Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelMenanggulangi Kemiskinan dengan Pemicuan
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Palembang, 18 Juli 2011
Menanggulangi Kemiskinan dengan Pemicuan

Oleh:
Sudarsono
National Trainer
OC 2
PNPM Mandiri Perkotaan   .

Saya membeli beberapa buku murah di suatu toko buku di Palembang, pertengahan Mei 2011. Salah satunya adalah Once Upon a Cow, ditulis oleh Dr. Camilo Cruz, yang memicu saya menulis ini. 

Pada suatu bagian buku tersebut menceritakan, sesuatu bencana mendorong orang lebih kreatif dalam menjalani kehidupan.  Matinya sapi pada cerita di atas menjadi faktor pemicu yang membangkitkan pertahan dan memperoleh kesempatan dan harapan keluarga miskin tersebut untuk kehidupan baru yang lebih baik. 

Upaya pemicuan ini tampaknya dapat digunakan oleh kita semua, termasuk untuk upaya penanggulangan kemiskinan dalam PNPM Mandiri Perkotaan.

Metode Apa yang Cepat Menyadarkan Orang?

Metode pemicuan ini sudah cukup banyak digunakan untuk berbagai program, ternyata memberikan hasil yang memuaskan. Penerapan metode ini dalam program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) atau Community Led Total Sanitation (CLTS) yang dikembangkan oleh Dr. Kamal Kar—seorang berkebangsaan Inggris keturunan India—yang bekerja pada International Development Study (IDS), United Kingdom (UK). Lembaga ini juga tempat Dr. Robert Chambers, penggagas Partisipation Rural Appraisal (PRA) bergabung. Metode Dr. Kamal Kar telah membebaskan suatu wilayah RT, RW, desa, kecamatan dan wilayah yang lebih besar lagi, dari buang air besar (BAB) sembarangan (open defecation free atau ODF). 

Metode pemicuan ini berhasil mengubah perilaku BAB sembarangan melalui kejutan-kejutan psikologis dengan alat pemicu, antara lain:

  • Menumbuhkan rasa jijik memakan makanan, karena kemungkinan dihinggapi lalat yang sebelumnya telah menghinggapi tinja
  • Kunjungan lapangan (transect walk), diskusi yang lama di lokasi BAB tidak tertutup
  • Menghitung biaya berobat yang mahal dan menghitung kerugian tidak memperoleh pendapatan karena tidak bekerja sebagai akibat sakit
  • Menumbuhkan rasa berdosa karena dari kotoran yang dibuang sembarang ke sungai menyebabkan orang lain sakit, atau air wudhu tidak suci/najis
  • Menumbuhkan rasa malu bahwa BAB sembarangan merupakan kebiasaan jadul (kuno)
  • Fakta lainnya yang tidak terbantahkan, dan pemicu lainnya.

Dalam PNPM Mandiri Perkotaan, sasaran program sudah jelas: kelompok masyarakat yang dikategorikan PS2. Namun demikian, program belum memfasilitasi secara langsung terhadap kelompok ini. 

Selama ini fasilitasi kepada kelompok tersebut dilakukan oleh pengurus UPK dan pengurus LKM dengan metode yang lebih cenderung pada model penyuluhan dalam melakukan pengelolaan Dana Pinjaman Bergulir. 

Kalau dilihat sepintas, pengelolaan Dana Pinjaman Bergulir baru menyediakan modal fisik untuk berwirausaha. Padahal, kalau melihat contoh cerita di atas, yang lebih penting lagi adalah memfasilitasi tumbuhnya mental wirausaha. 

Alat  Apa yang Dibutuhkan untuk Pemicuan PS2?

Salah satu alasan yang sering dikemukakan oleh PS2 tentang kemiskinan yang dideritanya adalah karena keyakinan yang salah tentang potensi yang dimilikinya dan merasa tidak berdaya/nasib.  Untuk melakukan pemicuan (shock therapy) PS2, maka PNPM Mandiri Perkotaan perlu mengembangkan serangkaian alat  pemicuan.  Sebenarnya alat  pemicuan merupakan metode PRA (Partisipation Rural Appraisal) yang sudah dimodifikasi dan dikembangkan sesuai dengan tujuan program.  Beberapa aspek yang dapat dikembangkan untuk melakukan pemicuan PS2, antara lain:

Menumbuhkan rasa takut kelaparan yang akan menimpa diri dan keluarga, terutama anak-anak apabila tidak mempunyai penghasilan

Menumbuhkan rasa berdosa apabila tidak dapat memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya

Menumbuhkan rasa malu apabila selalu menerima bantuan, serta alat  pemicuan lainnya yang harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Kemungkinan pada pemicuan PS2 yang telah sadar bahwa keluarganya harus berubah, mereka akan menanyakan apa jalan keluarnya. Fasilitator pemicuan yang baik seharusnya tidak langsung menanggapi dan memberikan jalan keluar, melainkan dikembalikan lagi ke PS2 tersebut untuk menggali langkah-langkah yang mungkin dapat dilakukan oleh dirinya sendiri dalam mengubah hidup.

Jika mereka sudah menyampaikan alternatif langkah-langkah perubahan, maka bersama-sama Fasilitator pemicuan melakukan evaluasi kelayakan dari rencana-rencana kegiatan yang diusulkan.

Monitoring dan Deklarasi Bebas PS2

Upaya-upaya perjuangan PS2 untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik perlu terus disemangati dan didampingi. Hal ini perlu dilakukan guna menjaga motivasi agar tetap terjaga.

Pada jadwal-jadwal dimana PS2 berjanji akan melakukan usaha, maka Fasilitator harus mendatangi PS2 tersebut guna melihat realisasi janji yang diucapkan saat pemicuan dulu. Monitoring ini penting dilakukan, karena banyak pemicuan CLTS yang gagal gara-gara lalai dalam monitoring.

Cakupan pelaksanaan pemicuan PS2 agar berjalan efektif harus dilakukan secara bertahap, mulai dari wilayah terkecil RT, beberapa RT, berlanjut ke RW dan seterusnya ke wilayah yang lebih luas lagi.

Sebagai rasa syukur atas berhasilnya upaya penanggulangan kemiskinan bagi PS2, apabila sudah tidak ada lagi penduduk yang termasuk dalam kategori PS2 serta untuk mempengaruhi wilayah lainnya, maka perlu dilakukan Deklarasi Bebas PS2, mulai dari RT, RW, terus berlanjut ke wilayah yang lebih luas. 

Guna membangkitkan efek kompetisi, maka pada wilayah-wilayah yang sudah bebas PS2 tersebut diberi tanda spanduk, baliho atau tanda lainnya. Kegiatan ini akan memberikan efek bola salju yang terus membesar, sehingga akan tercapai Kota/Kabupaten Bebas PS2 dan seterusnya ke wilayah yang lebih luas lagi.

Penutup

PS2 sebagai sasaran utama dari PNPM Mandiri Perkotaan harus disadarkan/dipicu bahwa kondisinya akan tetap seperti itu jika tidak berbuat apa-apa. Oleh karena itu, program ini perlu melakukan upaya fasilitasi pemicuan PS2. Meski demikian, sebelum diterapkan pada skala yang besar, perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang kesesuaian metode pemicuan dalam menanggulangi kemiskinan PS2.

Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bahan diskusi untuk penerapannya lebih lanjut. (OC 2 Sumsel)

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 1816)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 3979, akses halaman: 4692,
pengunjung online: 164, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank