Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelKebo Iwa, Spirit Pemberdayaan Sejati
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Gianyar, 29 Juni 2011
Kebo Iwa, Spirit Pemberdayaan Sejati

Oleh: 
Wayan Sukarsana 
Askot Mandiri 
Kabupaten Gianyar 
OC 7 Provinsi Bali 
PNPM Mandiri Perkotaan        .

Cerita rakyat yang melegenda di masyarakat Bali menggambarkan bahwa Kebo Iwa adalah seorang tokoh yang gagah perkasa, besar, kuat, sakti, pemberani, rela berkorban, ikhlas, ahli seni bangunan, dan sebagainya. Tampaknya patung tokoh Kebo Iwa yang dibangun di perbatasan sebelah barat Desa Blahbatuh merupakan refleksi dari figur fisik ketokohannya.

Ketokohannya tidak hanya dikenal di Desa Blahbatuh, sebagai desa tempat kelahirannya, Kebo Iwa juga dikenal di beberapa tempat di Bali. Sebagai abdi kerajaan Bedahulu, ia taat kepada raja. Ia berkarakter jujur, pemberani, kuat, sakti dan bijaksana.

Jabatan Patih Amengkubhumi yang disandang oleh Kebo Iwa bertolak dari penilaian terhadap dirinya tersebut. Keseimbangan kekuatan lahir dan batin yang dimilikinya menyebabkan ia menjadi seorang patih yang bijaksana.

Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten merupakan raja terakhir dari deretan raja- raja jaman Bali Kuna. Baginda satu-satunya Raja Bali kuna yang menolak kekuasaan pemerintah pusat Majapahit yang dikendalikan oleh Tri Bhuwana Tunggadewi. Oleh karenanya Raja Bali dikatakan raja yang merdeka.

Kemerdekaan yang disandang oleh Raja Bali merupakan sebuah keniscayaan, sebab di dalam program politik Nusantaranya, Gajah Mada dengan tegas menyebut Nusantara Bali sebagai salah satu negara yang harus ditaklukkan.

Janji politik Gajah Mada itu lebih populer dengan sebutan Sumpah Palapa (Amukti Palapa), yang intinya mengandung makna sebuah janji untuk mengambil cuti setelah seluruh kerajaan di Nusantara bersatu di bawah panji-panji Majapahit.

Dari gambaran di atas, kala itu tentu Bali sangat kuat, karena memiliki Patih yang perkasa. Di sisi lain, Gajah Mada memiliki ambisi yang kuat untuk menaklukkan Bali. Maka Kebo Iwa adalah target utamanya.

Bertolak dari pemaparan di atas, kematian Kebo Iwa pun sungguh dramatis dan tragis, sesuai niat Gajah Mada yang telah matang merencanakannya, niscaya tanpa memandang cara yang digunakan untuk membunuhnya. Gajah Mada lebih mengedepankan kematian Kebo Iwa, walau dengan cara sekejam apapun, karena Kebo Iwa dianggap dapat menghambat dalam mewujudkan tujuan politik Gajah Mada untuk mempersatuakan Nusantara di bawah panji-panji Majapahit.

Menurut Gajah Mada, persatuan Nusantara lebih besar nilainya dibandingkan dengan nyawa seorang Kebo Iwa. Bila dengan terbunuhnya Kebo Iwa Nusantara Bali mau tunduk kepada Majapahit, rupanya bukan merupakan sebuah dosa untuk mengorbankan nyawa Kebo Iwa.

Dan Kebo Iwa pun meninggal atas dasar daya upaya Gajah Mada.

Tetapi demi persatuan Nusantara, hal itu ia relakan. Justru ia dibunuh secara ksatria atas suruhannya sendiri, karena sejatinya dia tidak akan terbunuh oleh apapun juga. Sejatinya, Kebo Iwa telah menjadi tumbal demi persatuan Nusantara.

Beranjak dari paparan atau ringkasan cerita di atas, banyak nilai-nilai luhur yang dapat digali dari ketokohan Kebo Iwa untuk dijadikan panutan/cermin untuk membangun Bali, khususnya membangun Gianyar dan membangun desa/kelurahan yang ada di Gianyar. Ini sejalan dengan asumsi PNPM Mandiri Perkotaan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip-prinsip kemasyarakatan tersebut mulai luntur. Maka hendaknya secara bersama-sama kita harus meletakkan dan mendudukkannya kembali di tatanan masyarakat.

Nilai-nilai mulia yang dapat diangkat dan direvitalisasi (diberdayakan) dari ketokohan Kebo Iwa adalah Spirit Kepahlawanan yang dimilikinya. Spirit kepahlawanan yang dimaksud adalah semangat dan jiwa orang- orang yang berani berkorban untuk membela kebenaran dan tidak mudah putus asa. Itulah manusia yang utama atau manusia sejati.

Hal ini harus dimiliki oleh setiap insan pemberdayaan di masyarakat, termasuk juga Pemerintah.

Fasilitator, Badan/Lembaga Keswadayaan Masyarakat (BKM/LKM), dan Relawan semestinya bercermin pada ketokohan ini, yang tanpa pamrih bekerja keras untuk masyarakat dan komunitas demi kesejahteraan masyarakat, yang sudah pasti akan mengantarkan masyarakat keluar dari permasalahan sosial seperti masalah kemiskinan.

Bercermin pada sifat kepahlawanan Kebo Iwa berarti bercermin pada masa lalu sebagai landasan berpijak di masa kini guna menata kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Hal ini harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Atita (dahulu), wartamana (sekarang) dan nagata (yang akan datang) merupakan suatu kesatuan waktu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sifat utama yang dimiliki Kebo Iwa perlu dicontoh dalam memberdayakan masyarakat

Jadi, tidaklah berlebihan jika Kebo Iwa dipilih sebagai ikon Kabupaten Gianyar, disebabkan ketokohannya yang dipandang layak dijadikan panutan untuk membangun Gianyar.

Membangun mengandung pengertian bangkit. Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari kemiskinan.

PNPM Mandiri Perkotaan senantiasa sejalan dengan konsep ini. Spirit Kepahlawanan Kebo Iwa hendaknya diteruskan oleh oleh pemimpin-pemimpin Indonesia masa kini: Presiden, gubernur, bupati/walikota, camat, lurah/kepala desa, bahkan BKM/LKM serta Fasilitator.

Selamat berjuang Kebo Iwa–Kebo Iwa masa kini. Kesejahteraan masyarakat berada di pundakmu. (Lomba Penulisan Artikel Tingkat KMW Bali, Juni 2011)

* Cerita dipetik dari Buku “Kebo Iwa Patih Amengku Bhumi di Jaman Bali Kuna” yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, Tahun 2010.

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 3130)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 6140, akses halaman: 10022,
pengunjung online: 188, waktu akses: 0,039 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank