Jakarta, 7 November 2008
PU Tepis Cemas dengan Modul Siaga Banjir
|
|
|
Pada setiap musibah banjir, salah satu kecemasan yang paling besar adalah bagaimana korban banjir mendapatkan air bersih. Tapi, PU memiliki modul untuk air bersih darurat, seperti yang dipraktekkan dalam simulasi siaga banjir hari Kamis, 7 November 2008 | Pada setiap musibah banjir, salah satu kecemasan yang paling besar adalah bagaimana korban banjir mendapatkan air bersih untuk keperluan MCK, bahkan minum. Kini, kecemasan itu dapat ditepiskan dengan adanya antisipasi bencana alam di seluruh wilayah Indonesia dari Departemen Pekerjaan Umum (PU), di antaranya modul untuk air bersih darurat.
Untuk itu, Departemen PU mempraktekkan simulasi siaga banjir di pelataran parkir Gedung Proyek P2KP, Jl. Penjernihan I No.19F, Pejompongan, Jakarta, pada Jumat (7/11/2008), mulai pukul 09.00 WIB. Pelaksanaan simulasi ini bertujuan melihat kesiapan PU dalam menghadapi banjir terkait tibanya musim hujan.
“Masyarakat perlu tahu, kita (PU—Red) hadir dalam setiap kejadian bencana di seluruh wilayah Indonesia,” jelas Direktur Jenderal Cipta Karya, Departemen PU, Ir. Budi Yuwono. Dalam kegiatan tersebut, tampak hadir jajaran Direktorat Jenderal Cipta Karya, staf Kantor Proyek P2KP, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) P2KP-3 Hariyanto, ST, sejumlah jurnalis, bahkan hadir pula Direktur Bina Program Ir. Danny Sutjiono yang tampak antusias mengikuti jalannya simulasi.
Dalam kegiatan tersebut dilakukan uji coba kesiapan peralatan, seperti unit instalasi pengolahan air bersih micro hidraulic bergerak, mobil tangki air, tenda darurat, WC bongkar-pasang, toilet cabin dan hidran umum.
Menurut Budi Yuwono, Departemen PU telah menyiapkan tim darurat, baik personel maupun peralatan. “Kemampuan kita memang sangat terbatas tapi kita ingin mencoba membuat gudang regional di Makasar, Surabaya, Jakarta, Medan, sehingga bila ada bencana bisa diambil dari gudang terdekat. Tinggal struktural memerintahkan wilayah mana yang harus ditangani,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, salah satu anggota tim darurat penanganan bencana Cecep mengatakan, anggota timnya merupakan tim gabungan dari seluruh direktorat yang ada di Ditjen Cipta Karya. Setiap direktorat memiliki tugas sesuai kewenangan yang ditanganinya masing-masing.
Lebih lanjut dikatakan, saat ini dari keseluruhan modul yang disiapkan, beberapa di antaranya sudah disiagakan di tingkat provinsi seluruh Indonesia, untuk dapat dikerahkan menghadapi bencana yang sewaktu-waktu datang. Di antara modul tersebut adalah penyiapan modul air bersih darurat, penyiapan modul sanitasi darurat, perancangan bangunan darurat sistem tenda dan bedeng untuk pengungsi, serta penyiapan modul penanganan sampah.
Yang cukup menarik perhatian adalah kehadiran unit instalasi (mobil) pengolahan air bersih micro hidraulic, yang merupakan hasil rancang bangun LAPI ITB. Unit instalasi ini memiliki kemampuan mengolah air sungai yang kotor atau air sumur kotor karena banjir atau kuning kandungan besi tinggi, menjadi air bersih.
Dengan demikian, masyarakat yang tertimpa musibah banjir, tidak perlu kuatir lagi mendapatkan air bersih untuk minum atau untuk MCK, karena PU siap mengantisipasinya.
Instalasi Pengolahan Air Hasil Rancang Bangun ITB
Sementara itu, berdasar informasi yang dikumpulkan Tim Berita P2KP, unit instalasi pengolahan air ini adalah hasil rancang bangun ITB melalui PT LAPI Indowater Rekayasa, dengan tim peneliti yang dikomandoi Dr. Cahyono, Ir. Rusnandi, MT dan Ir. Emil, MT. Unit ini sempat dikirim ke Aceh pada Januari 2005, guna membantu suplai air bersih pasca tsunami.
Kapasitas produksi unit tersebut adalah 10.000 liter per jam, atau sekitar 200 meter kubik per hari. Sumber air (tawar) yang dapat diolah dengan kekeruhan di bawah 10.000 NTU. Air bersih yang dihasilkan kurang dari 1 NTU atau sama jernihnya dengan produk minuman mineral botol.
Sedangkan metode pengolahan adalah dengan pre disinfection dan koagualan (kaporit, alum). Backwash secara periodik setiap 36 jam. Bahan utama instalasi sendiri merupakan baja tahan karat yang bisa bertahan hingga 20 tahun atau lebih, berdimensi 2 meter x 2,3 meter. Sedangkan pompa air yang digunakan adalah baku 400 watt.
Unit ini memiliki keunggulan, seperti mudah dipindahkan, mudah dioperasikan, mudah perawatan karena mudah mendapatkan suku cadang, dan mudah bahan baku pengolahannya.
Mobil unit instalasi ini telah didemonstrasikan ke Bogor, Karawang, Garut, Indramayu dan Bandung, empat bulan sebelum dikirim ke Aceh. Hasilnya memuaskan bagi masyarakat, karena langsung mampu mengolah air sungai yag kotor. Harga unit ini mencapai Rp600 juta per unit. Tapi, harga tersebut relatif jauh lebih murah dibandingkan harga unit serupa dari Jerman dan Belanda yang mencapai Rp2 miliar per unit.
Adapun unit instalasi yang sama, tapi in site (tidak mobile), dapat dilihat di Kompleks Perumahan Setra Dago, Antapani, Bandung, yang telah mampu melayani 120 rumah. (Tim Berita Web P2KP; Fajar/Firstavina)
Berita terkait silakan baca:
1. Dirjen Cipta Karya Gelar Kesiapsiagaan Bencana Banjir
2. Kontribusi Litbang PU dalam Penanganan Bencana NAD dan Sumut
3. Info tambahan mengenai produk pengolahan air ITB (dibaca 704) |