Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelKemiskinan VS Program Kemiskinan
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Sidrap, 24 Mei 2011
Kemiskinan VS Program Kemiskinan

Oleh:
Nurhaji Madjid
Fasilitator CD 
Kabupaten Sidrap
OC 8 Sulawesi Selatan
PNPM Mandiri Perkotaan           .

Kemiskinan merupakan persoalan yang menarik di bicarakan bagi semua kalangan, baik politisi, budayawan, LSM, maupun praktisi bidang keilmuan lainnya. Kemiskinan juga merupakan permasalahan yang mendasar bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Pada tahun 1976 kemiskinan Indonesia turun dari 40% menjadi 11%. Namun, krisis ekonomi tahun 1997 menambah angka kemiskinan. Di tahun 1998, persentasenya kembali naik menjadi 24%, atau sekitar 40 juta jiwa (baca: www.unsiap.or.ip) dan tahun 2004 menjadi 16,6%.

Untuk di perkotaan, angka tingkat kemiskinan kian bertambah seiring semakin derasnya arus urbanisasi. Apalagi urbanisasi merupakan salah satu proses tercepat di antara proses perubahan sosial lainnya, dimana proses urbanisasi melahirkan proses sosial yang berdampak pada banyak aspek, baik ekonomi, lingkungan dan sosial budaya.

Pada proses urbanisasi terjadi pertukaran budaya dan terbentuk sebuah permukiman baru atau percampuran dengan permukiman lama.

Aspek lain adalah perebutan sumber lahan yang semakin lama semakin sedikit. Belum lagi faktor psikologi atau budaya asal yang dibawa dari daerah asal yang tidak dapat beradaptasi. Ini semua akan mempengaruhi faktor psikologis. Jika dapat beradaptasi, maka budaya tersebut akan mendominasi budaya yang telah terbangun.

Tingginya tingkat kemiskinan di perkotaan dipicu oleh semakin kurangnya lapangan kerja yang diperebutkan, serta kurangnya keterampilan yang dimiliki. Faktor lain adalah para urban yang datang tidak dibekali dengan keterampilan untuk bertahan hidup di kota. Faktor lain adalah rendahnya kepedulian masyarakata kota.

Semakin rumitnya persoalan kemiskinan membuat pemerintah memprioritaskan pengentasan kemiskinan sebagai program utama, dengan mendorong semua departemennya untuk membuat program pengentasan kemiskinan.

Kemiskinan kaum kota bukan hanya pada kemiskinan materi, tapi juga miskin gagasan, miskin informasi, keterampilan dan jaringan. Faktor itu diakibatkan kondisi sosial perkotaan yang sifat kepedulian dan bekerjasama yang sudah luntur.

Dari gambaran kemiskinan tersebut, pemerintah dalam P2KP, yang sekarang bernama PNPM Mandiri Perkotaan, memiliki garis kerja TRIDAYA, yaitu kegiatan sosial, lingkungan dan ekonomi. Ketiga aspek kegiatan tersebut dikerjakan oleh masyarakat, diwakili oleh lembaga masyarakat yang di sebut dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).

Harapannya, BKM mampu menjadi lembaga partisipatif yang menggali gagasan dan permasalahan yang terjadi di lingkungan masing-masing. Pendanaan juga langsung masuk ke rekening BKM. Dalam proses pelaksanaannya, kegiatan BKM didampingi oleh fasilitator yang bertugas memberikan arahan terkait fungsi dan peran BKM sebagai wakil perubahan dalam masyarakat.

Fasilitator juga berfungsi ganda, yaitu mengawasi jalannya siklus kegiatan dalam masyarakat. Fasilitator berperan membangun kapasitas sumberdaya manusia (SDM) atau pengurus BKM dan kelompok swadaya masyarakat (KSM), serta mencoba menggali gagasan tentang kegiatan yang berdampak pada tiga hal (Tridaya) di atas.

Namun ada hal yang, menurut saya, mengganjal dari pengamatan saya secara keseluruhan terhadap BKM yang ada. Kegiatan yang ada dalam BKM atau masyarakat lebih diprioritaskan pada pembangunan fisik.

Kegiatan lingkungan mengalami penyempitan makna, dimana lingkungan dipahami sebagai “sekadar” pembangunan fisik jalan, WC umum, rumah dan bak penampung air. Tidak jadi masalah jika pembangunan fisik tersebut membuat masyarakat mampu menerima manfaat dari aspek peningkatan ekonomi atau perbaikan mutu kesehatan (sanitasi). Sayangnya, lingkungan di sini tidak dimaknai dengan pembangunan fisik yang berdampak pada ekonomi rill dan persoalan kesehatan.

Begitu pula dengan kegiatan sosial, dimana banyak kegiatan sosial hanya bersifat pelatihan tanpa melihat dari aspek ekonomi berkelanjutan dan rill dengan melihat faktor keterampilan, talenta, aspek pasar dan sumberdaya alam (SDA) yang mendukung.

Yang lebih parah adalah kegiatan ekonomi, yang menurut saya, tidak mengalami perkembangan (stagnan) dan hanya bergulat pada dana bergulir saja, tanpa ada langkah lebih jauh untuk mengarahkan KSM/peminjam ini untuk bisa “bekerja sama dalam satu usaha, bukanbekerja sama-sama dalam usaha berbeda”.

Dari analisis kemiskinan yang sudah dipaparkan di atas, tampak ada kecendrungan kemiskinan yang terjadi di kawasan kota disebabkan datangnya kaum urban yang berbaur berasal dari daerah yang sudah miskin—secara materi, pendidikan, keterampilan, informasi dan relasi. Ditambah kaum miskin yang bukan urban, tapi di-ninabobo-kan harta peninggalan yang tidak terkelola, sehingga menjadi habis (kasus masyarakat Betawi di Jakarta dan masyarakat asli Tamamaung di Kelurahan Tamamaung Makassar).

Faktor kaum asli diakibatkan kurangnya keterampilan dan unformasi serta relasi dari luar membuat datangnya kaum urban yang miskin menjadi beban baru. Selain itu, datangnya kaum urban terlatih yang lebih aktif mengelola sumberdaya di sekitar juga menyebabkan faktor kemiskinan.

Dari gambaran tersebut sangat jelas bahwa dalam bentuk kegiatan perlu keterkaitan satu sama lain pada tiga aspek kegiatan Tridaya tersebut, di mana kegiatan sosial dapat berdampak pada ekonomi; kegiatan lingkungan dapat berdampak ekonomi dan sosial; serta kegiatan ekonomi dapat berdampak lingkungan dan sosial.

Salah satu contoh yang dilakukan British Council dengan kegiatan kewirausahaan sosialnya, dimana semua aspek kegiatan ekonomi dapat diharapkan berdampak lingkungan dan sosial. Harapannya kemudian, setiap kegiatan sosial berupa pelatihan lebih pada penguatan masyarakat dari segi aspek skill dan gambaran dari aspek pasar, sehingga KSM yang bergerak di bidang ekonomi dapat melakukan sebuah kerja kewirausahaan.

Kegiatan selama ini hanya bersifat bantuan modal usaha yang dikelola sendiri-sendiri, walau pada kenyataannnya mereka harus berkelompok. Pertanyaannya, untuk apa mereka berkelompok jika usaha yang dibangun hanya orang per orang?

Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya kesamaan dalam sebuah usaha dalam satu kelompok akibat tiadanya informasi atau skill terhadap usaha yang layak jual. Sehingga, harapannnya adalah bagaimana kegiatan sosial nantinya dapat menjadi sebuah gagasan baru untuk sebuah unit usaha baru bagi kelompok swadaya masyarakat.

Selama ini kegiatan sosial lebih banyak pada kegiatan menjahit dan tata boga. Atau yang lainnya berupa pengadaan alat sosial seperti kursi sosial, peralatan sosial lain dan pengadaan alat yang tidak dibarengi pelatihan penggunaan serta aspek pasar serta inovasi produk untuk bertahan menghadapi daya saing pasar.

Kemiskinan memang sangat menarik untuk dibicarakan, sehingga kemiskinan menjadi semacam sebuah “produk unggulan” yang laris manis untuk dijual. Namun, apakah dengan hal itu kemiskinan di masyarakat akan berkurang?

Ataukah kemiskinan merupakan sebuah takdir semata?

Jika kemiskinan adalah takdir, maka mari kita meminjam kata dari Ali bin Abi Thalib yang mengatakan, ”Saya loncat dari takdir satu masuk ke takdir yang lain.” Ini mengisyaratkan, takdir adalah pilihan. Dan sebuah pilihan terjadi karena ada proses berpikir. Maka kemiskinan akan berubah dengan mengubah pola pikir tentang kemiskinan tersebut. (OC 8 Sulsel PNPM Mandiri Perkotaan)

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 2800)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 2792, akses halaman: 3055,
pengunjung online: 73, waktu akses: 0,045 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank