Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArsip WartaArsip CeritaEmpat Kartini P2KP “Permalukan” Laki-laki
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Halmahera, 19 Juli 2007
Empat Kartini P2KP “Permalukan” Laki-laki

Setelah tertunda selama hampir tiga hari tiga malam, akhirnya Tim Faskel Kecamatan Loloda Utara (Lolut), yang dikomandani Muhlis Muin dan Burhan Said bisa berangkat juga. Tepatnya, Rabu 27 Juni 2007 pukul 23.30 WIT. Dengan ditemani terpaan ombak dan angin malam pantai Kota Tobelo yang hangat kedua tim faskel itu berangkat dengan menggunakan dua perahu berbeda. Satu untuk jurusan Loloda Utara Daratan, satu lagi untuk Loloda Kepulauan.

Seharusnya mereka tiba di Kota Tobelo (ibukota Kabupaten Halmahera Utara) pada Minggu, 24 Juni 2007, bersama dengan tim faskel lain. Namun, setelah dilakukan konfirmasi dengan pihak pelabuhan ternyata keberangkatan kapal ke Lolut hanya pada Sabtu dan Rabu malam. Jadi, selama tiga malam mereka harus “tinggal” di penginapan sederhana, dengan sewa Rp 55.000 per kamar per malam. Harga ini tergolong murah, karena rata-rata penginapan standar di Kota Tobelo adalah Rp 100.000 per malam, dan Rp 165.000 untuk kamar ber-AC.

Nasib lebih beruntung dialami dua tim dari Morotai Selatan Barat (Morselbar), yang berangkat dua hari sebelumnya, sekalipun tujuan kapal mereka tidak langsung ke pusat kecamatan (Wayabula), melainkan harus turun di Desa Cio Geron, yang berada di ujung utara Kecamatan Morselbar. Dari situ, mereka harus berjalan kaki atau menyewa katinting (perahu kecil) menuju pusat kecamatan atau ke desa lokasi sasaran P2KP lain.

Tim Lolut sendiri berjumlah tujuh orang, dari yang seharusnya sembilan orang, masih ada kekurangan dua orang faskel infrastruktur. Dari tujug orang yang berangkat itu, empat di antaranya adalah perempuan. Cerita menjadi menarik ketika pembagian Tim Faskel KMW XIV berlangsung. Yaitu, enam dari delapan orang yang ditempatkan di Lolut mengundurkan diri. Mereka adalah satu orang SF dan lima faskel, yang kesemuanya laki-laki. Sedangkan yang masih bertahan adalah Muhlis Muin dan Nurjana Wahid.

Pengunduran diri mereka didasari pada informasi akan beratnya medan pada lokasi sasaran. Lolut, yang terletak di ujung timur Pulau Halmahera, memang merupakan wilayah yang belum bisa ditempuh lewat jalan darat. Kecuali, bersedia berjam-jam berjalan kaki membelah hutan dan bebukitan. Apalagi jika masuk bulan yang berakhiran “ber”: September, Oktober, November, dan Desember. Karena, saat itulah gelombang laut Maluku (Samudera Pasifik) cukup besar, akibatnya kapal tidak akan bisa merapat di pantai, sehingga penumpang harus turun sekitar 300 meteran dari pantai, untuk kemudian berenang atau dijemput katinting menuju ke daratan.

Setelah melalui bongkar pasang dan seleksi personel didapatkan hasil yang agak mengejutkan. Dari lima orang yang bersedia bergabung dengan tim Lolut, tiga di antaranya adalah perempuan. Mereka adalah Rita Amir, Jahra Idris dan Salma Lahia, sehingga faskel perempuan di Tim Lolut berjumlah empat orang. Mereka inilah kartini P2KP yang telah mengalahkan nyali ciut para laki-laki, yang sebelumnya mengundurkan diri.

Sehari sebelum berangkat, mereka bertemu Sekcam Lolut, yang kebetulan sedang menjenguk keluarganya di Kota Tobelo. Menurut Sekcam, Kecamatan Lolut memiliki operasional perahu motor, yang juga bisa digunakan oleh tim faskel. Kendalanya, di wilayah Lolut tidak ada penjual BBM. Akhirnya, kedua tim faskel mengumpulkan uang sejumlah Rp 360.000 untuk membeli BBM, dan diangkut dengan kapal ke Lolut. Selamat berjuang kawan-kawan! Buktikan perjuangan kalian tidak sia-sia.. (Farid S Zuhri, Askorkot Morselbar dan Lolut, KMW XIV P2KP-3 Maluku; Nina)

(dibaca 1125)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 2598, akses halaman: 4647,
pengunjung online: 184, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank