Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArsip WartaArsip ArtikelKemiskinan Kultural dan FGD-RK
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Sumba, 24 September 2007
Kemiskinan Kultural dan FGD-RK

Dalam bukunya: Voices of the Poor, Deepa Narayan, dkk. menulis, hal yang menyulitkan atau membuat kemiskinan itu sulit ditangani adalah sifatnya yang tidak saja multidimensional, tapi juga saling mengunci; dinamik, kompleks, sarat dengan sistem institusi (konsensus sosial), gender dan peristiwa yang khas per lokasi. Pola kemiskinan sangat berbeda antarkelompok sosial, umur, budaya, lokasi dan negara, juga dalam konteks ekonomi yang berbeda.

Demikian pula dengan yang terjadi di Sumba Barat Nusa Tenggara Timur. Terkait dengan sifat kemiskinan yang multidimensional, ada yang kita kenal dengan kemiskinan struktural dan kultural, bahkan dalam ilmu antropologi dikenal adanya kebudayaan kemiskinan atau mentalitas kemiskinan.

Berbicara tentang kemiskinan struktural, artinya struktur yang membuat orang menjadi miskin, dimana masyarakat tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan tidak mendapatkan akses secara baik. Disebut kemiskinan kultural, adalah budaya yang membuat orang miskin, yang dalam antropologi disebut Koentjaraningrat dengan mentalitas atau kebudayan kemiskinan sebagai adanya budaya miskin. Seperti, masyarakat yang pasrah dengan keadaannya dan menganggap bahwa mereka miskin karena turunan, atau karena dulu orang tuanya atau nenek moyangnya juga miskin, sehingga usahanya untuk maju menjadi kurang. Semakin banyak program-program yang bergerak dalam penanggulangan kemiskinan, namun makin banyak pula jumlah orang miskin.

P2KP datang untuk menjawab semua persoalan kemiskinan yang kompleks dan multidimensional tersebut dengan konsep dan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatannya. Yakni, bahwa inti dari semua persoalan kemiskinan, menurut P2KP, adalah perilaku manusia yang tidak baik. Ketika dikatakan kemiskinan struktural, maka di dalam struktur itu ada orang-orang berperilaku tidak baik yang tidak memberikan akses kepada masyarakat miskin, sehingga kesenjangan antara orang miskin dan non miskin menjadi semakin menganga. Ketika berbicara tentang kemiskinan kultural, bahwa budayalah yang membuat orang miskin, maka P2KP datang dengan konsep penyadaran kritisnya, siapa yang berada pada lembaga pembuat budaya tersebut, bagaimana akibat dari budaya tersebut terhadap kehidupan masyarakat.

Ketika berbicara tentang budaya miskin atau mentalitas kemiskinan, maka P2KP menjawab dengan konsep manusia yang berdaya melalui penyadaran kritis, bahwa manusia yang berdaya adalah manusia pemberi. Bagaimana orang miskin bisa memberi kalau untuk dirinya sendiri dia tidak punya. Jadi, inti dari P2KP adalah penyadaran-penyadaran dan nilai-nilai luhur.

Saat ini (Agustus-September 2007), Fasilitator P2KP di Korkot-3 Pulau Sumba NTT tengah melaksanakan kegiatan Pelatihan Relawan dan Coaching RK. Inilah saatnya P2KP ”menancapkan kuku” di masyarakat. Artinya, dimulai dari Pelatihan Relawan dan RK, P2KP harus mulai mencari akar penyebab kemiskinan yang sering diungkapkan masyarakat dalam FGD.

Dimulai dari pelatihan relawan ini, proses pembelajaran P2KP berjalan. Tidak hanya pembelajaran bagi masyarakat maupun fasilitator, melainkan pembelajaran bagi P2KP itu sendiri. Sehingga, ketika P2KP menemukan sesuatu yang baru di masyarakat, hal tersebut bisa dijadikan bahan untuk diramu/diracik guna memunculkan suatu ramuan baru yang bisa lebih meningkatkan kemampuan P2KP dalam menanggulangi kemiskinan.

Kenapa penulis mengatakan bahwa P2KP mesti belajar? Seperti diungkapkan oleh Deepa Narayan, dkk tadi, pola kemiskinan sangat berbeda antar kelompok sosial, umur, budaya, lokasi dan negara, juga dalam konteks ekonomi yang berbeda. Sehingga, penanganannya juga akan berbeda, sesuai dengan karakter masyarakat dan pola kemiskinannya.

Berdasarkan pengamatan penulis, ketika dilakukan FGD-RK pada masyarakat Sumba Barat, jawaban yang sering muncul ketika ditanya kenapa miskin adalah karena budaya. Bahwa di Pulau Sumba, khususnya Sumba Barat terdapat banyak pesta atau acara adat yang membutuhkan dana besar dalam pelaksanaannya. Misalnya, acara kematian, dilakukan pemotongan hewan seperti sapi, kerbau, babi, dan anjing dalam jumlah yang tidak sedikit. Dan, itu merupakan suatu kewajiban dalam adat. Bahkan, menurut salah seorang peserta pelatihan relawan di Kelurahan Kampung Sawah, ada warga yang mencuri demi mengikuti adat.

Dalam Pelatihan Relawan dan Coaching RK yang dilakukan selama lima hari, fasilitator memberikan materi mulai dari belajar bersama, yang terdiri dari Mitra Belajar, Orientasi Belajar dan Kontrak Belajar, Paradigma Pembangunan, Anatomi Kemiskinan, P2KP dan Kemiskinan, Strategi Intervensi P2KP, Pemberdayaan Sejati, Kepemimpinan, Citra Diri Relawan, dll. Tampak antusiasme masyarakat di beberapa kelurahan/desa.

Bahkan, ketika pelatihan digelar di desa yang notabene pendidikan masyarakat rata-rata SD dan SMP, masyarakat malah terlihat lebih semangat dan bisa menerima materi dengan baik. Hal ini terlihat di Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat NTT. Yakni, ketika fasilitator menfasilitasi penyepakatan kontrak belajar, ada peserta yang merasa berkewajiban melapor kepada ketua kelas dan fasilitator, karena pada hari kedua dirinya tidak bisa hadir, bahkan berusaha mencarikan penggantinya untuk hadir keesokan harinya. Juga, saat salah seorang peserta disuruh me-review materi hari sebelumnya, dia telah menghafal catatan hari sebelumnya, sehingga ia menyampaikan materi di kelas dengan sangat sempurna, tanpa melihat catatan.

Penulis melihat, kesempatan yang diberikan kepada masyarakat ini merupakan pengalaman baru bagi mereka. Terlepas dari ”ada udang di balik bakwan” atau tidak, tapi setidak-tidaknya penyadaran yang dilakukan secara berulang-ulang sedikit banyak akan bisa menggeser paradigma yang ada. Ini merupakan langkah awal bagi P2KP untuk melakukan siklus-siklus selanjutnya.

Ketika FGD-RK di masyarakat, karena sudah ada gambaran sekilas tentang adanya kemiskinan kultural di Sumba Barat, maka FGD-RK dilakukan dengan melibatkan olah pikir, apa akar penyebab kemiskinan, yaitu lunturnya nilai-nilai luhur dan olah rasa. Bagaimana peserta melibatkan rasa, dimana ketika ada orang miskin siapa yang peduli, dan bagaimana seharusnya kita terhadap orang miskin tersebut.

Terkait dengan PRA, FGD-RK ini merupakan salah satu teknik PRA. Maka, pelaksanaannya pun sangat ditentukan oleh kredibilitas fasilitator. Jika fasilitator tidak mampu mengarahkan FGD-RK ini kepada olah pikir dan olah rasa, maka niscaya penyadaran-penyadaran di masyarakat tidak akan berjalan dengan sempurna. Bagaimana masyarakat bisa menyadari bahwa mereka miskin karena budaya atau adanya kemiskinan kultural, atau bahwa mereka miskin karena perilaku yang jika dikaitkan dengan budaya tadi adanya perilaku boros dalam masyarakat, atau adanya perilaku gengsi dalam masyarakat. Kalau mereka tidak melakukan pesta secara besar-besaran, maka apa pandangan masyarakat terhadap mereka. Ini yang mesti dilakukan oleh P2KP. Belajar dari masyarakat dan meramu obat untuk membasmi virus yang ada di masyarakat.

Ini yang mesti menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Benarkah konsep belajar dari pengalaman yang ada di P2KP, kita terapkan? Dan, benarkah proses penyadaran-penyadaran di masyarakat berjalan sesuai dengan polanya? Kalau semua berjalan dengan sempurna, maka yakinlah semua akan amannnn..! Tapi, jika semua berjalan dengan tidak sempurna, bahkan salah penyampaian, maka akibatnya akan sangat berbahaya, karena virus-virus yang ada di masyarakat akan bertambah mengganas dan menyebar kesetiap pelosok dunia. Sepakat? (Sarmiati, Pemerhati P2KP di Sumba Barat, KMW XII P2KP-3 NTT; Nina)

(dibaca 4181)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 1521, akses halaman: 1611,
pengunjung online: 207, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank