Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelStrategi Komunikasi Persuasif dalam P2KP (Bag.1)
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Banda Aceh, 30 Juli 2007
Strategi Komunikasi Persuasif dalam P2KP (Bag.1)

Komunikasi adalah suatu aspek kehidupan manusia yang paling mendasar, penting, dan kompleks. Kehidupan sehari-hari kita sangat dipengaruhi oleh komunikasi kita sendiri dengan orang lain, bahkan oleh pesan yang berasal dari orang yang kita tidak tahu (we can not not communication).

Karena ke-kompleks-an komunikasi, maka Little John mengatakan, komunikasi adalah sesuatu yang sulit untuk didefinisikan. Sementara itu, menurut ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain, agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.

Dalam P2KP, kita mengenal adanya delapan siklus besar yang mesti dilakukan, yaitu Sosialisasi Program dan Social Mapping, RKM dan Penggalangan Relawan, FGG-Refleksi Kemiskinan oleh Tim RK, Pemetaan Swadaya (PS) oleh Tim PS, Pembentukan BKM, Perencanaan Partisipatif PJM Pronangkis, Pembentukan KSM dan Pelaksanaan Kegiatan KSM. Siklus P2KP tidak akan berjalan tanpa adanya komunikasi antara satu orang/kelompok dengan orang lain/kelompok lain.

Pada tahapan pertama siklus P2KP, kita mengenal adanya sosialisasi, yang berarti adalah kegiatan meng-komunikasi-kan keberadaan P2KP dan konsep-konsep, ketentuan, nilai dan norma, metodologi P2KP, serta pelaksanaan P2KP, sehingga terjadi pemahaman kritis pada masyarakat sasaran dan dapat mengarah pada perubahan sikap dan perilaku. Orang-orang yang mensosialisasikan program tersebut dalam komunikasi disebut dengan komunikator. Bagaimana pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator bisa merubah sikap dan perilaku masyarakat, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan.

Banyak hal yang perlu diperhatikan, sehingga tujuan program yang sangat agung bisa tercapai dengan baik. Mampukah para komunikator P2KP melakukannya?

Dalam proses komunikasi, ada lima elemen dasar yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dengan istilah “Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect”. Kelima elemen dasar tersebut adalah Who (sumber atau komunikator), Says What (pesan), in Which Channel (Saluran), to Whom (Penerima), with What Effect (Efek atau dampak). Lima elemen dasar dari komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Laswell di atas akan bisa membantu para komunikator dalam menjalankan tugas mulianya.

Berhasil tidaknya suatu komunikasi tergantung dari kelima elemen dasar tersebut. Bagaimana komunikator bisa mempengaruhi komunikannya, sehingga bisa bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator, bahkan bisa merubah sikap dan perilaku dari komunikan tersebut. Namun, komunikator, pesan, saluran yang bagaimana yang akan bisa merubah sikap dan perilaku komunikan, serta perubahan yang bagaimana yang diharapkan harus menjadi perhatian sangat besar bagi kita semua.

Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal adanya komunikasi persuasif, yaitu komunikasi yang bersifat mempengaruhi audience atau komunikannya, sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Komunikasi persuasif ini biasa digunakan dalam komunikasi politik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar komunikasi kita menjadi persuasif atau bisa mempengaruhi orang lain.

Pertama, Komunikator. Komunikator atau sumber adalah orang-orang yang akan mengkomunikasikan suatu pesan kepada orang lain. Agar komunikasi yang dilakukan oleh komunikator menjadi persuasif, maka komunikator harus mempunyai kredibilitas yang tinggi. Yang dimaksud dengan kredibel disini adalah komunikator yang mempunyai pengetahuan, terutama tentang apa yang disampaikannya. Misalnya, ketika seorang komunikator P2KP menjelaskan kepada komunikannya tentang apa itu P2KP, dia harus menguasai apa yang akan disampaikannya. Apalagi pada saat audience atau komunikan adalah masyarakat perkotaan yang heterogen.

Hal ini pernah penulis rasakan ketika mengikuti sosialisasi pada suatu kelurahan yang masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang mempunyai pendidikan dan pengalaman yang jauh lebih tinggi dari komunikator. Seandainya pada saat itu para komunikator yang hadir kurang menguasai program yang dibawa, tentunya masyarakat tidak akan puas, bahkan mungkin tidak akan berpengaruh pada perubahan sikap yang diharapkan. Ketidak-kredibelan komunikator juga sering disampaikan oleh masyarakat sendiri, dengan cara membandingkan antara fasilitator yang satu dengan fasilitator lainnya. Kemudian trustworthiness (dapat dipercaya) juga sangat penting bagi komunikator supaya komunikasi yang dilakukannya menjadi persuasif.

Ketika seorang komunikator yang sudah tidak dipercaya oleh komunikan, apapun yang disampaikannya tidak adan didengar oleh komunikannya. Ini terkait dengan nilai-nilai luhur yang diusung P2KP. Bagaimana masyarakat akan berubah sikap dan perilakunya jika fasilitator, senior fasilitator, askot, korkot dan seluruh jajaran di atasnya sebagai komunikator tidak dapat dipercaya. Banyak orang mengatakan, “P2KP bukanlah satu-satunya program pemberdayaan yang bertujuan merubah sikap dan perilaku masyarakat, sehingga mereka meragukan keberhasilan dari program P2KP ini.”

Namun, sebenarnya dari segi konsep, P2KP sangat berbeda dengan program pemberdayaan lainnya. P2KP adalah satu-satunya program yang memandang kemiskinan berakar dari lunturnya niali-nilai luhur kemanusiaan yang ada di masyarakat. Kita sering salah kaprah dengan selalu melihat pada orang lain bukan pada diri kita sendiri. Kenapa saya katakan demikian, karena secara tidak sadar setiap kita melihat bahwa nilai-nilai yang telah luntur itu hanya pada diri orang lain, padahal sesungguhnya nilai-nilai tersebut telah luntur hampir pada setiap diri manusia! Bersambung.. (Sarmiati, mantan fasilitator KMW I P2KP-3 NAD; Nina)

(dibaca 7250)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 1404, akses halaman: 1474,
pengunjung online: 242, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank