Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaCeritaPulau Bungin, Antara Keunikan dan Harapan
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Sumbawa, 11 November 2009
Pulau Bungin, Antara Keunikan dan Harapan

Pulau Bungin, salah satu wilayah dampingan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan sejak tahun 2007, merupakan bagian dari wilayah administrasi Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Desa kepulauan ini adalah salah satu wilayah koordinasi OC-7 Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pulau tersebut begitu eksotis dan elok, berkat keunikan dan keragaman hayatinya. Itulah kesan yang ditangkap oleh Tim OC-7 NTB saat melakukan monitoring ke Pulau Bungin, beberapa waktu lalu.

Untuk mengunjunginya, memerlukan waktu sekitar enam jam dari Kota Mataram, termasuk perjalanan menyeberang dari Pelabuhan Khayangan, Pulau Lombok, menuju Pelabuhan Pototano, Pulau Sumbawa. Seiring dengan gencarnya pembangunan daerah, kita tidak lagi menyeberang dengan sampan guna mencapai Bungin, melainkan dengan sepeda motor atau mobil, karena pemerintah daerah telah membangun tanggul dari susunan batu karang yang menghubungkan Pulau Bungin dengan daratan.

Menurut penuturan Kepala Desa Pulau Bungin Sopian, penghuni pertama Pulau Bungin, sekaligus nenek moyang mereka adalah Armada Laut Panglima Mayo, seorang pejuang yang berasal dari Bajo, Sulawesi Selatan. Beliau singgah dan tinggal di Pulau Bungin karena terdesak saat melawan penjajah Belanda pada tahun 1818. “Makanya bahasa daerah sehari-hari penduduk di sini menggunakan bahasa Bajo, bukan bahasa asli daerah Sumbawa,” tutur Sopian. Kata Bungin berasal dari “Bubungin” yang dalam bahasa Bajo berarti tumpukan pasir putih di tengah samudera.

Secara definitif, Pulau Bungin sudah menjadi desa dengan tiga dusun, sejak tahun 2002. Data statistik hingga tahun 2009 menyebutkan, jumlah penduduk Bungin tercatat 847 Kepala Keluarga (KK), terdiri dari 2.826 Jiwa. “Pulau ini mungkin satu-satunya pulau terpadat dan satu-satunya pulau yang luasnya terus bertambah,” ungkap Sopian.

Ia menjelaskan, pada 2002, luas areal permukiman adalah enam hektare, namun sekarang berkembang menjadi delapan hektare. Rumah-rumah  penduduk tersusun sangat rapat, dengan jarak antarrumah sekitar 1,5 meter saja. Konstruksi rumah yang berbentuk panggung khas Bungin, terlihat merata menutupi luas pulau. Saking rapatnya, bahkan ada beberapa atap rumah yang saling bertemu.

Hukum adat perkawinan warga Bungin menjadi alasan yang membuat Pulau Bungin tetap mampu menampung pertambahan jumlah penduduknya. Pasalnya, dalam hukum adat diatur pasangan muda-mudi yang hendak menikah wajib membangun lokasi sendiri untuk mendirikan rumah mereka. Caranya, pasangan tersebut harus mengumpulkan batu karang untuk ditumpuk pada sisi luar pulau yang ditentukan. Ukuran lokasinya bisa mencapai 6 meter x 12 meter, selama kurun 4 - 7 tahun. Setelah lokasi terbentuk, barulah mereka boleh menikah dan mendirikan rumah. Itu sebabnya luas pulau Bungin terus bertambah dari tahun ke tahun. Dapat dikatakan, Pulau Bungin adalah pulau karang bentukan.

Walau seluruh penduduknya bermata pencaharian nelayan, kehidupan warga pulau ini boleh dibilang cukup mapan. Karena, hampir semua keluarga memiliki barang elektronik, minimal pesawat televisi, lengkap dengan receiver parabola digital. Bahkan, anak-anak Bungin tidak asing lagi dengan Play Station berkat adanya sejumlah rental Play Station di sana.

Tingkat konsumsi penduduk Bungin terbilang tinggi. Pasalnya, seluruh kebutuhan hidup harus dibeli, mulai dari sembako hingga air bersih, kecuali lauk-pauk. Uniknya, kebutuhan sehari-hari tersebut seluruhnya dipenuhi oleh kaum wanita. “Suami kita kadang sampai tiga bulan melaut. Kita lah yang mencari uang untuk belanja dengan mencari ikan, kerang dan teripang di sekitar pulau,” jelas Hasnah, salah seorang ibu rumah tangga di Bungin. Menurutnya, pendapatan mereka berkisar Rp 15.000 – Rp 30.000 per hari.

Kehadiran PNPM Mandiri Perkotaan merupakan berkah tiada tara bagi warga Pulau Bungin. Desa kepulauan yang semula sangat tertinggal dari aspek infrastruktur, ekonomi maupun sosial-budayanya, secara perlahan tapi pasti, bertekad mensejajarkan diri dengan  desa/kelurahan lainnya. Hal ini sesuai penuturkan Koordinator BKM Sikamase Sukiman.

“Kehadiran PNPM Mandiri Perkotaan membuat kerukunan dan rasa persaudaraan kami lebih meningkat. Karena, dalam menjalankan program ini harus didasari persatuan dan kebersamaan,” kata dia, yang diamini oleh salah seorang anggota BKM Mu’iz. “Kami semua bahu-membahu melaksanakan seluruh kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan, karena kami tertantang untuk belajar agar desa kami lebih maju,” tambah Sukiman, dengan nada bersemangat.

Terbukti, Pulau Bungin mampu menyelesaikan seluruh tahapan pada BLM I dan BLM II termin 1 dengan hasil gemilang. Pagu dana sebesar Rp 240 juta bagi wilayah ini menghasilkan serangkaian akses jalan kampung dengan kontruksi rabat beton, yang semula belum tersedia. Sebagian dialokasikan untuk kegiatan sosial dalam bentuk pelatihan las listrik dan dialokasikan untuk modal pinjaman bergulir sebesar Rp 31,2 juta, yang mampu melayani 55 KSM berjumlah anggota 305 orang. Hingga September 2009, terkumpul modal kerja bersih sebesar Rp 40.684.000 dengan capaian pengembalian atau Repayment Rate (RR), rata-rata 100%.

Keberhasilan pengelolaan dana pinjaman bergulir di Pulau Bungin tak terlepas dari “tangan dingin” Manajer UPK Astuti Ningsih. Sejak awal wanita lajang berusia 22 tahun ini terlibat dalam kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan, mulai dari menjadi seorang relawan. Ia berbagi kiat mempertahankan angsuran KSM tetap lancar, bahkan tak ada tunggakan mulai dari November 2008 hingga September 2009.

“Saya menyempatkan diri untuk selalu bersilaturrahim ke rumah-rumah anggota KSM secara bergiliran, sembari mengingatkan kalau pinjaman ini adalah dana amanah yang harus dikembalikan,” tutur Astuti lembut, namun mantap. “Saya juga selalu mewanti-wanti kepada seluruh penduduk agar menjaga dan melestarikan dana pinjaman bergulir sebagai warisan kita kepada generasi mendatang,” tambahnya.

Berkat sebuah tatanan kerjasama yang dibingkai dengan ketulusan mengabdi tak kenal pamrih, maka tak ada alasan sedikitpun untuk tidak menorehkan keberhasilan. Meski secara geografis berada pada ruang terpencil, namun pranata kelembagaan, termasuk adminitrasi pembukuan UPK dan Sekretariat terselenggara dengan tertib dan rapi. Tak ada yang kurang dari seluruh format, semua sesuai dengan penggunaan yang direkomendasikan oleh PNPM Mandiri Perkotaan.

Sedangkan mengenai motivasi Astuti tetap bertahan menjadi UPK BKM Sikamase dengan imbalan  yang sangat minim, sulung dari tiga bersaudara pasangan Agus Salim dan Sadariah ini menjawab lugas, ia menyedekahkan sebagian masa mudanya guna mendorong kemajuan masyarakat Bungin. Ini merupakan gambaran pribadi yang adiluhung. Busana Muslimah yang membalut auratnya pun semakin melengkapi sifat luhur.

“Saya hanya berharap UPK BKM Sikamase suatu saat bisa menjadi bank desa, sebab kalau mau ke bank, kami harus menempuh perjalanan jauh,” ucap dia, penuh harap. Sebuah asa yang tak berlebihan dan patut mendapat dukungan dari pihak terkait akan menambah kedamaian dan kesejahteraan penduduk Pulau Bungin, jika mereka mendapatkan pelayanan dalam menyimpan dan meminjam uang sebagaimana para penduduk di belahan bumi pertiwi lainnya.

Selain keindahan dan kekayaan alam, Pulau Bungin memiliki potensi ekonomi melimpah yang siap dikembangkan. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, sekitar perairan Bungin sangat potensial menghasilkan indukan tiram mutiara terbaik di dunia. Telah banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik menyaksikan keelokan dan keunikan Bungin dari dekat, termasuk fenomena “kambing makan kertas”.  Ini adalah daya tarik tersendiri yang tampak ganjil dan unik.

Hal ini riil, sebab tekstur Pulau Bungin yang terdiri dari gugusan terumbu karang tidak memungkinkan di tumbuhi rumput dan dedaunan. Maka, seolah kambing pun punya filsafat “di mana bumi dipijak, di situlah kami makan seadanya.” Bukan hanya kertas yang disantap kambing Bungin, tapi juga sampah-sampah dan kain.

Jadi, “Hati-hati kalau ke Bungin lagi. Jangan pernah memakai pakaian berwarna hijau. Karena, akan menjadi incaran kambing Bungin. Warna hijau meningkatkan gairah makan mereka,” gurau Tim OC-7 NTB. (Suyitno Masdar, TA MK OC-7 Provinsi NTB, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

(dibaca 2505)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 7952, akses halaman: 9139,
pengunjung online: 174, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank