Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
Warta & Media
Jum'at, 3 September 2010
, Selamat datang di website P2KP!
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: warta-at-pnpm-perkotaan.org.

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, minimal 1 halaman (penuh), maksimal 4 halaman.

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.

Warta:  Arsip Cerita
Kirim | Daftar | Arsip | Cetak
Bone, 2 Maret 2007
Tiada Lagi Jalan Berlubang di Ammasangan

Jalanan menuju Dusun AmmasanganAmmasangan, salah satu dusun di Desa Apala, Kabupeten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang menyimpan banyak pesona. Tidak hanya karena masyarakatnya sangat ramah, alam pertanian yang hijau dan subur pun memesona. Sepanjang mata memandang adalah hamparan persawahan luas, ditumbuhi tanaman padi yang konon dapat dipanen dua kali setahun. Barisan pohon kelapa juga turut menghiasi jalan menuju ke Ammasangan.

Hanya saja, untuk mencapai ke pusat perkampungan Ammasangan dengan kendaraan, para pengemudi hendaknya siap mental. Karena, kondisi jalannya berlubang, becek dan kadang berlumpur, sehingga sungguh merepotkan para pengendara, khususnya roda empat. Tapi, semua berubah. Kini, para pengendara bisa menikmati hasil pembangunan jalanan oleh masyarakat, atas fasilitasi Panitia kemitraan.

“Kami tidak pernah membayangkan jalanan di dusun ini akan bagus seperti yang ada sekarang. Sudah berpuluh tahun jalanan ini tidak pernah tersentuh pembangunan. Jangankan kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun relatif sulit untuk lewat, karena jalanannya berlubang dan becek. Berkat kehadiran P2KP dengan program PAKET-nya, akhirnya pembangunan jalanan ini terfasilitasi. Masyarakat sangat gembira dengan hasilnya. Pete-pete (kendaraan umum—red) pun sudah bisa keluar masuk mengantar penumpang dari dan akan ke pasar,” tutur mantan Kepala Dusun Ammasangan Mappintanra Dg Mabbate kepada TA Kebijakan Publik KMW VIII P2KP-2 Sulsel Syamsu Alam, Sabtu (17/2/2007) lalu.

Jalan dusun tersebut memang berfungsi sebagai jalan penghubung warga dengan desa tetangganya (Desa Sugiale), serta sebagai jalan tani. Berkat jalan ini, petani dapat mengangkut sarana produksi (pupuk dan benih) serta hasil buminya (padi, kelapa dan kakao) dengan leluasa dari sawah ke rumah, atau ke pasar lokal dan pasar kecamatan.

Jalan sepanjang 3 kilometer dengan lebar 4 meter itu dibangun ulang dengan memanfaatkan dana Rp 230 juta, terdiri dari dana Paket (Rp 100 juta), APBD (Rp 50 juta), dan swadaya masyarakat (Rp 80 juta). Adapun Panitia kemitraan yang memfasilitasi pembangunan itu beranggotakan 11 orang, yang terdiri atas perwakilan dari Dinas PU, pengusaha, serta masyarakat.

Pengerjaan jalan 100% dilakukan oleh warga masyarakat setempat (swadaya), yakni bergotong-royong tanpa diupah. “Kita hanya dibelikan rokok. Kita mau kerjakan, karena jalan itu punya kita. Syukur ada yang menyediakan bahannya,” aku seorang warga yang tidak bersedia disebut namanya. Sementara itu, seorang warga lain bernama Nursiah, yang dijumpai di bawah kolom rumahnya mengatakan, terbangunnya jalan tersebut memudahkan warga bepergian ke pusat kota kecamatan dan kota kabupaten. “Sekarang mobil angkutan umum sudah bisa masuk 2 - 5 kali sehari,” jelasnya.

Fenomena ini menunjukkan, kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi membangun desanya telah tumbuh. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” demikian falsafah mereka sekarang. Artinya, masyarakat sebenarnya memiliki kepedulian tinggi untuk membangun dirinya, keluarganya, dan lingkungannya jika mereka diberikan peran, tanggung jawab dan wewenang dalam proses pengambilan keputusan. Karena, dengan begitu mereka bisa mengekspresikan dan menunjukkan bahwa mereka juga mampu berbuat jika dipercaya untuk melakukan sesuatu demi kemaslahatan mereka sendiri.

Oleh karena itu, sebagai pemberdaya sejati, berdayakanlah mereka seutuhnya agar mereka tumbuh dan berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa harus banyak bergantung dengan pihak lain. Merekalah yang harus tampil sebagai pionir serta pilar tegaknya nilai-nilai kemanusian dalam memberantas kelaparan dan kemiskinan yang membelenggu selama ini.

Kelaparan, kemiskinan, dan kebodohan merupakan penyebab utama terjadinya kemunduran serta keterbelakangan. Dengan pendekatan kebersamaan, kesetaraan, kesepadanan dan kemitraan sinerjik, ketiga masalah di atas niscaya dapat teratasi. Sehingga, di tahun mendatang semua hal yang menyebabkan masyarakat kita mundur dan terbelakang mampu diberantas, di antaranya melalui program MDGs. (Syamsu Alam, TA Kebijakan Publik KMW VIII Sulsel; Nina)

(dibaca 339)
Kembali ke atas
 
Tim pengelola website
PNPM Mandiri Perkotaan
Jl. Penjernihan 1, No. 19 F,
Pejompongan - Jakarta Pusat 10210
Telp: (021) 70912271, (021)-70952271
Home | Warta | Media | Best practice | Forum | Pustaka | Aplikasi | Laporan | F A Q | Kontak
Total pengunjung hari ini: 6052, akses halaman: 9557, pengunjung online: 130, waktu akses: 0,016 detik.