Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArsip WartaArsip CeritaKediri Berkiprah di Udara Lewat Bonansa
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Kediri, 18 Mei 2010
Kediri Berkiprah di Udara Lewat Bonansa

Seiring progres pemanfaatan BLM Tahun 2009 di tataran masyarakat, Koordinator Kota Kediri melaksanakan serangkaian talk show radio atau dialog interaktif PNPM Mandiri Perkotaan di Radio Bonansa 105,1 FM, pada 15-29 Maret 2010.

Kegiatan yang didanai BOP Pemda Kota Kediri ini dimaksudkan agar pemahaman substansi BLM tidak dimaknai sebagai tujuan belaka, melainkan sebagai stimulus atau perangsang atas upaya yang selama ini sudah berjalan secara turun-temurun di masyarakat dalam bentuk kearifan lokal, seperti keswadayaan, gotong-royong, kebersamaan dan kepedulian. Harapannya, tumbuh kesadaran kritis, perubahan sikap dan perilaku masyarakat.

Sebab itu, sosialisasi macam ini harus terintegrasi dalam aktivitas pemberdayaan dan dilakukan secara terus-menerus guna memampukan masyarakat menanggulangi masalah-masalah kemiskinan secara mandiri dan berkelanjutan. Kegiatan ini penting dilakukan saat pemanfaatan BLM berjalan di lapangan. Karena, biasanya pemahaman masyarakat sering bias manakala mendengar bahwa dana BLM sudah cair.

Dalam PNPM Mandiri Perkotaan, pemanfaat kegiatan adalah warga miskin atau pra sejahtera. Namun, acap kali ketika dana BLM cair, fenomena yang terjadi adalah munculnya orang yang tidak miskin, tapi mengaku-aku miskin. Ada juga lokasi RT yang ingin mendapatkan dana BLM, padahal lokasi tersebut bukan kantong kemiskinan. Banyak hal yang terkait penetapan prioritas perlu ditandaskan kembali, bukan pemerataan wilayah, yang ingin diraih dalam program ini.

Berdasarkan hal tersebut, kegiatan sosialisasi berbentuk talk show radio mempunyai peranan yang sangat penting khususnya dalam memperbaiki pemahaman masyarakat luas tentang substansi program PNPM Mandiri Perkotaan, agar stakeholders terkait, baik pemerintah, pihak swasta maupun kelompok peduli, bisa secara bersama-sama bangkit dan berkontribusi aktif untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.

Adapun kegiatan talk show di Radio Bonansa FM dilakukan sebanyak tujuh kali. Talk show dimulai pada 15 Maret 2010 dengan materi “Misi dan Strategi PNPM Mandiri Perkotaan dalam Pendampingan Menuju Masyarakat Mandiri”. Secara bergantian Budi Hartono, Muadib Setyadi, Matnurhassan dan Ratna menjelaskan bahwa dalam PNPM Mandiri Perkotaan diperlukan sebuah proses panjang sebelum melakukan transformasi sosial di masyarakat. Masyarakat miskin tidak serta-merta bisa berubah, simsalabim menjadi masyarakat yang berdaya, manakala tidak ada upaya atau usaha untuk melakukan perubahan. Strategi PNPM Mandiri Perkotaan dalam proses transformasi sosial ini dikemas dalam bentuk tahapan siklus, mulai dari RKM, Refleksi Kemiskinan, Pemetaan Swadaya, Pembentukan LKM dan Penyusunan PJM Pronangkis. Lewat tahapan siklus ini diharapkan ada proses pembelajaran di masyarakat.

Kemudian, pada sesi tanya-jawab, salah satu penanya mempertanyakan soal lamanya proses di PNPM Mandiri Perkotaan. “Kenapa kok pencairan BLM tidak segera dicairkan saja, sebab masyarakat sudah menunggu dan bosan diajak pertemuan terus.”

Pada pertemuan kedua, 17 Maret 2010, talk show dilakukan dua kali, yaitu pagi dan malam hari. Materi yang diberikan adalah “Pentingnya Kerelawanan dalam Penanggulangan Kemiskinan”, dengan narasumber SF Tim 36, Askot Infra, Relawan Kelurahan Tempurejo, Anggota KBP dari LSM Paguyuban Perempuan Peduli Kota Kediri atau P3K2.

Materi berikutnya di hari itu adalah “Peran dan Fungsi LKM, UP-UP” dengan narasumber Faskel CD TF 35 & 41, LKM Kelurahan Pojok. Dijelaskan oleh Khoirul Anwar, Dian Sukesi, Sumijan dan Bu Condro dari LSM perempuan bahwa proses perubahan sosial dan penanggulangan kemiskinan tidak akan terjadi manakala tidak ada volunterisme atau relawan peduli. Peran relawan-relawan, yang tidak digaji tapi aktif di LKM, sangat penting sebagai motor penggerak kepedulian dan gerakan bersama dalam menanggulangi kemiskinan.

Pada pertemuan ketiga, 19 Maret 2010, materinya adalah “PJM Pronangkis Kelurahan dan Pemanfaatan BLM” dengan narasumber SF TF 39, Tim PS Kelurahan Manisrenggo, Tim PJM Kelurahan Rejomulyo. Dalam hal ini, Muhammad Yasir dan Djoko menjelaskan, dalam proses perencanaan partisipatif atau penyusunan dokumen PJM nangkis, banyak melibatkan berbagai unsur masyarakat setempat. Artinya, orang dalam yang lahir dan dibesarkan di sebuah wilayah adalah orang yang paling tahu akan masalah, potensi dan kebutuhan wilayah.

Oleh sebab itu, jika dalam proses perencanaan pembangunan mengacu pada pola bottom up, sudah seyogianya aspirasi masyarakat diejawantahkan dalam program tingkat kelurahan. PJM Nangkis yang menjadi milik masyarakat merupakan dokumen induk perencanaan program jangka menegah selama tiga tahun yang berisikan program penanggulangan kemiskinan.

Pada pertemuan keempat, 22 Maret 2010, talk show juga dilakukan dua kali—pagi dan malam hari—dengan materi “Komunitas Belajar Kelurahan”, narasumber SF TF 41, Faskel CD TF 39, Relawan Kelurahan Ngadirejo. Materi berikutnya, “Channeling dan Kemitraan”, dengan narasumber SF TF 38, Askot MK, LKM Kelurahan Singonegaran, Timbul Jaya Motor. Dijelaskan oleh narasumber Asikawati dan Herlin Tio Marinda, Ahmad Nashiruddin, Cutmala Hayati Anshari, Suparno bahwa relawan yang ada di tiap-tiap kelurahan perlu sebuah forum untuk berkumpul mendiskusikan kemiskinan yang ada di kelurahan.

Kegiatan mendiskusikan dan membahas kemiskinan ini diharapkan dijadikan sebagai tradisi, sehingga menjadi ajang komunitas belajar kelurahan. Sedangkan untuk kegiatan kemitraan/channeling dalam PNPM Mandiri Perkotaan dinilai penting dalam upaya melakukan terobosan bekerja sama dengan pihak terkait. Hal ini merupakan salah satu langkah kemandirian LKM agar ke nyadepan tidak hanya berorientasi BLM saja sebagai jalan keluar dari persoalan di masyarakat.

Sejauh ini ada lima LKM yang sudah bisa bekerjasama dengan PT Timbul Jaya Motor terkait pengadaan 10 papan informasi yang di tempel di 10 titik strategis. Papan informasi dibuat PT Timbul Jaya Motor, berikut maintenance, jika terjadi kerusakan akan diganti. Tentunya ini menjadi awal yang baik, minimal untuk bahan pelajaran bagi LKM lainnya agar ke depan bisa didorong melakukan kemitraan/channeling yang lebih baik.

Hari kelima, 29 Maret 2010, materinya “Membangun Sinergi Masyarakat, Pemerintah dan Kelompok Peduli dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin” dengan narasumber Korkot PNPM Mandiri Perkotaan Kota Kediri, Kabid Fisrana Bappeda, PPK Dinas Pekerjaan Umum Kota Kediri. Narasumber Bambang Sukohadi, Budi Waluyo dan Sunarto menjelaskan, penanggulangan kemiskinan memang tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan integral dengan melibatkan stakeholder terkait, yakni pemerintah, pihak swasta dan masyarakat peduli. Ketiganya harus bersinergi guna menanggulangi kemiskinan secara bersama.

Kabid Fisrana Bappeda Budi Waluyo juga menyampaikan bahwa di Kota Kediri ada program Sistem Manajemen Pembangunan Partisipatif (SMPP) yang berjalan di kelurahan. Diharapkan program PNPM Mandiri Perktoaan bisa berjalan saling mendukung dan melengkapi tanpa terjadi benturan di lapangan. Proses saling mendukung ini juga bagian dari sinergi program daerah dengan program PNPM Mandiri Perkotaan, dengan harapan dapat sama-sama berkontribusi terhadap pembangunan di Kota Kediri.

Sementara itu, Sunarto dari Dinas Pu Kota Kediri mengibaratkan, Korkot dengan Satker itu seperti suami dan Istri dalam PNPM Mandiri Perkotaan, bisa benar-benar saling mengerti dan memahami, sehingga proses pemberdayaan masyarakat miskin ini bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya. Sinergi antarpelaku yang benar-benar saling didasari kesepahaman terkait upaya pemberdayaan masyarakat ini diharapkan bisa mensukseskan program ini. (Bams. K06 Kota Kediri, OC-6 Provinsi Jawa Timur, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

(dibaca 1254)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 6230, akses halaman: 6605,
pengunjung online: 208, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank