Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Arsip Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArsip WartaArsip ArtikelIman, Ilmu, Amal untuk Bekerja Bermartabat
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Jakarta, 16 Maret 2005
Iman, Ilmu, Amal untuk Bekerja Bermartabat

“Konsep bekerja sebagai ekspresi keberadaan manusia, akan menjadi lebih bermakna dan bermartabat melalui rangkaian Iman, Ilmu dan Amal.”

PERSOALAN Tenaga Kerja Ilegal (TKI), akhir-akhir ini, kembali menghangat terutama melalui mata media massa. Kita kerap menyaksikan ‘kepulangan’ mereka (TKI--pen) ke Indonesia, seiring dengan akan berakhirnya masa ‘amnesti’ atau pengampunan bagi para pekerja yang tidak memiliki izin yakni pada 28 Februari 2005 ini.

Berakhirnya masa pengampunan atau istilah ‘Negara Jiran’nya, ‘Operasi Nasihat’, berarti pula bahwa pada 1 Maret 2005, akan ada ‘Masa Penindakan’ yakni tindakan hukum dan ini berarti gelombang ‘kepulangan’ akan mencapai masa-masa puncak, dan akan sangat bermasalah apabila proses legalisasi pada setiap titik kepulangan TKI tidak cukup memadai.

Harian Kompas mencatat bahwa jumlah TKI kita di Negara Jiran berkisar antara 629.009 orang atau kira-kira 70% dari total tenaga kerja migran itu sendiri. Kita berpendapat bahwa masalah tenaga kerja tanpa izin di Negara Jiran merupakan masalah yang pelik. Namun, yang lebih pelik lagi adalah mencari akar permasalahan yang berkaitan dengan strategi besar untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih menyeluruh dan berbasis pada keunggulan komparatif kita.

Walau, sesungguhnya kita tahu dan sadar bahwa keunggulan komparatif kita adalah melimpahnya Sumber Daya Manusia (SDM), meski dengan segala kekurangannya. Selain itu juga tersedianya lahan pertanian, kehutanan serta lautan yang luas. Namun pertanyaannya adalah mengapa kita tidak mulai merancang dan mengembangkan ‘Industri Berbasis Sumber Daya’ (Resources Based Industry) secara lebih serius dan ‘all out’ mulai dari hulu, hilir serta sarana pendukungnya misalnya lembaga keuangan, irigasi, pelabuhan, pemasaran, jalan desa, angkutan massal, dsb.

Berbarengan dengan upaya itu, membenahi kepastian hukum dan ‘good governance’ untuk dapat menarik para investor baik dalam dan luar negeri, merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dengan begitu, lapangan kerja yang masif akan tercipta serta mampu menyerap sebagian besar tenaga kerja kita, formal maupun informal. Namun, tentu saja kita sadar bahwa upaya ini tidak semudah membalik telapak tangan, akan tetapi sangat memerlukan ketekunan dan tentu saja ‘political will’ yang kuat dari para pengambil kebijakan untuk secara terus-menerus mengawal pembangunan yang ‘pro-poor’. 

Forum ‘Coffee Morning’ ini, tentu bukan tempat yang tepat untuk membahas secara rinci tentang TKI dan penciptaan lapangan kerja, mengingat forum ini lebih bersifat reflektif. Namun yang relevan adalah mencoba merefleksi, mengapa orang mau berpayah-payah untuk mengejar sumber penghidupan (baca: bekerja) dengan berani mengambil resiko dikejar-kejar, dicambuk bahkan dipenjarakan di negeri orang.

Apabila kita renungkan secara mendalam, dalam agama terdapat 3 kata yang selalu dirangkai bersama yakni Iman, Ilmu dan Amal. Yang dimaksud dengan kata ‘Amal’ adalah tindakan atau perbuatan yang dalam bahasa sehari-hari disebut kerja. Dengan demikian, beramal artinya bekerja untuk melanjutkan dan mempertahankan kehidupan, atau dengan kata lain, bekerja melekat pada setiap diri. Walaupun telah terjadi ‘salah kaprah’ dalam masyarakat kita yang cenderung mempersepsikan beramal sebagai bersedekah, berderma dan memberikan sesuatu barang atau jasa  yang bermanfa’at dengan maksud memperoleh ‘ridho’ Tuhan. 

Dalam konteks diatas, bekerja bukan saja untuk mendapat upah atau gaji guna melanjutkan kehidupan (survive) dan hanya bersifat duniawi belaka, tapi lebih dari itu, bekerja merupakan cerminan eksistensi kemanusiaan atau dengan kata lain, manusia pada dasarnya adalah mahluk bekerja. Semboyan ‘saya bekerja maka saya ada’ (dari ungkapan Filosof Perancis, Rene Descartes tentang: ”saya berfikir maka saya ada’), tepat kiranya untuk menggambarkan kaitan antara bekerja dan eksistensi manusia itu sendiri.

Untuk dapat mengenal makna kerja secara jelas, kiranya perlu dibahas bentuk-bentuk kerja yakni kerja produksi dan kerja reproduksi yang keduanya mempunyai peran yang sama-sama penting dalam tata kehidupan manusia. Bentuk kerja produktif memenuhi kebutuhan dasariah manusia (‘fisical basic need’) semisal  sandang, pangan, papan.

Sementara kerja reproduktif berkaitan dengan ‘memproduksi manusia’, tidak terbatas oleh hal yang berkaitan dengan reproduksi biologis perempuan, hamil, melahirkan, menyusui, namun juga mencakup pengasuhan, perawatan sehari-hari manusia baik secara fisik maupun mental. Disamping itu, kerja reproduktif juga berkaitan dengan menjaga keberlanjutan siklus produksi, misalnya pekerjaan rumah tangga (memasak atau mencuci). Sayangnya, dalam masyarakat kita, bentuk kerja reproduksi tidak dipandang sebagai pekerjaan. Yang dipandang berharga bahkan mempunyai keistimewaan adalah kerja-kerja produksi yang menghasilkan imbalan materi.

Secara teoritis, kualitas kerja seseorang akan sangat ditentukan oleh ilmu dan ketrampilan yang dimiliki. Semakin tinggi ilmu dan ketrampilan seseorang, semakin tinggi kualitas kerjanya, atau semakin profesional orang tersebut. Bekerja yang tidak dilandasi oleh keyakinan untuk pengabdian kepada yang sesuatu yang lebih tinggi (baca: tujuan kemanusian dalam rangka pengadian kepada Tuhan), akan menjadikan manusia ter’alienasi’ (ada jarak antara apa yang dia kerjakan dengan dirinya) serta cenderung menjadikan dirinya sebagai alat produksi setara dengan mesin. Itulah mengapa Iman, Ilmu dan Amal harus selalu terangkai, hingga menjadikan bekerja sebagai ekspresi keberadaan manusia, akan menjadi lebih bermakna dan bermartabat.

Demikianlah, mudahan-mudahan refleksi melalui forum ‘Cofee Morning’ ini dapat bermanfa’at. Dengan demikian, lagu gubahan Saiful Bahri bertajuk ‘Hanya Semalam di Malaysia’ akan benar adanya, artinya jangan lagi kembali ke Malaysia untuk mencari kerja, namun, cukup melancong semalam saja. Lebih baik, kembali ke Indonesia untuk bekerja dan membangun negeri, tentunya dengan syarat, tersedianya tempat bekerja yang lebih bermartabat.

(Refleksi Kurniawan Zulkarnain, Team Leader KMP P2KP, Bendungan Jatiluhur, 24 Februari 2005; edit: Yanti)

(dibaca 1461)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 3001, akses halaman: 3275,
pengunjung online: 166, waktu akses: 0,047 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank