reward, balasan apa pun, karena di atas kerelaan kami ada Sang Maha Pembalas kebaikan, tapi tolong pahami kami dengan arif dan rendah hati.”

“Jujur saja, selama ini relawan berjibaku dengan faskel, terutama dengan Rio, Hendra Wijaya, Hakimis. Merekalah yang selalu berada di samping relawan saat masalah dan kesulitan menerpa. Pelan-pelan dengan ketekunan yang luar biasa dari Rio dkk tersebut muncul spirit lebih pada diri relawan untuk bersedia memberdayakan masyarakat. Bahkan, maaf buat teman-teman faskel yang lain, mas Rio ini bagi relawan adalah “faskel plus”, selain memberikan dampingan juga sering memberi tausyiah soal agama. Kami menyebutnya “faskel ustadz” karena pendekatan dia yang agamis dan menyejukkan”.

Tapi, saya secara pribadi, terutama relawan, merasa “terhenyak” karena orang yang sudah telanjur “dekat” dan bisa ngemong ibu-ibu relawan, khususnya, itu tiba-tiba harus meninggalkan para relawan dengan PR-PR-nya yang bertumpuk-tumpuk. Berkat Allah melalui tangan dingin Rio, Hendra, Hakim, Mas Wahyu dan lain-lainlah relawan dapat menjalani tugas-tugas yang “tak biasa” dikerjakan ibu-ibu bergelar DRA (di rumah aja) ini. Sekarang, mau tak mau, kami harus kehilangan orang-orang yang telah banyak mendampingi dan berbagi selama

tiga tahun ini. Dan, tampaknya pula pergantian faskel di Bojong Gede Bogor ini frekuensinya sangat tinggi. Dulu, SF (Mas Wahyu) yang santu itu harus pergi ke Sukabumi. Lalu, Hendra Wijaya “si imut” juga harus terbang ke Kalimantan, juga ada mas Khairun (sayang, mas SF yang satu ini tak sempat berjumpa dengan saya), dan sekarang Rio, Hakimis, dan Rohma pun “memberikan salam” pileuleuyan pada relawan. Saya melihat realitas “ hilang berganti” itu suatu hal yang biasa, bahkan harus, karena Rasulullah pun mengajari umatnya untuk wajib berhijrah, baik secara tempat maupun khususnya rohani. Tapi, menurut pemikiran saya, untuk yang satu ini (seringnya terjadi pergantian personel faskel di wilayah Bojong Gede Bogor ini) menjadi tidak efektif dan tentu saja sangat mengganggu, setidaknya kehusyuan berelawan. Secara psikologis, beda orang pasti akan berbeda perilaku dan pembawaan. Tidak gampang menyatukan hati dan pikiran dengan orang-orang yang baru kita kenal, bukan? Pergantian khalifah saat zaman Rasulullah saja menyebabkan perang kepentingan dan kekuasaan dalam kurun waktu yang lama.

Lebih kaget lagi saat tim relawan mendatangi saya untuk meminta masukan tentang bagaimana cara membuat surat pengunduran diri ke BKM, bahkan ada yang akan tetap menjadi relawan tapi asal Rio come back! Tapi, bila tidak, mereka pun akan kembali ke rumah, menjadi ibu rumah tangga biasa yang tidak direpotkan persoalan PNPM Mandiri ini. Kata mereka,”Toh tanpa PNPM juga kita selama ini bisa ‘kok membangun lingkungan dan beramal sosial! Bukanakah selama ini kita selalu berbuat demikian jauh sebelum PNPM hadir?” Yang lain menambahkan, “Untuk dapat BLM begini saja kok repot, sih!” “Padahal kalau kita minta sama Pah Fahmi (RW 10) bisa langsung OK, tanpa banyak tuntutan!”

Waduhhhhh!.......bagaimana ini? Kok jadinya ribet begini di jagat relawan ini. Saya sangat merasa prihatin dengan kejadian di tubuh faskel yang merebak ke relawan. Saya jadi ikut bertanggung jawab terhadap para relawan karena saya termasuk pihak yang mendorong dan mempersuasi mereka untuk turut menjadi pemberdaya PNPM. Saya berupaya meyakinkan masyarakat agar mau menerima program pemberdayaan masyarakat ini (PNPM Mandiri). Saya juga yang merayu-rayu Pak Fahmi (Ket.RW 10 kami yang superdermawan) agar mau menerima kehadiran PNPM-Mandiri di wilayah kami. Kenapa harus saya “yakinkan” pihak-pihak penting di wilayah saya ini? Karena, terus terang saja (bukan sombong), wilayah kami ini sangat berdaya (secara ekonomi dan sosial, juga infrastruktur). Bayangkan, setiap tahun turun dana sekitar Rp 46 juta, baik dari saku Pak RW sendiri maupun dana masyarakat plus bantuan donator (para sahabat Pak Fahmi di berbagai instansi). Dana ini pun hanya untuk bantuan sosial. Maaf bila saya pernah mengungkapkan di depan teman-teman OC IV bahwa dana yang selalu turun setiap tahun dari RW ini sekitar 10 juta!

Sesungguhnya, keterlibatan PNPM-Mandiri di wilayah kami ini mulanya memang nyaris tidak mendapat tempat di hati masyarakat karena keberdayaan yang kami miliki selama ini sangat baik. Saya coba jelaskan bahwa PNPM Mandiri tidak sekadar pengguliran dana, tapi ada hal yang jauh lebih vital dari itu semua, yaitu pembelajaran dan pembinaan akhlak secara menyeluruh untuk masyarakat. So……..akhirnya Alhamdulillah program ini pun “dibageakeun” oleh para aparat dan masyarakat di RW 10 ini.

Tugas yang paling berat ternyta masalah perekrutan relawan; seperti mencari jarum di dalam jerami ! Reaksi negatif seperti sindiran, fitnahan, celaan, kemasabodoan, dan permusuhan Alhamdulillah saya alami. Bahkan, ada yang bicara “potong deh kuping saya, kalau BLM turun!”(Semoga Allah mengampuni mereka). Tapi, ini saya tidak tanggapi karena tujuan utama saya adalah “bagaimana pelaksanaan PNPM ini” dapat running well (berjalan dengan baik), bermanfaat dunia akhirat bagi semua (beramal jariyah).

Setelah relawan terkumpul, ternyata tidak mudah juga membuat mereka betah dan bertahan di proyek kemanusiaan ini, satu-satu berguguran. Akhirnya, dinobatkanlah gelar kehormatan pada para relawan kami yang bisa dihitung dengan lima jari ini dengan julukan “4L (Lu lagi- Lu lagi)”.

Luar biasa memang para relawan yang tersisa ini, mereka tak henti-hentinya berkorban materi dan nonmateri, bahkan izin suami pun ditabrak mereka, demi PNPM. Kenapa bisa bertahan mereka? Salah satu alasannya adalah mereka mendapat sauna yang “enjoy” dan pembelajaran yang bermanfaat sejak bersama Rio, Hendra, Hakimis dsb. Dan, kebersamaan yang bermanfaat ini tiba-tiba harus terhenti karena masalah yang seharusnya tak terjadi. Wajar bila ada spirit yang tercubit karena “spirit person”-nya hilang, Mas Rio………………………………….

“No body perfect”, Allah tidak menciptakan manusia dalam keadaan bersih dari kesalahan. Justru kesalahan itu yang menjadikan manusia menjadi ihsanul karim. Begitu pun pada Rio dkk, di balik kesalahan mereka (kami sendiri tidak tahu salahnya apa), kenapa Rio tidak beri SP 1 atau sanksi apalah yang sesuai dengan kesalahannya? Kenapa harus dipisahkan dari para relawan kami? Bukannya faskel juga adalah insan-insan yang masih perlu dibina, dimotivasi, diarahkan, diingatkan, dan “di-up-grade” lagi kemampuan kinerjanya? Tapi, insya Allah kami terima keputusan ini karena Allah Maha Tahu tentang seluruh kejadian di muka bumi ini. Relawan di sini hanya meminta, tolonglah bila Rio, Hakimis, Joko,dsb memiliki kesalahan janganlah terlalu di “blow up” ke seluruh jagat. Sebenci-bencinya kita pada seseorang, bukankah kita pun harus menyisakan kasih sayang kita padanya karena ia adalah sama-sama hamba Allah yang pasti sudah banyak melakukan kebaikan kepada sesama. Sesebel-sebelnya kita pada Rio, misalnya, bukahkah kita tidak berhak menghakimi apalagi membunuh penghidupannya juga karakternya dengan opini kita yang belum tentu benar (secara nalar Islam/akidah). Hukum di negara kita saja memberlakukan “Hak Praduga Tak Bersalah” kepada

seseorang sebelum ditemukan bukti-bukti yang kuat tentang kesalahannya. Bukankah harus ada 4 saksi yang melihat kejadian itu? Jadi, dalam berkonflik dengan orang lain atau membenci orang lain, agama kita menegaskan untuk tetap adil. Memberi peringatan atau masukan kepada orang lain itu kan wajib! Tapi, dengan tujuan agar kita sama–sama belajar dan mencari jalan keluar, bukan dengan serangan, apalagi bersikap permusuhan. Ini namanya amar ma’ruf nahi munkar. Segala sesuatu bila diniatkan dengan baik, pasti hasilnya akan baik.

Saya sendiri heran apakah kesalahan yang dilakukan Rio dkk ini sangat pantas untuk di-blow up ke semesta raya ini, sebelum ada musyawarah yang baik dilaksanakan? Aduh, bapak-bapak dan ibu-ibu yang budiman, paralun. Janganlah adigung-adiguna, merasa berhak mengobok-obok kesalahan orang lain dengan demikian dahsyat, sementara kita sendiri pun adalah gudang kesalahan yang siapa tahu ada kesalahan yang Allah tak ampuni, audzubullahi mindzalik. Di sisa hidup kita yang beranjak uzur ini, cobalah dalam melakukan sesuatu itu didasarkan pada nalar yang bersih dan hati yang jernih. Tidak kaburu ku napsu, itu artinya kita telah dikomandoi syetan. Berpikirlah ulang dalam melakukan sesuatu, apalagi tindakan yang sekiranya akan membuat orang lain terluka, atau hancur.

Ok, barangkali kita menemukan bukti kesalahan yang jelas pada diri Rio dkk atau siapa pun, tapi di manakah letak hati nurani bila kita langsung menghakimi dan tidak mencermati kesalahan tersebut secara obyektif atau menurut kaidah-kaidah yang ada. Bukankah akan tampak jelas bila masalah ditalungtik dulu dulu apa penyebabnya, letak kesalahannya di mana, lalu bagaimana cara penyelesaiannya? Apabila belum ada jalan keluar, mintalah pihak-pihak yang arif dan bijaksana dilibatkan, sehingga outcome-nya juga dapat “merejel” secara bernas alias jernih.

Insya Allah (apabila terlebih dulu dimusyawarahkan), teman-teman relawan tidak ada yang menaruh dendam, apalagi berniat membalas perbuatan orang-orang yang sudah membuat mereka rada kuciwa. Memang, semua masalah ini mestinya dijadikan pisau untuk membedah kelemahan-kelemahan dan mencuci segala kotora-kotan hati, juga pikiran, dari niat-niat yang tidak bersih dari “berkerelawanan” di PNPM-Mandiri. Satu hal lagi, bahwa relawan pun berusaha semampu mungkin untuk dapat menjadi orang yang bermanfaat bukan bermudarat, untuk menjadi pemenang bukan pecundang, untuk menjadi orang yang tulus bukan yang buta pada fulus, untuk menjadi orang yang adil bukan kerdil. Amin ya robbal’alamin

Khusus untuk kasus website, relawan titip pesan, khususnya kepada yang terhormat Pak Heru (maaf bila salah sebut nama), terima kasih dihaturkan atas bantuannya dan ketulusannya dalam membina, mendampingi, memotivasi, dan menjadi tempat berbagi relawan selama ini. Sungguh tulisan bapak sedikit pun tidak membuat kami risau atau benci, justru sebaliknya kami semakin mendoakan agar bapak diberi usia panjang agar bisa terus bermanfaat bagi orang lain, bisa menjadi laki-laki yang dapat menjadi imam yang saleh bagi istrinya, menjadi ayah yang

menjadi anutan bagi anak-anaknya, dan menjadi warga negara yang berkhidmat pada pemimpin dan Tuhannya.

Adapun kepada tim OC IV, semoga selalu dilimpahi karunia kebeningan hati dalam mengambil keputusan saat ini dan masa yang akan datang, dapat menjadi para konsultan yang amanah dan fathanah. Amin

Bagi para faskel, adik-adikku yang budiman, tetaplah berpijak apa yang diyakini benar, berjalan sesuai dengan hati nurani yang lurus, tak tercemari oleh debu-debu yang berterbangan sepanjang hari. Kami sekuat hati akan terus berjalan mengiringi Anda sekalian dalam menembus rintangan, mengokohkan jiwa-jiwa kalian dengan doa tulus kami; meskipun dari jauh, Allah kan Maha Melihat. Selamat bertugas di tempat yang baru, semoga Allah memberi kalian tempat bersama orang-orang yang lebih saleh dari kami, ketenangan lahir batin, dan kesuksesan yang diridhai-Nya. Kami tunggu komunikasi kalian sepanjang waktu. Jangan lupakan kami, setidaknya selipkan nama kami dalam setiap doa kalian agar kami bisa tetap sehat dan selamat menjalankan semua tugas yang sudah suara hatikalian ajarkan. Kalian akan selalu kami kenang, karena kebaikan dan kebermaknaannya. Maaf bila ada kata-kata yang membuat hati tak nyaman, saya hanya hamba Allah yang dha’if yang hanya ingin berbagi dengan teman-teman di mana pun.……………………. Salam dari saya (relawan dan mantan TA Sosialisasi KMW IX Sukabumi Jabar) Semoga Allah memberkahi kita semua. Amin………………………………………………..
Tanggapan 13
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Nina Web P2KP, 4 Januari 2011, jam 12:01:47
@ Pak Bahtiar:
Hatur nuhun, Pak Bahtiar, atas tanggapannya yang menyejukkan hati dan mata yang membacanya.. Semoga Allah mengabulkan harapan Bapak dan teman-teman Relawan di Bojong Gede ini. manis kan?...

Saya kira semua kejadian ini sarat makna dan hikmah. Saya sendiri memperhatikan (dan mendengarkan) cerita ini dari berbagai sisi baik dari Pak Hendra sendiri, dari Pak Heru, dan dari PPM KMP (sebagai "perpanjangan" suara pihak OC).

Saya menganalisis betapa Pak Hendra memiliki solidaritas tinggi terhadap teman-teman Tim 11, meski beliau sendiri sudah tidak di Tim 11. Jadi saya menilai, adalah wajar jika Pak Hendra sempat emosi jiwa (hehe..) ketika membaca pemberitaan yang terkesan negatif mengenai mantan timnya (tapi pastinya bukan mantan teman, begitu kan, Pak? manis kan?...) lalu beliau merasa harus bicara, mengklarifikasi, sesuai dengan apa yang beliau ketahui selama ini. Nah, rasa kesetiakawanan dan solidaritas ini adalah kualitas yang patut dicontoh dan harus dimiliki kita semua. Terima kasih Pak Hendra..

Di sisi lain, adalah penulis berita (Pak Heru). Sejak pertama beliau berkonsultasi kepada Redaksi, saya melihat sendiri bahwa niat beliau menulis berita ini bukan untuk membela satu pihak dengan menjatuhkan pihak lainnya. Kalau ada niatan berat sebelah seperti itu, sudah pasti saya tolak dong tulisannya. Hehe.. ting..ting! Niat beliau menulis ini adalah sebagai social control, demi program dan demi masyarakat. Beliau hanya ingin program pemberdayaan ini berjalan dengan baik, benar, tepat sasaran dan sesuai dengan visi-misi P2KP-PNPM Mandiri Perkotaan. Itu saja, tidak lebih. (Itu setahu saya ya..)

Sebagai orang yang sudah berpengalaman mengawal program ini (sejak P2KP-1 tahun 1999 hingga sekarang), beliau memiliki pengetahuan yang luas mengenai substansi program--meski peran beliau "hanya" sebagai jurnalis. Dan sejak pertama saya bekerja sama dengan beliau, tidak pernah beliau menggunakan media untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sedangkan secara pendapat profesional (sebagai sesama jurnalis), saya mempercayai etika kerja dan integritas beliau sebagai wartawan/jurnalis.

Pun ketika harus menuliskan berita pahit seperti ini, saya mempercayai kenetralan beliau. Jangan dikira menulis berita seperti kemarin itu mudah, rekan-rekan! Apalagi tulisan tersebut mengenai wilayah tempat tinggalnya sendiri, sudah pasti akan ada sikap defensif dan ofensif dari narasumber serta individu yang merasa diberitakan. Padahal pekerjaan wartawan itu adalah untuk menyampaikan kejadian yang dilihat, didengar, digali (dari narasumber), dan dikonfirmasi kebenarannya oleh si wartawan itu sendiri. Dan tulisan-tulisan kemarin itu baru tipe "reportase", bukan in-depth, apalagi investigasi. Meskipun redaksi sudah mendengar informasi yang in-depth (lebih rinci dan dalam) dari beberapa pihak, tetap Redaksi mengeluarkan/menayangkan berita yang bertipe reportase saja. Ini untuk menjaga kenetralan dan jauh dari ranah opini pribadi.

Sementara itu, dari sisi PPM KMP--sebagai "suara" KMW (atau OC)-nya, saya menilai adalah wajar OC bertindak hati-hati dan tidak gegabah mengenai kinerja dan performa "anak buah" mereka di lapangan. Maka dari itulah, informasi atau temuan yang dihimpun oleh OC dan PPM KMP diproses secara internal dan tidak segera dipublikasikan. Selain itu, saya kira, kami (KMP/OC dan Redaksi) sama-sama menganut azas praduga tak bersalah. Innocent until proven guilty. Dan jika pun terbukti ada pihak yang salah/keliru--secara prosedural ataupun kinerja--maka penyelesaiannya pun harus baik dan tepat. Bukannya begitu, Pak TA PPM? Hehehe..

Terakhir, saya ingin mengajak rekan-rekan pengguna website ini untuk menyamakan langkah dan niat bahwa semua yang kita lakukan adalah untuk improvement (perbaikan, pengembangan), demi tujuan kita melayani masyarakat. Berbuat salah adalah wajar dan manusiawi. Cara menyelesaikannya adalah dengan mengintrospeksi diri dan kembali membangun optimisme bahwa diri kita ini masih bisa berubah lebih baik, lebih berdedikasi, lebih jujur dan lebih bersemangat untuk masyarakat dampingan. P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan memang "hanya sekadar" program, tapi program ini sarat pahala, lalu kenapa tidak kita jadikan arena mendulang amal dan "naik kelas" dalam hal keimanan?

Atau seperti yang dikatakan Pak Bahtiar: ajang hijrah. Hijrah dari ketidaktahuan menjadi tahu. Hijrah dari kurang baik menjadi mulia. Hijrah dari rasa arogan menjadi rendah hati, dsb. ting..ting!

Wuih...panjang juga tanggapan saya ini. Hehehe.. Semoga bisa diterima dengan baik oleh semua pembaca ya.. Kalau ada salah-salah kata, mohon maaf, tidak ada niatan menyakiti atau mendeskriditkan siapapun. Semoga kita semua betul-betul bisa sehati dan sejiwa. AMiiin..

Nuhun ah,
NiNaGeuLiS
Tanggapan 14
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
Hendra Widjayakusuma, 4 Januari 2011, jam 21:29:15
RANGKAIAN PROSES UNTUK MENEMUKAN JAWABAN DARI SEBUAH PERTANYAAN
Oleh.Hendra Widjayakusuma., SPd, ST
==================================================

“Bukanya hati ini tak sakit bukannya hati ini tak hancur, bukan pula hati ini tak perih namun kepasrahan yang mampu mengiringi ...”

Assalamualaikum wr wb.

Ini hanya sepenggal ungkapan hati, Setelah dua tahun perjalanan kami berada di Kecamatan Bojong Gede, dimulai dari membidani lahirnya BKM dan Komunitas Relawan di Kec. Bojng Gede dan Cibinong dalam komunitas PNPM MP. Sungguh sangat disayangkan keputusan yang diambil dengan memobilisasi rekan-rekan fasilitator hengkang dari kecamatan Bojong Gede. Hanya karena pemberitaan warta yang tidak jelas, teman-teman harus melangkahkan kaki keluar dari gerbangnya,

Memang benar saya yang pertama melangkah keluar dengan harapan adanya perubahan selepasnya saya pergi, tetapi yang terjadi saat badai terjadi di Bojong Gede, saya justru tidak ada disana bersama mereka, ada rasa sesal yang cukup dalam saat saya tidak mampu melindungi relawan.

Dengan terpaksa harus meletakkan tahta mahkota dari singgasana ini, dan memberikan tongkat perjuangan kepada pejuang lainnya.

Rasanya baru kemarin kapal saya berlabuh di Bojong Gede, tak terasa sekarang bukan hanya saya yang harus meninggalkannya dan menarik jangkarnya, tetapi semua teman-teman yang tidak bersalah pun harus meninggalkannya. Bukan lagi di sini pelabuhan mereka. Tetapi di suatu tempat yang lain, bukan meninggalkan namun terpaksa harus meninggalkan dan meneruskan ilmu, cita, dan cinta. Tidak sedikit ilmu dan bahkan tidak terhitung pelajaran yang sangat berharga tentang menghargai hidup, solidaritas dan persaudaraan kami peroleh disini, mungkin kami telah menjadi bubuk kopi yang membaur dengan masyarakat, sehingga berat hati ini melepaskan apa yang telah mendarah daging dalam tubuh kami. Hanya linangan air mata yang terus mengalir deras, yang kukira sudah lama tak pernah menetes. Tak kusangka, mentes kembali sepeninggalannya saya dari Bojong Gede.hik..hik!...hik..hik!...

Kami menyadari bahwa cepat atau lambat perpisahan itu akan selalu ada, karena kita pernah berjumpa, bersama, dalam canda tawa dan bahagia. Setiap tetes airmata yang tertumpah di hari ini, akan menjadi saksi atas jalinan ukhuwah yang selama ini kita simpul seerat-eratnya.

Tak ada kata yang pantas terucap ... hanya derai bening yang selalu bertaburan, mengucap selamat jalan, ijinkan kami melanjutkan perjuangan ke arah yang lain, ditempat yang baru, yang akan menjadi jarak pertemuan kita.

Hari ini, jiwa dan naluri kita kembali terluka atas perpisahan raga. Namun percayalah ... hati kita akan selalu terikat. Jalinan ukhuwahnya akan semakin erat, semakin jauh raga kami melangkah, semakin hati kami mendekat.

Tidak usah terlalu bersedih, hanya karena menjadi korban keteledoran dan arogansi penulis warta ... berbahagialah, karena engkau akan menemukan suasana yang baru, meskipun bukan dengan kehadiran kami disini lagi, tapi disana. Cukuplah setiap kenangan yang telah kita tanam, akan menjadi kenangan yang tumbuh subur, menyemaikan benih-benih cita diantara kita. Karena kita tak harus disini, kita tak harus selalu bersama, kita harus melanjutkan langkah ini, mungkin ke tempat yang lain, yang siap untuk kita tapaki.

Perkuat langkahmu ... yakinkan diri dan hatimu, hari esok pasti lebih cerah, hari esok adalah harapan yang harus diraih. Pandang senyumannya yang lebar, tatap wajahnya yang ceria, hari esok adalah bahagia. Yakinlah, cinta dan cita akan selalu bersatu. Kita akan bersatu selamanya, dalam cahaya persahabatan dan kekeluargaan ini.

Segala rindu yang akan muncul, segala nafas yang akan berhembus, segala harapan yang akan kita raih, segala langkah yang akan kita ayunkan, yakinlah disana ada sukses. Di sana ada keberkahan, dan di sana pasti ada cinta.

Biarkan aliran airmata ini jatuh sesukanya, biarkan dia mengalir, mengucap kata seindah-indahnya. Biarkan dia, karena airmata tak berarti sedih, airmata tak berarti duka, airmata adalah juga lambang bahagianya hati. Biarkan dia menemani kita di hari ini. Biarkan ... Karena dia memang hadir untuk ini, untuk sebuah perpisahan.

Tidak ada lembar jawaban untuk ujian kehidupan. Kita harus menyelesaikan setiap masalah yang muncul dalam perjalanan hidup kita. Belajar dari keberhasilan dan kegagalan yang pernah kita alami, itu bisa menjadikan kita lebih utuh.

Ijinkan kami melanjutkan langkah, selamat berjumpa lagi di tangga kesuksesan, dalam senyum yang lebih indah ... Mulai hari ini, kembalilah tersenyum dalam wajah barumu ... Bojong Gede dengan warna baru, kami serahkan tongkat perjuangan kepada fasilitator baru yang akan memfasilitasi Bojong Gede. Kami berharap Bojong Gede menjadi lebih baik dari kondisi saat ini.

Untuk itu saya dan rekan-rekan mohon maaf apabila selama ini ada sikap dan kata-kata kurang berkenan di hati Bapak/Ibu BKM dan Relawan Bojong Gede dan saya juga mohon maaf sebesar-besarnya kepada siapa pun yang merasa tersingung atas sikap, kata-kata, dan tingkah laku saya dan rekan selama berada di Bojong Gede.

Atas perhatiannya saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Bapak/Ibu dimana telah meluangkan waktu dan memberikan kesempatan pengalaman berjuang bersama di Bojong Gede dan umumnya Kabupaten Bogor, dan kepada segenap rekan-rekan sekalian yang telah banyak membantu dan membimbing kami.

Wassalamualaikum wr wb.

***

To : civitas Relawan dan BKM Kec Bojong Gede
Dalam suka, duka, tawa dan cinta.
Kenangan terindah untuk kami ex Tim 11 Bojong Gede

(fasilitator alumni Bojong Gede : Hendra Widjayakusuma, Wahyu Gumilar, Rina Suprabowo, Rio Eldianson, Saepul Alam, Dina Marina, Jajang Heriyanto, Dede Wahyudi, Roma Sugiarti, Hakimis, Joko, dan Khairun) manis kan?...manis kan?...

***
Tanggapan 15
 
Re: TANGGAPAN ATAS PEMBERITAAN
webadmin P2KP, 6 Januari 2011, jam 19:37:57
Dear's rekan-rekan semua...

Untuk mengklarifikasi atas pemberitaan mengenai "Badai FKA BKM, SF Gugat Korkot" dan juga forum p2kp dengan topik "Tanggapan atas Pemberitaan" maka dengan ini kami lampirkan surat Team Leader KMW Propinsi Jawa Barat OC-4 tentang hasil klarifikasi pengaduan di wilayah Kab. Bogor, Bojong Gede.

Dimana pengaduan tersebut sudah diselesaikan dan diinvestigasi dan dinyatakan tidak terbukti atas seluruh pengaduan yang telah disampaikan. Dan dari pengaduan tersebut telah diambil beberapa langkah-langkah oleh Satker atas rekomendasi KMW Jabar.

Demikian isi surat tersebut yang masuk ke meja PPM KMP Wilayah 2 (OC1 s/d OC4), yang kemudian kami forwardkan ke dalam media forum p2kp ini agar diketahui oleh semua pihak yang terkait.


Demikianlah yang dapat kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih

salam,

webadmin p2kp

lihat attachment surat klarifikasi "klik disini"


Kembali ke atas | Topik ini telah ditutup... Kirim tanggapan | Kirim pesan baru
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 8708, akses halaman: 13866,
pengunjung online: 160, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank