Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelGotong-Royong sebagai Praktek Social Capital
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Denpasar, 6 Juli 2011
Gotong-Royong sebagai Praktek Social Capital

Oleh: 
Heri Purwanto, ST
Askot CD
Kota Denpasar
OC 7 Bali 
PNPM Mandiri Perkotaan        .

Di Indonesia, studi tentang social capital secara formal masih merupakan hal yang baru. Namun, meski secara eksplisit belum menggunakan terminologi social capital, sebenarnya telah ada beberapa studi terutama berupa kajian tentang hubungan kerja sama saling menguntungkan antarwarga masyarakat di daerah pedesaan, yang pada esensinya memiliki keterkaitan erat dengan social capital.

Mempertimbangkan simpulan sementara bahwa elemen utama social capital terdiri dari normsreciprocitytrust, dan network, maka sebenarnya hal tersebut secara historis bukan merupakan fenomena baru dan asing bagi masyarakat di Indonesia dan hal tersebut lebih berakar kuat dan terinstitusikan dalam ke hidupan sehari-hari masyarakat di daerah pedesaan.

Semangat dan implementasi dari kemauan untuk saling bekerja sama dalam upaya memenuhi kepentingan sosial dan kepentingan individu atau personal telah termanivestasikan dalam berbagai bentuk aktivitas bersama yang secara umum, yang dikenal dengan kegiatan "saling tolong-menolong", atau secara luas terwadahi dalam tradisi "gotong-royong".

Tradisi gotong-royong memiliki aturan main yang disepakati bersama (norma), menghargai prinsip timbal-balik dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dan dalam waktu tertentu akan menerima kompensasi atau reward sebagai suatu bentuk dari sistem resiprositas (reciprocity), ada saling kepercayaan antarpelaku bahwa masing-masing akan mematuhi semua bentuk aturan main yang telah disepakati (trust), serta kegiatan kerja sama tersebut diikat kua t oleh hubungan-hubungan spesifik antara lain mencakup kekerabatan (kinship), pertetanggaan (neighborship) dan pertemanan (friendship), sehingga semakin menguatkan jaringan antarpelaku (network).

Secara nyata, tradisi gotong-royong telah melembaga dan mengakar kuat. Ini diwujudkan dalam berbagai aktivitas keseharian masyarakat Indonesia. Khususnya di pedesaan Jawa, praktek gotong-royong, walau cenderung mengalami penurunan—baik dari sudut pandang lingkup aktivitas maupun jumlah orang yang terlibat—secara umum masih mendapatkan apresiasi positif dari warga masyarakat. Hal ini tampaknya juga dipengaruhi oleh salah satu karakteristik khusus, yaitu keeratan hubungan sosial yang dimiliki oleh masyarakat Jawa.

Salah seorang peneliti terkemuka tentang masyarakat pedesaan, Scott (1976) telah mengkategorikan masyarakat pedesaan Jawa sebagai salah satu dari masyarakat pedesaan di dunia yang memiliki tradisi communitarian paling kuat.

Kegiatan gotong-royong terekspesikan dalam berbagai aktivitas mulai dari yang bersifat sosial, sosial dan personal, dan personal yang diwujudkan dalam bentuk pertukaran (exchange). Ditinjau dari bentuk yang dikerja-samakan, gotong-royong bisa mencakup material, tenaga, uang dan social spirit. Secara umum aktivitas gotong-royong memiliki tema sentral sebagai mutual help antaranggota masyarakat, dimana masing-masing pihak yang terlibat saling memberikan kontribusi, dan sebagai reward-nya mereka mendapatkan gain dari aktivitas yang dikerja-samakan.

Semangat timbal balik (reciprocity) melekat kuat sebagai penunjuk bahwa proses kerjasama berlangsung dengan fair. Dalam praktek nyata keseharian, timbal balik memiliki spektrum yang fleksibel dari timbal balik yang sangat ketat (strict reciprocity) sampai dengan timbal balik yang longgar (non strict reciprocity). Dan bukan tidak mungkin dalam kasus-kasus tertentu terjadi ketidakseimbangan antara kontribusi dan gain yang diperoleh pihak terlibat dalam jangka panjang. Namun, karena warga masyarakat masih memegang prinsip generosity, hal itu diterima sebagai hal yang biasa, dengan kebesaran hati.

Semangat kesepadanan dan timbang rasa memungkinkan anggota masyarakat dari golongan kurang mampu atau terbelakang secara sosial dan ekonomi untuk memperoleh gain yang lebih besar dibandingkan dengan kontribusi yang diberikan kepada kelompoknya.

Aktivitas gotong-royong dalam berbagai dimensinya memberikan implikasi semangat dan value untuk saling memberikan jaminan (self-guarantying) atas hak dan kelangsungan hidup antarsesama warga masyarakat yang masih melekat cukup kuat di pedesaan. Hal ini juga dapat diacu sebagai salah satu strategi tradisional dalam social safety net.

Subejo dan Iwamoto (2003) memberikan terminologi pada praktek gotong-royong yang dilembagakan sebagai tradisi oleh warga pedesaan sebagai “institutionalized stabilizers”, karena aktivitas tersebut memungkinkan proses keberlanjutan (sustainability) dan menjamin stabilitas secara ekonomi dan sosial pada kehidupan rumah tangga di pedesaan.

Suatu pioneering study tentang gotong-royong yang dilakukan di dua desa di Jawa Tengah oleh Koentjaraningrat (1961) merupakan salah satu studi yang mendalam dari aspek sosiologi dan antropologi tentang praktek human interaction dan mutual cooperation di pedesaan Indonesia, dan secara lebih khusus di pedesaan Jawa.

Studi tentang aktivitas dan proses gotong-royong oleh masyarakat pedesaan dari sudut pandang sejarah telah dilakukan oleh Kartodirjo (1978). Secara umum bahwa kegiatan gotong-royong memiliki peranan dan kontribusi penting dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat pedesaan telah tersimpulkan dari beberapa studi (Raharjo, 1979; Depdikbud, 1985 dan Sairin, 2001).

Satu studi lainnya yang juga menyinggung tentang praktek gotong-royong yang dilakukan oleh masyarakat di pinggiran kota Yogyakarta telah dilaporkan oleh Sulivan (1992). Sulivan menerjemahkan gotong-royong sebagai alat “to carry a load cooperativelyto share the burden”.

Beberapa elemen dasar dalam masyarakat yang teridentifikasi yang menyebabkan mereka tetap mempertahankan dan mempraktekka n tradisi gotong-royong antara lain nilai-nilai dari: egalitarianism, generosity dan considerateness.

Suatu studi terbaru tentang karateristik, fungsi dan faktor-faktor yang mempengaruhi sustainability dari labor institutions di pedesaan Jawa seperti yang telah dilaporkan oleh Iwamoto dan Subejo (2004). Data empiris dalam studi tersebut mengindikasikan bahwa berbagai kegiatan gotong-royong yang diekpesikan dalam pembentukan labor institutions mengalami perubahan-perubahan dan modifikasi seiring dengan proses modernisasi dan merembesnya ekonomi pasar dalam seluruh aspek kehidupan di daerah pedesaan Jawa.

Secara umum, dilaporkan bahwa faktor fisik lokasi atau sumberdaya ekologi (irigasi dan kesuburan tanah), faktor ekonomi (akses transportasi, pasar input dan produk serta off-farm job) dan faktor sosial (keeratan hubungan sosial melalui kekerabatan, pertetanggaan dan pertemanan) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja dan keberlanjutan aktivitas institusi kerja untuk daerah pedesaan yang berlokasi di perbukitan atau pegunungan. Dengan berbagai keterbatasan dalam kepemilikan sumberdaya ekologi dan aksesibilitas, tapi mereka masih memiliki keeratan hubungan sosial yang tinggi. Secara umum insitusi kerja untuk mutual help masih dipraktekkan dan dilembagakan secara lengkap.

Sebaliknya fenomena yang berlawanan terjadi di daerah dataran rendah dimana warga masyarakatnya memiliki tingkat aksesibilitas yang lebih baik dalam berbagai hal. Motivasi untuk menghindari cash economy , kesulitan dalam hal geografis wilayah serta keperluan jumlah tenaga yang besar dalam jangka waktu yang sangat pendek, misalnya pada musim hujan, tampaknya menjadi faktor yang esensial, sehingga praktek gotong-royong tetap dipertahankan dan berlangsung.

Kesimpulan

Social capital telah muncul dan tumbuh menjadi salah satu tema utama bagi banyak ahli dan peneliti dalam bidang yang terkait. Hal ini didasari pada kesepahaman bersama bahwa social capital merupakan faktor yang penting yang berpengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pembangunan secara umum.

Meski secara formal studi social capital belum banyak dilakukan dan dikembangkan di Indonesia, tapi beberapa studi awal tentang aktivitas gotong-royong dan institusi kerja untuk tolong-menolong di pedesaan, paling tidak, telah membuka peluang yang lebih luas sebagai referensi awal untuk studi yang lebih intensif dan komprehensif tentang praktek dan mekanisme kerja dan keberlanjutan social capital di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan.

Studi-studi awal secara umum telah menyimpulkan bahwa aktivitas warga masyarakat yang terinstitusionalisasikan dalam berbagai tipe gotong-royong yang mencakup dimensi sangat luas mulai dari kepentingan publik/sosial sampai kepentingan tingkat individu telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi keberlangsungan rumah tangga masyarakat di pedesaan, baik secara sosial maupun ekonomi.

Kegiatan-kegiatan yang antara lain termanifestasikan dalam institusi kerja untuk saling tolong-menolong pada tataran tertentu telah memberikan jaminan atau self-guarantying kepada semua anggota masyarakat guna mendapatkan kesempatan dan hak penghidupan yang layak secara sosial dan ekonomi melalui aktivitas-aktivitas kerja sama yang mampu memenuhi kebutuhan individu dan juga kepentingan bersama/kelompok.

Penelaahan pada institusi kerja untuk tolong-menolong saja tampaknya masih belum cukup. Masih ada variasi bentuk-bentuk institusi lokal lain yang juga dapat diacu sebagai bagian dari sistem jaring pengaman sosial, yang telah dikembangkan dan terlembagakan secara tradisional oleh warga masyarakat.

Institusi lokal tersebut merupakan lembaga dan tatanan bersama yang memungkinkan suatu keberlanjutan dan stabilitas bagi setiap rumah tangga sebagai warga masyarakat.

Beberapa aspek kajian antara lain institusi yang memiliki fungsi pelayanan sosial, kelompok simpan pinjam berotasi (arisan), jaring pengaman sosial tradisional lainnya, sistem pewarisan yang seimbang, sistem penyakapan dan bagi hasil serta pelayanan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang lebih mendalam.

Institusi-institusi tersebut memungkinkan akses yang lebih besar, baik bagi kalangan yang kurang mampu maupun kalangan menengah ke atas di pedesaan, guna mencapai stabilitas secara ekonomi dan sosial dalam kehidupannya.

Selain studi tentang karakteristik dari masing-masing institusi juga dapat dilakukan pelacakan bagaimana peranan dan kontribusi institusi-institusi tersebut dalam menjamin keberlanjutan ekonomi rumah tangga masyarakat.

Tidak kalah pentingnya, studi tentang mekanisme dan proses kerja sama antarwarga masyarakat yang terwujud dalam berbagai bentuk kerja sama perlu diteliti secara mendalam pula. Hal ini memungkinkan untuk dapat mengidentifikasi mekanisme kerja sama yang lebih efisien, serta dapat teridentifikasi variabel-variabel utama yang menentukan performance kerja sama sehingga bisa mencapai tujuan yang diharapkan oleh pelakunya.

Opportunistic behavior, free rider dan rent seeking yang umumnya menjadi tema sentral sebagai penghambat dan perusak organisasi dan sistem kerja sama dapat diteliti dengan saksama. Kajian dapat diarahkan untuk menjawab hipotesis tentang bagaimana keberadaan faktor penghambat tersebut dalam praktek nyata kerja sama, serta bagaimana strategi pemain atau pelakunya untuk mengeliminasi hal tersebut sehingga proses kerja sama dapat tetap berlangsung dengan baik.

Bagaimanapun, modernisasi yang secara sederhana dapat ditandai dengan masuknya ekonomi pasar ke segala aspek kehidupan masyarakat pedesaan, telah secara langsung—atau tidak langsung—mempengaruhi aktivitas kerja sama antar warga masyarakat lokal. Kajian terkait yang perlu dilakukan antara lain mencakup bagaimana dampak (positif dan/atau negatif) dengan masuknya ekonomi pasar serta dapat dilakukan pula identifikasi terhadap institusi lokal dengan karakteristik seperti apa yang memiliki kemampuan bertahan, bahkan tumbuh dan berkembang di tengah menguatnya pengaruh ekonomi pasar di daerah pedesaan.

Maka dengan demikian, yang menjadi PR bersama bangsa ini—sebagai penerus pembangunan yang manusiawi serta tetap menjaga kearifan lokal—adalah bagaimana kita semua bisa berefleksi kembali akan substansi kebersamaan dan gotong-royong, sebagaimana yang di filosofikan pada kelima dasar (sila) pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Bila substansi nilai-nilai yang terkandung dalam dua filosofi suci tersebut kembali dipahami komponen bangsa ini, maka tak akan ada lagi kemiskinan dan pembodohan oleh bangsa sendiri di NKRI! (Sumber: Mawan - Artikel S3 Pemberdayaan Masyarakat)

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 5125)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 1409, akses halaman: 2265,
pengunjung online: 148, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank