Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArsip WartaArsip ArtikelMiskin Tempo Dulu dan Sekarang
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi.

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Landak, 16 November 2006
Miskin Tempo Dulu dan Sekarang

Dulu, kalau ada orang bilang tetangganya miskin, secara spontan dianggap pelecehan. Aparat (pasirah paraga adat) pun segera didatangkan untuk mengambil tindakan tegas. Orang malu dibilang miskin. Karena, miskin—menurut kamus Bahasa Indonesia—artinya serba kekurangan. Sementara, sumber daya alam melimpah, dapat dikerjakan dan dijual untuk mendapatkan uang atau benda lain.

Sekarang? Miskin justru dianggap menguntungkan. Kalau ada orang disebut kaya, justru dianggap pelecehan. Setidak-tidaknya, orang jadi tersinggung bila ada yang mengatakan si anu kaya. Maklum, untuk orang miskin sekarang Sekolah Dasar 9 tahun gratis, kesehatan gratis, karena sekarang ada dana dan program yang disiapkan untuk itu. Tapi, sejauh mana orang miskin pantas disebut miskin? Lantas pantaskah mereka menerimanya dan masuk dalam program?

Dengan adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Program Kompensasi Penurunan Subsidi BBM, BLM P2KP, beras murah, transport siswa SD, SMP membuat predikat “miskin” jadi primadona. Siapa yang mau disalahkan? Banyak argumentasi yang mau menjawab pertanyaan itu. Maukah kita jujur untuk itu? Mari kita lihat penyebab kemiskinan.

Pertama, miskin yang disebabkan faktor alamiah. Yakni, cacat, sakit dan lanjut usia, cacat sejak lahir, dan cacat baru. Sakit di sini maksudnya sakit menahun. Flu, pilek, sakit kepala atau sakit musiman tidak masuk dalam golongan ini. Lanjut usia yang dimaksud juga bukan pensiunan, TNI, Polri atau PNS.

Kedua, miskin yang disebabkan oleh faktor budaya. Yaitu, malas (tenang-tenang saja, tidak mau kerja), tidak disiplin pada diri sendiri (tidak menggunakan waktu dengan baik, lebih banyak bicara daripada berbuat), dan boros (tidak pandai mengatur keuangan keluarga).

Ketiga, miskin yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Seperti distribusi aset negara yang tidak merata, kebijakan ekonomi yang diatur oleh pemerintah tidak memihak kepada rakyat, kolusi (bermain suap dengan uang negara), korupsi (uang negara dipergunakan oknum pejabat/pelaku untuk kepentingan pribadi), nepotisme (menguntungkan keluarga dan kerabat dengan uang negara).

Silahkan pilih. Anda ada di mana? Anda tidak akan memilih kategori kedua agar mendapat BLT atau BLM sosial dari P2KP kan? (Thomas F Delaseh, Koordinator BKM Menjalin, Kecamatan Menjalin, Landak, KMW I P2KP-2 Kalbar; nina)

(dibaca 1089)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 1498, akses halaman: 1700,
pengunjung online: 130, waktu akses: 0,025 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank