Klaten, 28 September 2007
Umbul Goling, Obyek Wisata Mistik dan Kuliner
Mbah Maridjan, siapa yang tidak tahu namanya. Seantero jagat pasti mengenalnya. Ia identik dengan salah satu gunung teraktif di dunia, yaitu Gunung Merapi di Jawa Tengah. Hal ini ternyata membawa berkah tersendiri bagi Kabupaten Klaten.
Ya, keberadaan gunung ini ternyata memunculkan sumber-sumber air di Kabupaten Klaten. Sumber-sumber air ini tidak hanya digunakan untuk pengairan sawah dan kebutuhan sehari-hari warga sekitar, tetapi juga menyimpan sebuah nilai “mistik” atau keramat di balik keberadaannya.
Di Klaten, sumber air — yang dalam bahasa Jawa disebut umbul — muncul di Desa Manjung, Kecamatan Ngawen, yang tak lain adalah desa sasaran PNPM-P2KP. Tidak kurang dari lima umbul muncul di desa ini.
Umbul Goling, demikian warga Manjung menamainya, adalah salah satu sumber air dengan debit paling besar di desa ini. Umbul itu terletak di RT 3 RW 10. Konon, menurut Kepala Desa Manjung AB Amanto kepada media Joglo Pos, di Umbul Goling hidup sekelompok ikan lele. “Walaupun setiap hari warga menggunakan umbul ini untuk keperluan mandi dan cuci, tidak ada seorangpun yang berani mengambil ikan lele tersebut,” tuturnya.
Menurut mantan Koordinator BKM Guyub Rukun ini, masyarakat di sekitarnya menyadari dan memaklumi, bahkan mengerti jika ada seseorang yang mengambil ikan lele akan terkena sengkolo. ”Yang bersangkutan akan sakit dadakan,” jelas AB Amanto.
Rupanya, masyarakat meyakini Umbul Goling dapat membawa barokah berupa ketentraman. Hal ini dibuktikan dengan tindakan warga yang selalu memberikan sesaji di area Umbul goling setiap kali mereka mempunyai hajat. ”Sesaji diwujudkan dengan sego megono, teh kenthel pahit, rokok kretek, jajan pasar, dan lain-lain” kata kepala desa yang baru terpilih ini.
Meski demikian, diakui, keberadaan Umbul Goling ini cukup memprihatinkan. Ikan lelenya sudah tidak terlihat lagi. Oleh karena itu, pemerintah desa bersama dengan BKM Guyub Rukun akan berupaya memperbaiki dan melestarikan keberadaan umbul ini sebagai kamulyan masyarakat. “Umbul Goling ini merupakan peninggalan sejarah jaman kuno, maka harus dicatat dalam buku bondho deso, serta harus dijaga dan dilestarikan,” tandas pria yang dijuluki Komandan itu.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris BKM Guyub Rukun Surawat, yang turut mendampingi AB Amanto berpendapat, jika Umbul Goling diperbaiki dan dirawat, mungkin ikan lele ”keramat” tersebut akan muncul lagi. ”Masyarakat Manjung berencana akan membangun kembali Umbul Goling sebagai sarana umum, seperti keperluan cuci dan mandi, saluran irigasi, bahkan telah disiapkan pula untuk lahan arena pemancingan. Diharapkan akan ada efek positif dengan dilakukannya rehabilitasi umbul ini,” tutur Surawat.
Lebih lanjut AB Amanto mengaku, alokasi biaya pembangunan Umbul Goling recananya diserap dari dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat - Program Penanggulangan Kemiskinan (PNPM-P2KP) dan swadaya masyarakat.
Berbagai upaya telah ditempuh untuk menanggulangi kemiskinan di desa ini, termasuk pendekatan melalui partisipatif masyarakat seperti Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Guyub Rukun maupun KSM, agar segera terwujud harmonisasi dan sinergi antara berbagai program pemberdayaan masyarakat.
“Semua anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sudah setuju dengan program ini. Bahkan, ke depan, Umbul Goling ini dipersiapkan menjadi sasaran desa untuk wisata kuliner,” kata AB Amanto. (Dade Saripudin, Faskel Klaten, KMW XIV P2KP-2 Jateng; Nina) (dibaca 651) |