Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaCeritaSewa Sawah untuk Petani Miskin Hidupkan Sektor Pertanian
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Pekalongan, 24 Januari 2012
Sewa Sawah untuk Petani Miskin Hidupkan Sektor Pertanian

Oleh:
Sugie Rusyono, SIP
Faskel Sosial Tim 6
Korkab Pekalongan
OC 5 Prov. Jawa Tengah
PNPM Mandiri Perkotaan             .

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan telah lama masuk di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Pekalongan. Program yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan dan memberdayakan masyarakat agar bisa menumbuhkan rasa kepedulian sosial, kebersamaan dan kegotong-royongan ini, secara tidak langsung bisa membawa perubahan yang ada di masyarakat tersebut.

Tak terkecuali yang dirasakan oleh masyarakat Desa Sumurjomblangbogo, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan. Warga masyarakat mengenal PNPM Mandiri Perkotaan sejak tahun 2008. Program pemberdayaan kemiskinan dengan ciri perencaan partisipatif itu, memang telah dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.  

Setelah berjalan sekitar tiga tahun, dampak langsung yang diterima masyarakat adalah melalui kegiatan sosial yang dilaksankan oleh Badan Keswadaayan Masyarakat (BKM) Ikhlas, melalui bentuk sewa sawah tanah bengkok desa.

PENYULUHAN : Petani penggarap juga rutin menerima penyuluhan soal pertanian, supaya hasilnya bisa meningkat dan maksimal, kegiatan ini rutin dilakukan dengan menggunakan dana sosial yang ada dari keuntungan sewa bengok tahun sebelumnya

Alasan sewa sawah tanah bengkok dipilih sebagai salah satu kegiatan sosial adalah karena Desa Sumurjomblangbogo memiliki lahan sawah bengkok yang sangat luas. Banyak masyarakat yang tidak bisa menyewa tanah tersebut, khususnya warga miskin yang bersandar dari mata pencaharian pertanian.

Untuk itulah BKM kemudian membentuk unit usaha sosial (UUS), yang  mengelola kegiatan tersebut, yang dimulai pada tahun 2009 dengan memanfaatkan dana bantuan langsung masyarakat (BLM) sebesar Rp19,5 juta, ditambah swadaya dari masyarakat Rp4,8 juta.

Dana sejumlah Rp24,4 juta itu kemudian  dibayarkan kepada pemerintah desa (pemdes) untuk menyewa lahan sawah bengkok seluar 4,5 hektare, yang terbagi menjadi 24 iring, kemudian digarap oleh keluarga miskin yang masuk dalam data keluarga miskin (PS-2) yang disusun BKM.

”Yang menggarap sawah semuanya adalah keluarga miskin. Mereka tidak perlu membayar sewa, karena sudah dibayar oleh BKM dengan dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan,” ujar Koordinator BKM Ikhlas Rusman Trahito.

Menurutnya, agar program sewa sawah bengkok ini berkelanjutan, maka penggarap sawah saat panen harus membagi hasil setengahnya kepada BKM, dan setengahnya untuk mereka sendiri. Dengan demikian dana BLM yang digunakan bisa kembali dan digunakan untuk sewa lagi tahun berikutnya.

Begitu juga dengan penggarapnya, dilakukan sistem bergilir, sebab banyak warga miskin yang ingin menggarapnya. Warga yang sudah menggarap tahun berikutnya tidak bisa lagi, sebab harus diganti dengan warga lain. 

Agar lebih tertib, dari BKM juga membuat perjanjian dengan penggarap sawah tersebut, termasuk mengundi lokasi sawah yang akan di garapnya, sehingga tidak ada kecemburuan soal lokasi yang diterimanya.

”Sistemnya adalah bagi hasil 50:50. Penggarap yang mayoritas warga miskin bisa untung, sebab tidak menyewa tanah, sehingga bisa meningkatkan penghasilan mereka,” jelas laki-laki yang berprofesi sebagai guru di SMPN 2 Doro ini.

Untuk BLM TA 2010, sewa tanah bengkok bertambah luas areanya menjadi 14,33 hektare atau 78 iring, dengan sewa yang harus dibayarkan kepada pemdes sebesar Rp77,3 juta.  Untuk membayarnya, BKM mengalokasi dana BLM TA 2010 sebesar Rp53 juta yang berasal dari APBN dan APBD. Sisanya Rp24,3 juta, merupakan uang hasil pengelolaan sawah tahun 2009. Dengan luas lahan sekitar 14,33 hektare atau 78 iring, berarti ada sekitar 78 warga miskin yang menggarap sawah, dengan sistem yang sama seperti tahun sebelumnya

Perdes untuk Sewa tanah

SUNATAN MASSAL: Tenaga Medis sedang menyunat salah satu anak yang ikut dalam suantan massal, dari hasil keuntungan kegiatan sosial berkelanjutan sewa tanah bengkok sawah

Agar kerja sama antara BKM dan pemdes berjalan dengan lancar dan tidak ada permassalahan di kemudian hari, pemdes membuat Peraturan Desa (Perdes) tentang hal itu.

Menurut Rusman, adanya perdes menjadi komitmen bersama serta bentuk sinergi yang baik antara BKM dan pemdes dalam rangka penanggulangan kemiskinan, karena yang menggarap sawah adalah warga Desa Sumurjomblangbogo yang memang benar-benar membutuhkan.

”Perdes menjadi bukti dan landasan yang kuat terkait dengan bentuk kerjasama dalam pengelolaan sawah bengkok desa,” tandasnya.

Kepala Desa Sumurjomblangbogo Ahmad Fadholi, S.Ag mengatakan adanya program PNPM Mandiri Perkotaan di desanya, sangat membantu dalam pelaksanaan pembangunan desa, baik secara fisik maupun non fisik. Oleh sebab itu pemdes memberikan dukungan penuh dan selalu membangun komunikasi dan kerjasama yang baik. Salah satunya dengan membuat perdes tentang pengelolaan sewa bengkok sawah milik desa.

Hal itu dilakukan kata Ahmad Fadholi, melihat program sewa bengkok yang digagas oleh BKM sangat baik dan menyentuh masyarakat miskin dan tidak mampu, karena mereka akan menjadi penggarap sawah secara langsung.

”Perdes ini sebagai bentuk dukungan langsung kepada BKM, serta sinergi dalam mengentaskan kemiskinan yang ada di masyarakat desa, dan masyarakat bisa terbantu meskipun tidak banyak,” jelasnya.

Kegiatan Sosial Hasil Persewaan Sawah

Selain dana dari BLM yang masih utuh, keuntungan yang diperoleh dari persewaan tanah sawah bengkok tersebut kemudian dialokasikan untuk melaksanakan kegiatan sosial santunan langsung, serta penguatan pengetahuan dan kelengkapan sarana dan prasarana bagi petani penggarap atau kebutuhan selama masa panen.

Kegiatan santunan langsung yang sudah dilaksanakan adalah sunatan massal, melakukan donor danar, serta pengobatan gratis yang bekerjasama dengan salah satu perusahan obat. Pemberian santunan kepada anak yatim piatu dan lanjut usia (lansia) serta pemberian bingkisan saat hari-raya kepada warga miskin, khususnya yang menggarap sawah.

Tidak hanya bentuk santunan, penyuluhan-penyuluhan dan pembangunan sarana pertanian bagi petani juga dilakukan dari hasil keuntungan tersebut, seperti membangun jembatan kecil penghubung antarsawah, pembayaran untuk pemberantasan hama.  

”Keuntungan hasil pengelolaan sawah, kembali lagi untuk masyarakat, di antaranya untuk sunatan massal, pembangunan beberapa jembatan di area sawah, serta untuk meningkatkan produksi pertanian dengan berbabagi penyuluhan dan kegiatan,” kata penanggungjawab persewaan tanah sawah  Purwo Aji.

Bahkan belum lama ini, kelompok tani penggarap sawah bengkok yang telah membentuk kelompok tani, menjalin kemitraan dengan salah satu BUMN melalui program GBTK—gerakan peningkatan pertanian berbasis koorporasi, dengan pemberian kredit sarana pertanian seperti pupuk dan obat-obatan.

Mengenai keberlanjutan, menurut Purwo, program sewa tanah sawah bengkok ini akan tetap dilanjutkan, dengan memanfaatkan dana yang sudah ada, tanpa menggunakan dana BLM TA 2011. Sehingga, petani miskin yang tidak bisa menyewa lahan, tetap bisa menggarap sawah meskipun hanya satu iring.

”Keberlanjutan sewa sawah ini akan tetap dilaksanakan, meski setiap tahun harga sewa yang ditetapkan oleh pihak desa dinaikkan,” tandasnya. (OC 5 Jateng)

Di bawah ini adalah tabel kegiatan sewa tanah sawah bengkok: 

Tabel Kegiatan Sosial Persewaan Tanah Sawah Bengkok 

No

Kegiatan

Vol

Anggaran Biaya

Hasil Panen

Keterangan

BLM

Swadaya

Jumlah

Hasil Panen

%

Jumlah

1

Sewa Bengkok kosong (2009)

4,5 Ha

19.500.000

4.800.000

24.300.000

40.673.000

 

 

 

 

60

24.300.000

Alokasi byr sewa th 2010 (swadaya)

25

5.874.000

Dana Sosial

10

2.543.400

Dana BOP UUS

5

1.174.800

Dana BOP BKM

2.

Sewa Bengkok Kosong (2010)*

14,3 Ha

53.000.000

24.300.000

77.300.000

0

0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*) Hasil keuntungan musim tanam 2010  belum masuk semua, uang yang sudah masuk sekitar Rp112 juta.

 Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 2069)
KOMENTAR ANDA:
mantab....bravo!!!!!!!!
mohon dilampirkan SPK sewa sawahnya...
manis kan?...manis kan?...manis kan?...manis kan?...manis kan?...manis kan?...
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 6293, akses halaman: 10068,
pengunjung online: 270, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank