Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArsip WartaArsip ArtikelPNPM: Aksi Nyata Melawan Kemiskinan
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Nganjuk, 24 Agustus 2010
PNPM: Aksi Nyata Melawan Kemiskinan

Gurita kemiskinan seolah menjadi takdir sejarah yang sulit beranjak di negeri ini. Di setiap lembaran rezim yang berkuasa, pengurangan angka kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan adalah janji manis yang sering disampaikan oleh elit politik. Namun, setelah menjadi penguasa, mereka amat mudah melupakan rakyat. Rakyat seringkali dijadikan komoditas politik. Janji kesejahteraan, lapangan pekerjaan pengurangan pengangguran, hanya menjadi diskursus semu yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Kepala Pusat Badan Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan bahwa angka kemiskinan pada Maret 2009, jumlah kemiskinan berkisar 14.15 persen, dan data pada Maret 2010 angka kemiskinan tidak jauh berbeda. Sementara itu, di Jawa Timur pada Maret 2010 angka kemiskinan sebesar 5,529 juta (15,26 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang berjumlah 6,022 juta (16,68 persen). Berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 493 ribu jiwa.

Jika dikalkulasi secara matematika, angka kemiskinan berdasarkan wilayahnya, maka kemiskinan pada Maret 2009-Maret 2010 penduduk miskin yang ada di desa berkurang 218.320 orang sementara di daerah perkotaan berkurang 274.970 orang (Kompas Maret 2010). Jumlah penduduk miskin antara pedesaan dan perkotaan tampaknya tidak banyak berubah. Buktinya pada Maret 2010 angka kemiskinan yang ada di pedesaan mencapai 66,12 persen (BPS Jawa Timur, Maret 2010).

Tragisnya, kemelut kemiskinan yang menerpa warga miskin adalah masalah makanan. Mendiskusikan kemiskinan dan kesejahteraan barangkali tidak akan ada habisnya. Ragam formulasi dan metodologi seolah hanya berada dalam dunia imajiner yang sulit diterapkan. Padahal, kemiskinan menjadi salah satu sumber muculnya masalah sosial yang amat kompleks.

Di tengah carut-marutnya masalah kemiskinan yang menerpa masyarakat kita, pemerintah tidak pernah berhenti untuk melakukan inovasi dan strategi dalam menuntaskan dan menanggulangi kemiskinan. Hal ini terbukti dengan adanya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan dan PNPM Perdesaan yang di-launch pada 30 April 2007, di Palu oleh Presiden SBY.

Keseriusan pemerintah dalam menuntaskan endemik kemiskinan bisa dibuktikan dari pemberian dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri Perkotaan kepada masyarakat miskin. Hal ini terjadi di daerah Kabupaten Nganjuk.

Berdasarkan DIPA Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pembangunan Infrastruktur Permukiman (PIP) Kabupaten Nganjuk, Nomor 0776.0/033-05.1/-/2009, tanggal 31 Desember 2008, Kabupaten Nganjuk mendapatkan pagu dana BLM sebesar Rp8,9miliar, yang terdiri dari APBN sebesar Rp7,12miliar dan APBD sebesar Rp1,78miliar. BLM sebagai dana stimulan sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat miskin di Kabupaten Nganjuk, yang tersebar di tiga kecamatan—Kecamatan Nganjuk, Kecamatan Kertosono dan Kecamatan Bagor, dengan jumlah total 50 desa yang penerima PNPM Mandiri Perkotaan.

Jika dirinci adalah 13 desa dan 1 kelurahan itu ada di Kecamatana Kertosono, 15 kelurahan ada di Kecamatan Nganjuk, dan 21 desa ada di wilayah Kecamatan Bagor. Sementara itu, pada tahun pelaksanaan 2010, Kabupaten Nganjuk mendapat bantuan dana lagi dari Pemerintah Pusat dan Daerah. Ini bukti nyata pemerintah untuk mempercepat dan mengelemenir penyakit kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat miskin.

PNPM Mandiri yang mengacu pada pertumbuhan IPM MDG’s ini adalah bukti akan komitmen pemerintah dalam menciptakan manusia unggul, sehat berpendidikan dan memiliki daya beli yang tinggi, dimana pada gilirannya kesejahteraan rakyat sebagai tanggungjawab pemerintah kepada rakyat bisa terwujud.

Berdasarkan DIPA Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pembangunan Infrastruktur Permukiman (PIP) Kabupaten Nganjuk, Nomor 0878/033-05.5/XV/2010, tanggal 31 Desember 2009 pagu dana BLM berjumlah total Rp8,8miliar, yang terdiri dari APBN berjumlah Rp7,04miliar dan APBD Rp1,76miliar.

Melawan dan memerangi kemiskinan adalah merupakan tugas kita semua. Punggung pemerintah tampaknya tidak terlalu kokoh dalam menanggung beban penyakit kemiskinan. Maka BLM yang diberikan oleh pemerintah adalah sebagai dana stimulan guna menggugah kesadaran masyarakat bahwa menanggulangi kemiskinan itu harus secara utuh.

Kemiskinan bukan persoalan pemerintah semata, bukan masalah orang miskin, tetapi masalah kita semua. Sifat kemiskinan yang multifaktor dan saling terkait tidak bisa didekati secara parsial, maka gerakan melawan kemiskinan sebagai tugas kita semua sebagai warga negara adalah cara yang paling efektif dan akselaratif, guna mengurangi kemiskinan

Hasil kajian tematik dan historis yang dilakukan oleh PNPM Mandiri Perkotaan, melalui Pemetaan Swadaya (PS 2) menemukan jumlah penduduk miskin yang tersebar di 50 desa berjumlah sekitar 20.000 KK miskin. Pemetaan Swadaya adalah metodologi yang digunakan oleh PNPM Mandiri Perkotaan untuk mendiagnosis endemik kemiskinan (baca: Data Koorkot 8 PNPM Mandiri Perkotaan).

Prinsip kemanusiaan seperti kepedulian, amanah, kejujuran, keadilan, keikhlasan tanggung jawab dan prinsip kemasyarakatan (demokrasi, transparansi, akuntabel partisipasi) menjadi nilai-nilai universal yang dikampanyekan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan. Jika dua prinsip itu dijadikan pijakan, baik oleh masyarakat, terlebih oleh pejabat publik, maka dampaknya akan dahsyat untuk mengurangi kemiskinan. Hal ini terjadi karena kemiskinan terjadi sebagai dampak dari hilangnya orang-orang yang tidak lagi menjadi manusia sejati. Manusia yang mengedepankan nilai-nilai hakiki sebagai manusia yang cenderung hanif. Akibatnya, perilaku korup, jual-beli perkara, membuat kebijakan yang tidak pro orang susah (poor) melahirkan rakyat miskin.

PNPM Mandiri Perkotaan menilai bahwa akar kemiskinan itu dilatari oleh hilangnya sifat-sifat kemanusiaan yang hakiki. Jika kejujuran dan kepedulian tidak lagi melekat dalam diri manusia, maka akan menimbulkan ekses yang kurang baik dalam pranata sosial. Tragisnya, jika sifat amanah dan tidak peduli ini kemudian ada di nadi pejabat publik dan elit politik, maka bisa dipastikan kebijakan yang dibuat adalah hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya, bukan kepentingan dan kebutuhan rakyat yang merindukan hidup sejahtera.

Oleh karena itu, itikad baik tolong menolong, saling peduli dari semua masyarakat sebagai warga negara adalah menjadi jawaban tunggal untuk mengurangi kemiskinan. Tidak ada pilihan lain bahwa menumbuhkembangkan modal sosial di masyarakat secara kolektif akan mampu mengurangi penyakit kemiskinan yang tidak kunjung usai. Tapi, jika sikap tamak, rakus, tidak peduli menjadi perangai masyarakat, utamanya pejabat publik, maka mengurangi kemiskinan dan hidup sejahtera bagi warga miskin hanya ada dalam angan-angan semata. Wallahua’lam bish-shawab. (Abdus Salam As’ad, Senior Faskel Korkot 8 Nganjuk, OC-6 Provinsi Jawa Timur, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

(dibaca 2238)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 4623, akses halaman: 5041,
pengunjung online: 146, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank