Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaBeritaUbah Sistem Penggajian dan Naikkan Gaji Fasilitator
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Jakarta, 10 November 2011
Ubah Sistem Penggajian dan Naikkan Gaji Fasilitator

Oleh:
Redaksi Website

PNPM Mandiri Perkotaan

 

Pelaku Lapangan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan meminta adanya perubahan signifikan terkait ketepatan waktu penggajian, kenaikan nilai gaji Fasilitator, serta perbaikan koordinasi-komunikasi antara pihak Pusat dengan wilayah.

Hal tersebut diungkapkan Perwakilan Fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan wilayah DKI Jakarta, Kepulauan Seribu dan Tangerang (Banten) saat melakukan audiensi dengan pihak Satker P2KP Pusat, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) Wilayah I dan KMP PNPM Mandiri Perkotaan Wilayah I, di Kantor Proyek P2KP Jl. Penjernihan I No. 19 F1, Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 10 November 2011.

Rombongan Fasilitator DKI Jakarta, Kepulauan Seribu dan Tangerang yang berjumlah sekitar 40 orang ini disambut hangat oleh pihak Satker Pusat dan KMP. Dari pihak Pusat, hadir PPK P2KP Wilayah I Usman Hermanto, ST, PPK P2KP Wilayah II Mita Dwi Aprini, S.Sos, M.Si, Asisten Pengendalian Pelaksanaan PNPM Wilayah I A. Madya Shomady, ST, MT, Kepala ART Satker Pusat Wisit Budisusetyo, BE, Staf Satker M. Drajad, Team Leader (TL) KMP PNPM Mandiri Perkotaan Wilayah I Dr. Endang Hernawan, MT, FMR Specialist KMP Wilayah I Drs. Hudi Sartono, MPM, FMR Specialist KMP Wilayah II Selamat Riyadi, S.Sos., TA PPM Deni Senjaya dan PD OC 3 Harry Budhy Hartono.

“Kami mengusulkan perubahan sistem penggajian fasilitator. Bagaimana mengubahnya, terserah bapak-bapak. Yang jelas, harus ada kebijakan terobosan yang jitu dan pasti,” ujar Askot CD Jakarta Utara Abdul Bahder Maloko di hadapan pihak Satker Pusat dan KMP Wilayah I.

Menurutnya, Pelaku Lapangan PNPM Mandiri Perkotaan bukannya tidak memahami kesulitan birokrasi yang dihadapi pihak Pusat terkait gaji Fasilitator ini. “Saya melihat dan mendengar penjelasan tadi, memang mumet juga, Pak. Soal memahami sih, kita paham. Dan, kita sering dapat informasi seperti yang bapak-bapak sampaikan tadi, bahkan secara tertulis. Jadi kita mengikuti perkembangan. Kami juga berterima kasih kepada Satker Pusat yang sudah mati-matian dan berdarah-darah, tapi teman-teman di lapangan jauh lebih berdarah-darah, Pak,” tegas dia.

Lebih jauh, Pelaku Lapangan PNPM Mandiri Perkotaan mempertanyakan alasan pihak Satker Pusat yang terkesan melakukan pembiaran. “Kalau duit (untuk gaji)nya habis, kenapa kita terus ditagih progres? Ya tolong kita dikasih tahu juga. Logika sederhana, kalau tidak ada duit, hentikan pekerjaan. Seolah-olah kita ini dizalimi, selama tiga bulan kita hanya berharap dan bermimpi. Kita memang menangani kemiskinan, tapi mbok ya kita jangan ditelantarkan, jadi miskin,” tandas Bahder, diamini oleh seluruh personel Fasilitator lainnya.

Menurutnya, jika ada pelaku lapangan yang tetap berkoordinasi di lapangan adalah karena inisiatif dari Fasilitator, bukan karena pihak-pihak atau alasan lain. Selain itu juga, karena tanggung jawab moral terhadap masyarakat dampingan.

Ia juga menjelaskan sulitnya berkomunikasi dengan Satker Provinsi, apalagi Pusat. “Ada komunikasi yang putus antara kita, terutama terhadap bapak-bapak pemangku kepentingan. Sudah sejak 28 Oktober kami melayangkan surat, melalui web dan lainnya, bahkan pengaduan online. Namun, tidak ada satupun institusi yang menanggapi. Hanya individu yang menanggapi, bukan institusi,” kata dia.

Pada intinya, Pelaku Lapangan PNPM Mandiri Perkotaan meminta perhatian dari pihak Pusat. Dan, kedatangan “pasukan” ini ke Kantor Proyek bukan didasari alasan arogansi, melainkan sebagai silaturahmi, seperti anak yang datang kepada orangtuanya.

“Kami ke sini karena ini adalah rumah kami juga. Bagi kami, ini adalah sidrat al muntaha—langit ke tujuh, di mana para pemangku kebijakan dan konseptor berada. Kami ini juga butuh perhatian,” tegas pelaku lapangan lainnya.

Pelaku mengajak Pusat membayangkan keadaan Fasilitator di lapangan, dimana 10 atau 11 kelurahan didampingi hanya oleh empat orang. “Seringkali masyarakat menelepon kawan-kawan faskel, meminta mereka datang dan mendampingi pelaksanaan pemanfaatan, bahkan di malam hari sekalipun. Sampai-sampai, ada istilah di kawan-kawan Faskel ini, PSK—Pekerja Sosial Keliling. Padahal keadaan kami tidak ada uang, tapi masa iya kami menolak kalau warga yang meminta,” jelas dia.

Tidak Belajar dari Kegagalan Kemarin?

Mengingat keterlambatan gaji ini bukan kali pertama dialami oleh Fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan, bahkan ketiga kalinya di tahun ini saja. Yakni, gaji Januari hingga Maret dibayar April, gaji April hingga Juni dibayar Juli, dan akhirnya gaji Juli hingga November, belum juga dibayarkan hingga berita ini diturunkan.

“Yang paling mengerikan adalah, (tampaknya) kita tidak pernah belajar dari kegagalan kemarin. Kita kemarin rapat di Korkot, berharap mudah-mudahan siklus sakit tahun ini tidak terulang lagi. Tapi kenyataannya.. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya selalu lebih baik dari hari kemarin,” tegas salah seorang pelaku lapangan di depan forum.

Pelaku lapangan mengakui bukannya tidak bisa mencari pekerjaan lain, tapi semua sudah “terlanjur cinta” dengan substansi PNPM Mandiri Perkotaan yang memang luar biasa. “Tapi fakta di lapangannya berbeda, karena tidak diimbangi dengan persoalan gaji yang tepat waktu,” ujar dia lagi.

Jadi, pada dasarnya, Pelaku Lapangan PNPM Mandiri Perkotaan mengharapkan perhatian dari para pemegang kebijakan, setidaknya dari segi nilai nominal gaji Fasilitator agar dikaji ulang, kemudian ketepatan waktu, serta hubungan antara Satker Pusat dengan Wilayah diperbaiki, agar semua pihak ini menjadi “satu keluarga”. Jika sudah jadi satu keluarga, maka posisi tawarpun menjadi sama (equal).

Lebih lanjut, Pelaku Lapangan PNPM Mandiri Perkotaan berharap kepastian cairnya gaji mereka semakin jelas. “Karena kita mendengar ‘seminggu lagi’ itu sudah sebulan lalu, Pak. Jadi jangan sampai, kata-kata ‘seminggu lagi’ ini menjadi kata-kata biasa. Hati-hati, Pak, janji itu harus ditepati,” tandasnya.

Pelaku lapangan meyakinkan bahwa dalam hal ini mereka tidak ingin menyalahkan KMP atau Proyek, atau siapapun. Mereka hanya menginginkan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke depannya. Jikapun ada bottleneck dalam hal ini hanya para pemangku kebijakan yang paling mengerti bagaimana mengatasinya. “Ini kan program Pak SBY. Kalau teman-teman nanti menjadi liar juga kan repot, Pak. Masa, PNPM sebagai program pemerintah tidak sesuai dengan yang dikampanyekan dan lain sebagainya,” tegas pelaku. Untuk itu perlunya perhatian yang intens dari Pusat.

Cerita dari sisi Fasilitator Tangerang disampaikan oleh Senior Fasilitator Kota Tangerang Ahmad Humaidi. Ia mengatakan, saat ini pelaku lapangan Kota Tangerang tengah mengawal BLM APBD. “Tidak jauh berbeda dengan Jakarta, kami mengawal dengan terseok-seok, karena selain BLM APBD, kami juga menghadapi BLM APBN yang harus dicairkan. Tentunya, ketika kita berbicara kewajiban tentunya harus berbanding lurus dengan hak yang kami terima. Ketika kami rakor, seringkali kita berbicara uang bermiliar-miliar yang menjadi hak masyarakat, BLM, APBN, APBD, tapi bicara uang kita serupiah pun kami tidak ada kepastian,” tutur dia.

Ia juga mengungkapkan mengenai  cerita survival salah seorang fasilitator yang terpaksa menjadi satpam di malam hari demi memberi nafkah kepada anak istrinya. “Bicara rumah tangga, konsumsi kita harian. Ketika sudah tidak ada, kita harus mencari subsidi dari lain pihak. Tentu pihak lain tidak sembarangan memberi subsidi kepada kita. Kesulitan kita adalah memastikan kepada pemberi pinjaman mengenai kapan kepastian kita membayar pinjaman tersebut,” katanya.

Lalu apa jawaban pihak Pusat? Silakan baca berita berikutnya "PPK Wilayah I: Satu Kaki di Surga, Separuh Badan di Neraka". (Web)

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 4751)
KOMENTAR ANDA:
Saya sudah tahu Jawaban Pihak Pusat... Berdoa aja kalian semua.... gaji tersebut lagi diproses, semoga rekan-rekan masih tetap bersabar..... Terima kasih.
jawabannya adalah seminggu lagi...
.(seminggu kemudian : maap mungkin minggu depan
minggu depannya : 7 hari lagi
7 hari kemudian : hm...bintangnya masi ada coba beberapa hari lagi
beberapa hari kemudian : hm....suratnya baru diproses pasti minggu depan
minggu depan yang pasti : wah suratnya balik lagi harus direvisi, seminggu lah biasanya
seminggu yang biasanya : suratnya belum sampe, kami buatkan lagi paling one week lah
one week later : wah EYD nya ada yang salah musti di tik ulang senin depan lah
senin depannya : hm....suratnya ketumpahan kopi, kami konfirmasi dulu siaplah minggu depan
minggu depannya komet menghantam bumi 2012.......
Dongeng tiada akhir...............tanpa kepastian......
Kalau Satker Pusat dan KMP, main-main dengan masalah ini kam tidak segan-segan memobilisasi Massa lebih banyak lagi...
Besok hari Jumat tanggal 11 NOVEMBER 2011, hari terakhir efektif BANK di INDONESIA, maka kita lihat sejauh mana tindak lanjutnya dari pertemuan ini, DAPAT CAIRKAH GAJI JUMAT BESOK...???????????? ATAU......??????????????? JANJI TINGGAL JANJI..........TANPA KEPASTIAN.......!!
Bubarkan aja programnya, biar semuanya miskin....
sepertinya usah sudah habis,belum lagi perkataan SATKER PBL SU,KALIAN TIDAK SABAR" YA MUNDUR SAJA"
apakah ini merupakan cerminan para petinggi yang ada di pusat yang mengusung nilai2 luhur.
kenapa semua tidak bijaksana, jangan lah jadi pijak sana sini,
TERIMKASIH KASIH BUAT TEMAN2 JAKARTA DAN SEKITARNYA YANG TELAH MELAKUKAN AUDENSI DG KMP SATKER. KAMI DI DAERAH MENSUPORT100%
BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENDERITA ,ORANG YANG TERHINA DAN ORANG YANG KELAPARAN KARENA DIA AKAN DI BAHAGIAKAN DAN DIMULIAKAN OLEH TUHAN
Hufffttt... Always janji dan janji.. Kami butuh makan bapak2 yang diatas... Kel kami perlu makan, anak kami perlu susu.. Progress trus diminta, tp hak kami kpn diberikan... Sampai kpn kami hrs menati dan menanti. Penantian tiada akhir.. geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...geerrrh!...
Ysh. Jeng Nina k Wijaya / Ninageulis/ admin/editor web

Salam hangat jeng.....
Teriring doa supaya jeng nina dan kawan kawan tetap sehat dan istiqomah dalam membantu kami faskel pelaksana tingkat lapangan dalam penyelesaian hak - hak dasar kami...
Seperti yang sudah jeng nina sampaikan pada saya, bahwa jeng nina akan mempublikasikan hasil dari Pertemuan tgl 10 Nov 2011 antara rekan rekan kami dari DKI dan Banten sekitarnya dengan PPK dan TL KMP....
Memang sebagian sudah jeng nina PUBLISh, tapi mana kelanjutan ceritanya???
Apa masih di ramu dan disusun dulu kalimatnya sehingga setelah di publish tidak menimbulkan “sesuatu” kitu?
Jangan bikin penasaran jeng, “PERUT” kami sudah tak sanggup lagi untuk berbasa basi.........
Tetapi walupun demikian saya haturkan terimakasih loh jeng......atas usahanya semoga Allah membalas budi baik jeng NINa....
udah kondisi gini ceritanya masih dibuat bersambung...? terlaluh......
Rekan Firli, terima kasih. Sudah saya tunaikan tugas saya mengurai kejadian paling penting di tahun ini (menurut saya!) menjadi tiga berita. Mudah-mudahan detail informasi yang saya sampaikan itu tidak ada yang terlupakan dari kejadian sebenarnya. Kalau ternyata masih ada yang terselip, mohon dimaafkan..

@ Kang Asep: Saya bikin bersambung bukan untuk mempermainkan perasaan, Kang. Saya menilai kejadian ini terlalu penting kalau hanya dijadikan satu berita saja. Bisa sih saya paksakan jadi satu berita, tapi akan panjaaaaang sekali, dan saya justru takut ada detail penting yang tidak tersampaikan. Makanya saya bagi menjadi tiga tulisan terpisah. Yakinlah bahwa saya melakukan tugas saya sesuai tupoksi dan keahlian saya, begitu juga dengan keputusan profesional saya terkait penulisan berita ini. Terima kasih atas perhatiannya.
ok deh ....mungkin disambung klo dah ada kepastian kali ya....karena sekarang belum ada kepastian....ygapapa takut itu wajar, tupoksi? iya deh ...mantaplah
aku saja yg jadi satker, kujamin semuanya masuk surga....kwk....kwk....
sebelumnya... 1 2 dari 2 selanjutnya...
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Berita | Arsip Berita | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 7793, akses halaman: 12901,
pengunjung online: 179, waktu akses: 0,047 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank