Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelPengaruh Kinerja Community Development pada Kinerja Keuangan
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Jakarta, 17 Januari 2011
Pengaruh Kinerja Community Development pada Kinerja Keuangan

Penelitian Pertama

Analisis Data capaian telah terlaksana Review Keuangan, berdasar SIM, baru mencapai 38,3% (QS 50, sebesar 72%) dan hasil analisis statistik menunjukan bahwa capaian tersebut semata-mata merupakan kontribusi atas proporsi dampingan. Artinya bila dianalogikan manusia, maka manusia yang gemuk (proporsi dampingannya besar) akan mengkonsumsi makanan yang besar pula proporsinya (hasil capaian review proporsinya juga besar). Dan, model yang dibangun adalah valid, bahwa penjelasan proporsi capaian pelaksanaan Review Keuangan memang dipicu oleh proporsi jumlah dampingan.

Berikut penjelasan atas penelitian yang dimaksud.
 
Hipotesis, yang bangun adalah:

Hipotesis 1. Bahwa ” Jumlah Capaian Review Program” dipengaruhi oleh ”Jumlah Kelurahan dampingan”

Hipotesis 2. Bahwa ” Jumlah Capaian Review Kelembagaan” dipengaruhi oleh ”Jumlah Kelurahan dampingan” 

Hipotesis 3. Bahwa ” Jumlah Capaian Review Keuangan” dipengaruhi oleh ”Jumlah Kelurahan dampingan”

Sehingga model yang dibangun adalah seperti bagan di bawah ini

Hipotesis dibangun seperti itu karena diduga, capaian data Review bukan karena terwujudnya kesadaran atau perubahan perilaku. Bahwa:

  1. Untuk capaian Review Program, yang mendorong bukan perilaku “Evaluasi Perencanaan dan Prioritas kebutuhan masyarakat adalah hal yang penting untuk masyarakat (Pembelajaran 3, Skema Transformasi Sosial)
  2. Untuk capaian Review Kelembagaan, yang mendorong bukan perilaku “Evaluasi Efektivitas, Kepatuhan pada AD/ART, dan Derajat Kelembagaan sesuai Pedoman PNPM adalah hal penting (sesuai pembelajaran ke 2, dalam Skema Transformasi Sosial)
  3. Untuk capaian Review Keuangan, yang mendorong bukan perilaku ”Transparansi dan Akuntabilitas merupakan sudah menjadi kebutuhan masyarakat (pembelajaran ke 4, dalam Skema Transformasi Sosial)”, akan tetapi capaian tersebut terwujud adalah karena proporsi dampingan yang memungkinkan terwujudnya proporsi capaian pelaksanaan Review Partisipatif.

Kalau data dari SIM akurat, dan diasumsikan bahwa data tersebut terbebas dari penyakit regresi—yang berarti telah lolos uji asumsi klasik, maka data tersebut sudah layak untuk dianalisis dengan analisis uji regresi. Analisis menggunakan software SPSS 17, untuk bantuan perhitungannya.

Berikut hasil analisis, sekaligus penjelasannya (klik gambar guna memperbesar tampilan):

Data diolah guna mendapatkan data proporsi, untuk masing masing variabelnya.
Hasil perhitungan SPSS terhadap Hipotesis 1:

Tabel 1.1, menunjukan bahwa model yang dianalisis mempunyai kemampuan untuk memprediksi sebesar 79%. Artinya proporsi dampingan memiliki sumbangsih sebesar 79% bagi terwujudnya proporsi capaian Review Program.

Tabel 1.2 menunjukan bahwa berdasarkan hasil uji statistik, menunjukan bahwa model yang diuji secara statistik adalah Valid, hal ini terlihat dari nilai Significant 0,000. Artinya bahwa variabel independen (Proporsi Dampingan) berpengaruh pada variabel dependennya (Proporsi Capaian Review).

Tabel 1.3 menunjukan bahwa Pengaruh Variabel Independen (Proporsi Dampingan) berpengaruh pada variabel dependennya (Proporsi Capaian Review)

Hal yang sama terjadi juga pada Hipotesis ke dua dan ketiga. (tidak saya tampilkan di sini).

Kesimpulan pertama yang dapat ditarik dari analisis statistik ini adalah bahwa capaian yang kita peroleh di lapangan, khususnya pelaksanaan Review Partisipatif 79% adalah karena kita memiliki proporsi dampingan yang bisa mendorong terwujudnya capaian itu. Dan, sisanya 21% adalah faktor lainnya—bisa jadi adalah perubahan perilaku. Artinya, sepertinya kita harus lebih keras bekerja guna mendorong terwujudnya perubahan perilaku di masyarakat.

Penelitian Kedua

Penelitian kedua dilakukan di Banyuwangi, sekalian dengan kegiatan Uji Petik Tematik MK. Rumusan Masalah yang dibangun adalah bahwa Kinerja Community Development berpengaruh kepada Kinerja Keuangan baik UPK maupun Sekretariat, sehingga model yang dibangun adalah sebagai berikut

Model ini sekali lagi menegaskan bahwa kelembagaan di BKM sangat penting dan berpengaruh pada keberdayaan di masyarakat. Bila kelembagaan BKM baik, maka kinerja pembukuan (baik UPK maupun Sekretariat) akan baik pula.

Instrumen pengukuran kinerja Capacity Building, telah lama dibangun tapi mungkin belum dapat dilaksanakan karena masing-masing indikatornya belum disepakati. Belum sepakatnya instrumen ini karena belum disepakatinya construct yang harus dikembangkan untuk menyusun instrumen. Apakah dari matriks akuntabilitas Faskel CD, atau dari keberdayaan yang diharapkan muncul di BKM, terkait dengan pengelolaan Tridaya.

Meski demikian instrumen pengukuran kinerja CD adalah sebagai berikut:

  1. Rapat Rutin BKM dilakukan minimal satu kali dalam sebulan
  2. Seluruh Anggota BKM hadir dalam Rapat Rutin
  3. Rapat Rutin BKM menerima, memeriksa, menandatangani, dan membahas, Laporan Pemeriksaan UPK oleh Pemeriksa (Buku Kas, Buku Bank, Laporan Keuangan UPK termasuk Kolektabilitas), dan Laporan Sekretariat (Buku Kas, Buku Bank, dan Laporan Pemasukan dan Pengeluaran)
  4. Ada pengaduan (Saran, Informasi, dan Pertanyaan) di BKM yang difasilitasi di dalam aplikasi PPM
  5. BKM melakukan kunjungan/pembinaan ke—minimal satu—KSM (Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan)
  6. BKM diundang dalam rapat kelurahan/desa terkait dengan penanggulangan kemiskinan
  7. Minimal satu Panitia Operasional dan Pemeliharaan (OP) berjalan dan melaporkan agenda kerjanya
  8. Pimpinan Rapat Rutin BKM bulan ini berbeda dengan personal Anggota BKM yang memimpin Rapat Rutin bulan lalu
  9. Seluruh hasil Pembahasan dalam rapat ditandatangani dan diarsipkan bersama dengan dokumen Daftar Hadirnya
  10. Minimal sebulan sekali, Masyarakat kelurahan mengadakan diskusi KBK (Komunitas Belajar Kelurahan)
  11. Hasil Rapat BKM diinformasikan di lima titik tempat strategis

Walaupun instrumennya belum dapat disepakati, namun “nuansa kebatinannya” dapat diperkirakan bahwa BKM yang telah memiliki kondisi sebagaimana dalam instrumen, maka dapat dipastikan bahwa BKM yang dimaksud sudah dapat mengendalikan dengan baik kegiatan Tridaya di wilayah dampingannya.

Hasil analisis sebagai berikut:

Tabel 2.1 menunjukan bahwa model yang dipakai untuk melihat fenomena capaian Kinerja Sekretariat dipengaruhi oleh kinerja CD, dapat dijelaskan sebesar 65,6%. Sedangkan sisanya sebesar 34,4% dijelaskan oleh variable lain di luar model. Dari angka 65,6% dapat disimpulkan bahwa kinerja CD sangat penting dan berpengaruh pada kinerja keuangan, dalam hal ini kinerja Keuangan Sekretariat.

Tabel 2.2 , menunjukan bahwa model yang dibangun (bahwa Kinerja CD berpengaruh pada kinerja Keuangan) secara statistik adalah significant karena nilai significant-nya 0,000.

Tabel 2.3 menunjukkan bahwa variabel kinerja CD secara statistik  mempengaruhi variabel kinerja keuangan Sekretariat adalah valid. Hal ini terlihat dari nilai signifikansinya sebesar 0,000. Artinya variabel kinerja CD memang berpengaruh terhadap kinerja keuangan sekretariat.

Demikian juga dengan analisis pengaruh kinerja CD terhadap kinerja keuangan UPK adalah mendekati angka yang sama, artinya model kerangka berpikir bahwa kinerja CD berpengaruh pada kinerja keuangan UPK secara signifikan.

Sehingga sekali lagi kesimpulannya adalah kinerja CD sangat berpengaruh pada kinerja keuangan baik keuangan di sekretariat maupun UPK, sehingga kita memang harus bekerja keras mendorong kelembagaan BKM mencapai keberdayaan sebagaimana keberdayaan yang kita harapkan. (Ngurah Durya, Sub Professional Manajemen Keuangan KMP PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

(dibaca 2536)
KOMENTAR ANDA:
Wah.. tulisan yang menarik sekali.
Salam kenal pak Ngurah..

Saya juga pernah melakukan "riset kecil-kecilan" dengan data di wilayah kami untuk melihat korelasi antara Kinerja BKM (Matrik Perkembangan BKM), Kinerja Sekretariat BKM, dan Kinerja UPK.
Hipotesa saya: kalau BKM Baik, maka Sekretariatnya Baik.
Kalau Sekretariat Baik, maka UPK Baik.
Hasil regresinya, hipotesa itu terbukti.
Sehingga Kemandirian BKM memang merupakan sebuah keniscahyaan dalam upaya Nangkis.
Yang belum sempat saya lakukan adalah korelasi antara Kemandirian Pendamping (Faskel) dengan Kemandirian Masyarakat (BKM).
Ada teman yang bilang saya bukannya belum "Sempat", tapi "Takut" kalau hasilnya ternyata tidak ada korelasi sama sekali. hehehe.. senangnya...

Salam,
Danli (Monev Kepulauan Riau)
Wah.. tulisan yang menarik sekali.
Salam kenal pak Ngurah..

Saya juga pernah melakukan "riset kecil-kecilan" dengan data di wilayah kami untuk melihat korelasi antara Kinerja BKM (Matrik Perkembangan BKM), Kinerja Sekretariat BKM, dan Kinerja UPK.
Hipotesa saya: kalau BKM Baik, maka Sekretariatnya Baik.
Kalau Sekretariat Baik, maka UPK Baik.
Hasil regresinya, hipotesa itu terbukti.
Sehingga Kemandirian BKM memang merupakan sebuah keniscahyaan dalam upaya Nangkis.
Yang belum sempat saya lakukan adalah korelasi antara Kemandirian Pendamping (Faskel) dengan Kemandirian Masyarakat (BKM).
Ada teman yang bilang saya bukannya belum "Sempat", tapi "Takut" kalau hasilnya ternyata tidak ada korelasi sama sekali. hehehe.. senangnya...

Salam, Terimakasih pa Danli
salam untuk teman teman di Riau

Memang banyak anggapan/asumsi yang kita "sekarang anggap benar"
bisa kita coba uji kebenarannya, dengan megujinya dengan data lapang.

bagian dari memperkuat angapan/asumsi kita.
misalnya bahwa ternyata bapak mampu membuktikan secara statistik
bahwa kemandirian BKM harus dilakukan agar UPK dan Sekr dapat berjalan.

juga bagian dari keinginan kita untuk dapat menjadi organisasi ber"TQM"
melalui kemampuan kita melakukan bisnis intelegent,
mencoba memahami trend dimasa yad

semoga semakin banyak orang melakukan kajian dan analisis seperti bapak lakukan
sehingga semakin kuat kerangka berfikir kita, terkait degan program Nangkis ini

apresiasi saya untuk bapak

Sukses selalu....
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 8906, akses halaman: 14304,
pengunjung online: 61, waktu akses: 0,023 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank