Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelAda Apa Dengan PB?
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi.

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Maluku, 22 Juli 2011
Ada Apa Dengan PB?

Oleh:
Tamharuddin
National Trainer
OSP 9 Maluku, Malut Papua, Papua Barat
PNPM Mandiri Perkotaan

Pada Selasa, 19 Juli 2011. Aktivitas kantor KMW Maluku sudah mulai seperti biasa. Maklum, sudah pukul 10.00 WIT. Hanya saja suasana dan jumlah personel lebih ramai dari biasanya. Seluruh jajaran Korkot dan staff dari Kota Ambon sudah berkumpul.

Ya, mereka datang memenuhi undangan dari KMW Provinsi Maluku, yang akan melaksanakan Komunitas Belajar Internal Konsultan (KBIK) untuk seluruh jajaran Korkot yang ada di wilayah Kota Ambon.

KBIK kali ini lebih menyoroti persoalan Manajemen Keuangan (MK), karena berdasarkan hasil analisis dari TA MK Provinsi Maluku dan TA MK KMP, untuk Pinjaman Bergulir (PB) Maluku akan mengalami kegagalan pada November 2011. Artinya, kalau tidak ada perbaikan dalam PB, terutama pelaksanaannya sejak sekarang, maka analisis tersebut akan menjadi sebuah kenyataan. Status tidak memadai!

Peserta KBIK terlihat kaget dan tidak percaya, sekaligus nyaris tidak berdaya melihat data yang ditampilkan tentang jumlah dana yang macet di masyarakat. Secara angka memang sangat fantastis, sejumlah Rp1,3 miliar yang dipinjam masyarakat macet. Timbul pertanyaan dari semua peserta, di mana persoalannya, hingga jumlah kemacetan sebanyak itu?

Pertanyaan tersebut ternyata sulit untuk ditemukan jawabannya. Setelah seluruh peserta memberikan argumentasi masing-masing, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, baru diketahui ternyata kesalahan ada pada tataran internal.

Berbagai kemungkinan penyebab dibahas dan berbagai solusi digali, dalam rangka mencari jalan keluar terbaik.

Sorotan tajam pertama jatuh pada saat fasilitasi pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Pada diskusi dan analisis berbagai cerita peserta menghasilkan kesimpulan sementara bahwa pembentukan awal KSM kemungkinan besar bukan karena persamaan masalah dan kepentingan, melainkan terjadi pengelompokan untuk pemenuhan target semata.

Berdasarkan hasil kesimpulan sementara tersebut, perhatian peserta semakin fokus pada masalah pembentukan KSM dan sosialisasi PB.

Sosialisasi ke masyarakat soal PB selama ini dijalankan dengan cara alakadarnya dan sangat sedikit inovasi. Sosialisasi yang disampaikan semata hanya sebuah aturan dan SOP, tanpa pernah menyentuh pahitnya kegagalan PB, asinnya menjadi daftar tunggu dan tawarnya kedatangan tim penagih saat jatuh tempo.

Sosialisasi sangat jauh dari motivasi melalui Best Practice PB yang pernah ada. Sosialisasi sangat miskin inovasi.

KBIK hari pertama baru melahirkan beberapa ide perbaikan dan akan dilanjutan keesokan harinya. Namun, satu hal yang pasti. Peserta mulai menyadari persoalan mengenai PB yang membutuhkan waktu serta perhatian khusus, agar analisis dari berbagai pihak tentang kegagalan tidak menjadi sebuah kenyataan.

Kesepakatan awal bahwa semua pihak akan terlibat secara lebih aktif untuk mengambil bagian dalam penyelesaian masalah PB, semua bersepakat menjadikan kegagalan yang terjadi sebagai pembelajaran dan berkomitmen untuk mencoba melakukan perubahan untuk PB ke depan.

Berbagai strategi muncul dalam upaya mencari jalan keluar, dan semua menginginkan lebih menekankan peserta untuk lebih memperhatikan sisi pemberdayaannya dan menjalankan prosesnya secara baik. Orientasi yang muncul bukan pada hasil, melainkan jalan keluar, sebagai proses melakukan pembenahan pada sistem yang berjalan.

Salah satu bentuk pemberdayaan yang akan menjadi acuan dalam penanganan masalah dimulai dengan menjadikan kemacetan PB sebagai musuh bersama. Dan partisipasi masyarakat sebagai inti dalam penyelesaian masalahnya. Ini sebenarnya bukan hal baru, tapi perlu lebih membumi.

Sesuatu yang mudah untuk direncanakan dan membutuhkan sikap optimis dalam melaksanakannya. Saling melengkapi dan saling membutuhkan dengan masyarakat menjadi sikap yang sangat mutlak dalam upaya pemberdayaan. Sekali lagi, ini bukan hal baru, tapi baru dari sisi akan dilakukan secara maksimal. (OSP 9 Maluku)

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 1210)
KOMENTAR ANDA:
Saya kira 'PB' adalah profit Barokah, salah tanggab hehehe
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 9357, akses halaman: 13497,
pengunjung online: 218, waktu akses: 0,023 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank