Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelPenanggulangan Bencana Alam Tanggung Jawab Bersama
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi.

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Padangsidimpuan, 16 November 2010
Penanggulangan Bencana Alam Tanggung Jawab Bersama

Bicara bencana, Indonesia senantiasa dirundung berbagai bencana alam. Masih kuat di ingatan kita enam tahun silam. Tepatnya di tahun 2004. Gempa bumi di Alor, Nabire, disusul gempa bumi dan tsunami di ujung Barat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias, Sumatera Utara. Seakan tiada hentinya negeri ini terus bergoyang akibat gunung dan buminya mengalami pergerakan yang meluluh-lantakkan benda di sekelilingnya.

Di tahun 2006, Gunung Merapi yang tergolong teraktif di dunia dan terletak di antara Jawa Tengah dengan Yogyakarta pernah menunjukkan kekuatannya, dengan memberikan tanda-tanda gempa. Di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, seketika mengalami gempa bumi yang lumayan dahsyat. Dan baru-baru ini, bumi Wasior, Papua, disapu habis oleh banjir bandang dan hanya menyisakan puing-puing reruntuhan rumah, pepohonan, serta ratusan orang meregang nyawa dan luka-luka.

Bencana tidak sampai di situ. Baru-baru ini, geliat Gunung Merapi dan Kepulauan Mentawai melengkapi deretan duka bangsa. Keganasan Gunung Merapi dengan awan panasnya menyebabkan ratusan orang meninggal dunia, termasuk juru kunci Mbah Maridjan. Gunung terus meletus dan mengeluarkan awan panas, merusak tatanan perekomian masyarakat seketika. Memaksa warga mengungsi dan terjadi polusi udara.

Di hari yang sama, Kepulauan Mentawai digoncang gempa bumi dan tsunami. Dari bencana ini masyarakat Mentawai harus kehilangan sanak saudaranya, harta benda dan lahan mata pencarian akibat terjangan tsunami yang tak mengenal kompromi. Duka korban bencana belum juga usai, karena harus hidup di pengungsian dengan makanan dan perawatan kesehatan seadanya.

Tampaknya bencana akan terus menghampiri negeri ini, karena Indonesia memiliki geografis dan geologis yang potensial terkena bencana alam, sehingga dijuluki negeri cincin api. Dari perkiraan para ahli, saat ini terdapat 20 gunung yang tersebar di beberapa wilayah tengah menunjukkan tanda-tanda keaktifannya. Sebut saja salah satunya Anak Gunung Krakatau, yang sekarang berstatus waspada. Bencana berdampak terhadap keberlangsungan hidup masyarakat. Tak hanya kerusakan dan kehilangan harta benda, korban jiwapun berjatuhan. Bencana gempa terhitung telah merenggut ratusan ribu jiwa, dengan kerusakan infrastruktur yang mahadahsyat.

Namun demikian, selain menerima bencana ini sebagai musibah dan cobaan dari Allah, SWT, kita sebagai bangsa yang berketuhanan harus mampu menerimanya dengan ikhlas, sabar, dibarengi dengan tawakal kepada Sang Pemilik Bumi ini, serta melakukan ikhtiar .

Idealnya, dalam rangka meminimalisir korban dan kerugian akibat bencana, seharusnya pemerintah menerapkan early warning system di daerah rawan bencana di seluruh wilayah Indonesia. Pendeteksian dini terhadap keadaan bumi ini guna mengetahui status pergerakannya. Paling tidak masyarakat di sekitarnya dapat waspada, siaga, hingga meninggalkan lokasi (evakuasi) bila keadaan sudah membahayakan jiwa. Namun, memang bencana tidak ada yang tahu kapan datangnya. Kita hanya mampu berusaha dan terus berusaha.

Dalam menghadapi bencana, selayaknya kita bahu-membahu membantu saudara kita, agar mereka dapat melanjutkan hidup dan kehidupannya yang telah ditimpa musibah ini. Caranya adalah dengan memberikan bantuan moril dan materil. Bencana telah terjadi, hal yang terpenting adalah penanganan pasca bencana, yaitu penanganan korban tewas dan luka, penanganan pengungsi serta pengumpulan dan koordinasi penyaluran bantuan. Guna memulihkan kondisi korban dan daerah yang terkena bencana adalah dengan menangani para pengungsi dengan baik, serta rekonstruksi daerah yang terkena bencana.

Pemerintah seharusnya menjamin korban selamat terbebas dari kelaparan dan serangan penyakit. Pemulihan psikologis korban bencana, terutama anak usia dini, sangat penting diberikan. Selanjutnya, pemerintah segera melakukan relokasi dan pembangunan infrastruktur kembali, serta perumahan yang mampu mendukung kehidupan yang layak.

Di sinilah peran program pemberdayaan bisa memposisikan diri, baik sebelum maupun pasca terjadinya bencana. Program pemberdayaan dapat memberikan bimbingan dan arahan kepada masyarakat dalam melestarikan alam dan lingkungan sekitarnya. Misalnya saja, melindungi hutan dari penebangan liar, pelestarian sungai, menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman dan aman. Selain itu, program pemberdayaan juga dapat melakukan upaya antisipasi dan penyelamatan diri ketika bencana tiba.

Kemudian, membangun kerjasama dengan pihak pemerintah maupun Badan Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau lembaga lainnya dalam memperoleh informasi agar masyarakat dapat waspada terhadap bahaya bencana.

Pasca bencana, program pemberdayaan melalui bidang infrastruktur, sosial dan ekonominya—setidaknya—adalah memberikan kontribusi kepada para korban. Pembenahan kembali infrastruktur yang telah rusak, berupa jalan dan jembatan, sarana air bersih, MCK, permukiman penduduk, serta sarana agrikultur. Nah, proses pembangunan ini tentu melibatkan masyarakat setempat atau korban bencana.

Korban bencana harus bangkit dari cobaan ini. Upaya yang dilakukan adalah memulihkan kembali semangat mereka melalui motivasi dan penyadaran, juga memberikan pendidikan baik secara formal (bagi anak-anak), maupun informal berupa pelatihan dan ketrampilan kerja. Pemberian modal usaha juga sangat relevan, agar dapat mengembangkan kembali perekonomiannya.

Jangan biarkan mereka merasakan duka ini tanpa bantuan kita. Apapun ceritanya, mereka adalah bagian dari kita. Mereka butuh kita dan sudah selayaknya pula menjadi perhatian bersama. (M. Khoury Boumiddin Lubis, Fasilitator Teknik Tim 05 Koordinator Kota 8 Padangsidimpuan – Sibolga, OC-1 Provinsi Sumatera Utara, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

(dibaca 6046)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 4913, akses halaman: 8741,
pengunjung online: 246, waktu akses: 0,035 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank