Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArsip WartaArsip CeritaKok Bisa Ya, Dana Bergulir Kembali 100 Persen
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Banda Aceh, 2 Februari 2009
Kok Bisa Ya, Dana Bergulir Kembali 100 Persen

“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Perkenalkan saya Sri dari BKM Ulee Pata. Saya mau tanya mengenai program dana bergulir di Desa Lamteumen Barat. Di desa, kami dana bergulir yang diterima warga dianggap hibah, jadi mereka tidak mau mengembalikan. Bagaimana dengan pelaksanaan pemberian pinjaman dana bergulir di Lamteumen Barat? Katanya di sini berjalan baik. BKM kami ingin belajar dari Lamteumen Barat.” Begitu, Sri, petugas UPK dari BKM Desa Ulee Pata, Kota Banda Aceh bertutur dengan suara nyaring. Semua hadirin dalam acara studi banding BKM di Desa Lamteumen Barat, Minggu (11/1/2009) tampak serius menyimak kata demi kata yang keluar dari mulut Sri.

Pada Minggu yang cerah itu memang dilangsungkan kegiatan studi banding BKM dengan BKM Lamteumen Barat sebagai tuan rumah. Puluhan orang, lelaki perempuan, bahkan dua balita, duduk lesehan dengan posisi melingkar di lantai Sekretariat PKK Desa Lamteumen Barat. Para tamu BKM Lamteumen Barat datang dari delapan BKM. Studi banding BKM di Lamteumen Barat ini juga dihadiri Team Leader KMW I NAD Tafjani Kholil dan Koordinator Kota Banda Aceh Imam Baihaqi.

“Baiklah, Bu. Kami akan berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan pemberian pinjaman dana bergulir di Lamteumen Barat. Pak Saidi dari UPK Lamteumen Barat akan menjelaskan,” kata Bustami, pimpinan kolektif BKM Lamteumen Barat sambil berpaling kepada Saidi yang duduk di sampingnya.

Saidi yang sudah dipersilakan pimpinan kolektif BKM Lamteumen Barat untuk memberikan penjelasan mengawali keterangannya dengan ucapan salam. “Alhamdulillah, pelaksanaan pemberian pinjaman dana bergulir di BKM kami sudah berlangsung dengan baik. Pada tahap pertama kami menyalurkan sebanyak Rp29 juta. Kemudian pada tahap kedua kami salurkan Rp16 juta. Semuanya sampai kepada yang berhak. Dan seluruhnya kembali. Artinya tingkat pengembaliannya mencapai 100 persen,” sebut Saidi.

“Kok bisa pinjaman kembali 100 persen? Bagaimana caranya bisa begitu?” kejar Sri.

“Jadi begini. Setiap usulan yang masuk kami verifikasi. Pinjaman hanya kami berikan kepada anggota KSM yang punya basis usaha. Setelah para calon peminjam diverifikasi, kemudian kami kumpulkan. Mereka diminta menandatangani surat persetujuan utang. Di dalam surat itu terdapat pasal-pasal sanksi jika mereka menunggak atau tidak bayar. Kami juga jelaskan kepada mereka bahwa dana yang dipinjamkan benar-benar pinjaman, bukan hibah. Jadi mereka wajib mengembalikan dana pinjaman tersebut,” kata Saidi.

Lebih lanjut, menurut Saidi, pasca penerimaan dana bergulir anggota KSM peminjam diberi kesempatan untuk mengelola dananya selama satu bulan. Bulan berikutnya, peminjam diwajibkan mulai mencicil. Total cicilan sebanyak lima kali. Anggota KSM yang sudah melunasi pinjamannya senilai Rp 500.000, jika memenuhi syarat yang telah ditetapkan, dapat meminjam lagi dengan nilai lebih tinggi, yaitu Rp 1 juta. “Peminjam yang tepat waktu dalam membayar cicilannya menjadi prioritas untuk memperoleh pinjaman tahap selanjutnya yang nilainya lebih besar,” sebut Saidi.

Peran keuchik atau kepala desa juga tidak disepelekan oleh BKM Lamteumen Barat.  Bustami, menambah keterangan Saidi, mengatakan bahwa  BKM  bekerja sama dengan  keuchik  terkait penyaluran dana bergulir ini. “Kepada pak keuchik kami sampaikan daftar warga peminjam dana bergulir,” ujar Bustami. Berdasarkan data itu, lanjut dia, keuchik mengetahui nama-nama warga peminjam dana bergulir. BKM akan memberi tambahan data  peminjam yang menunggak dan tidak membayar pinjaman. Kepada keuchik, BKM meminta agar segala urusan administrasi desa peminjam yang bermasalah ditahan dulu sampai yang bersangkutan melunasi pinjamannya.

“Jadi kepada  peminjam bermasalah itu perlu diberi sanksi sosial,” kata Bustami.

“Sudah ada berapa orang peminjam yang diberi sanksi?” tanya Sri.

“Alhamdulillah sampai sekarang belum ada seorang pun peminjam yang terkena sanksi. Semuanya mengembalikan. Yang terjadi di kami hanya bergeser tanggal pembayaran saja,” jawab Bustami.

Demikian sekelumit pembelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan studi banding BKM di Desa Lamteumen Barat, Kota Banda Aceh. (Wawan Priatna, TA Sosialisasi KMW I P2KP-3 NAD, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

(dibaca 987)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 9343, akses halaman: 17511,
pengunjung online: 624, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank