Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelPentingnya FGD Refleksi Kemiskinan yang Tepat
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Wajo, 23 Mei 2012
Pentingnya FGD Refleksi Kemiskinan yang Tepat

Oleh:
Nurhaji Madjid 
Faskel CD
Kabupaten Wajo  
KMW Sulawesi Selatan
PNPM Mandiri Perkotaan      

Program ini bagi saya cukup menarik dilihat dari konsep yang dibangunnya, walaupun kita ketahui bersama dari tataran konsep cukup ideal membangun sebuah tatanan masyarakat mandiri atau madani sekalian. Namun, ada banyak hal yang mesti kita cermati dan menjadi renungan kita bersama dari proses yang kita jalani. Kadang kala kita tidak realistis dari segi waktu dengan rangkaian siklus yang panjang dan kebijakan mengenai pedoman yang ada.

Salah satu contoh adalah FGD Refleksi Kemiskinan, yang kita ketahui bahwa pada proses ini diharapkan kita menemukan akar masalah dari kemiskinan. Metode FGD sebagai salah satu penelitian kualitatif berfungsi menemukan akar masalah atau sumber terhadap masalah dengan berbagai rangkaian diskusi yang sifatnya terarah dan tidak bias.

Namun, siklus  menjadikan FGD Refleksi Kemiskinan tidak punya “roh” dikarenakan kita memaksakan pemandu RK dari kalangan masyarakat dengan melakukan coaching hanya selama beberapa minggu atau beberapa saat saja, sedangkan seorang pemandu FGD haruslah lihai mengarahkan diskusi agar jawaban-jawaban masyarakat merupakan jawaban yang lahir dari kenyataan yang mereka alami. Tanpa pemandu yang lihai membangun pertanyaan-pertanyaan dan gambaran-gambaran, maka data akar masalah tidak akan kita temukan.

Bukankah kita ketahui secara umum bahwa kalangan kaum miskin mengalami kendala dari aspek komunikasi, sehingga dibutuhkan seorang pemandu yang dapat melakukan penajaman dan mengarahkan diskusi lebih detail dan mampu menggiring mereka masuk ke dalam alam bawah sadar mereka tentang apa yang mereka alami sesungguhnya. Jadi, coaching pemandu RK sebenarnya tidak perlu ada. Biarlah fasilitator yang melakukan hal itu, utamanya Askot CD yang cukup matang melakukan pemetaan di forum dan menggali gagasan-gagasan di masyarakat. Kalau proses pembelajaran kita mau lahirkan cukup 1 atau 2 orang yang kita cari dan bombing untuk ke depannya. Untuk dapat menjadi pemandu FGD tidak dengan pelatihan sehari atau seminggu cukup dapat menjadi pemandu yang dapat menemukan akar masalah.

Kelemahan yang lain adalah kita menjadi kaku dengan indikator yang telah ada, dan terjebak dengan rel diskusi yang tidak merdeka, sehingga kita bertanya langsung pada data yang diinginkan tanpa ada dialog yang sifatnya lepas. Sehingga, kita mengarahkan diskusi selalu pada kesimpulan yaitu “hilangnya nilai-nilai luhur” yang dimilki masyarakat. Padahal kalimat tersebut adalah kalimat yang tidak perlu diucapkan tetapi akan muncul dengan kesadaran bahwa kita perlu membangun nilai-nilai luhur itu.

Namun, yang menjadi pertanyaan, yang tidak bisa kita jawab dan masyarakat sendiri bingung menjawabnya adalah, bagaimana nilai-nilai luhur itu bisa kembali? Lalu, apakah jika nilai-nilai luhur itu kembali kemiskinan kita akan hilang atau membangun nilai-nilai luhur itu hanya orang miskin saja yang harus melakukannya?

Tidak kuatnya hasil FGD Refleksi Kemiskinan berdampak kepada program masyarakat dalam menentukan prioritas untuk BLM dan bergantungnya BKM/LKM terhadap dana BLM. Kita bisa amati secara saksama bahwa yang selalu muncul adalah pembangunan fisik lebih dominan, padahal program kita adalah program penanggulangan kemiskinan perkotaan. Jika kita membangun fisik berupa jalan, yang diuntungkan bukan masyarakat miskin, akan tetapi kalangan menengah ke atas karena berpengaruh terhadap akses tanah dan usaha mereka.

Sedangkan pembangunan fisik yang mengarah ke sanitasi lingkungan dan kesehatan mungkin lebih berdampak, dikarenakan tingginya biaya kesehatan serta perlunya kesehatan bagi masyarakat miskin untuk mendukung aktifitas mereka. Pembangunan fisik itu berupa renovasi rumah yang tidak layak huni, jamban, dan pengadaan air bersih.

Di bidang ekonomi, dana bergulir hanya berfungsi sebagai obat penghilang rasa sakit tanpa menyembuhkan. Ini dikarenakan tidak ada bangunan usaha bersama, yang kemudian meningkatkan pendapatan mereka. Apologi kita selalu proses belajar. Pertanyaannya, adakah proses belajar di bidang usaha bagi mereka, sedangkan yang selalu ditekankan hanya berkelompok dan menabung. Padahal konsep usaha menabung diharuskan, tapi uang harus diputar, dan setiap usaha butuh inovasi dan informasi.

KSM dana bergulir kita dari kalangan miskin yang juga miskin inovasi dan informasi dikarenakan inovasi lahir dari pengetahun dan informasi, sedangkan informasi lahir dari relasi yang didapatkan dari pendidikan dan waktu lebih untuk berkomunikasi. Kenyataannya waktu mereka habis untuk mencari uang dan mengurus keluarga. Akhirnya dana bergulir tidak menjadi layak jika kelompok miskin ini tidak diperkuat di pengetahuan, gagasan dan inovasi. Inilah pentingnya FGD Refleksi kemiskinan yang kita ketahui secara mendalam akar masalah mereka sesungguhnya berada di mana.

Mereka malas—pertanyaannya, kenapa mereka malas? Apakah kemalasan mereka dikarenakan sudah berkali-kali mereka usaha tapi gagal, sehingga menjadi putus asa? Ataukah kemalasan mereka dikarenakan sistem ekonomi yang tidak berpihak, yang hanya mementingkan kelompok menengah ke atas?

Tiadanya swadaya atau kegotongroyongan—kenapa itu hilang? Apa dikarenakan beban hidup yang besar, serta tidak adanya waktu, atau mereka tidak berswadaya dari aspek tenaga dikarenakan capek atau lelah seharian bekerja, ataukah pendekatan kita yang kurang efektif, atau mungkin pola pikir mereka dengan program sebelumnya yang sifatnya instan?

Mereka tidak mampu berkembang untuk meningkatkan pendapatan mereka—apa dikarenakan mereka tidak berani membangun usaha karena takut rugi, atau mereka bingung mau berbuat apa karena keterampilan tidak cukup?

Jika dalam proses FGD Refleksi Kemiskinan kita hanya terpola pada indikator-indikator, maka yang terjadi kemudian adalah kita tidak ada bedanya dengan data lembaga pemerintahan tentang kemiskinan. Ini dikarenakan masyarakat kadang tidak tahu ataupun paham tentang apa yang terjadi pada mereka dan mengapa mereka menjadi demikian, sehingga mereka tidak mampu menjawab masalah mereka sendiri tanpa ada dialog yang lebih terfokus dan tidak kaku.

Jadi, seorang pemandu FGD harusnya memiliki keahlian yang matang dalam memahami dan menangkap maksud serta keinginan peserta FGD. Dan, saya kira Pemandu FGD Refleksi Kemiskinan yang paling cocok adalah para Askot, terutama Askot CD yang sudah lama bergelut di dunia pendampingan, bukan lagi faskel yang baru. Ini karena bukan hanya indikator yang dibutuhkan dalam FGD, melainkan menemukan akar masalah dan merumuskannnya menjadi sebuah kebijakan team faskel untuk ditindaklanjuti. Sehingga, tergambar per kelurahan, bahwa Kelurahan A porsinya terhadap kegiatan ekonomi harus lebih besar daripada lingkungan atau sosial. Begitu pula Kelurahan B, porsinya kegiatan lingkungan harus lebih besar dari sosial dan ekonomi, tapi kegiatan sosialnya harus mem-backup kegiatan ekonomi.

Jadi, jika kita melakukan Pemetaan Swadaya, kita mampu mengarahkan masyarakat terhadap permasalahan kemiskinan dari aspek sosial, lingkungan, ekonomi, dan kepemimpinan, sehingga Tim PS dapat memiliki dasar dalam mengarahkan diskusi. Tapi ini bukan mengarahkan dalam artian “memaksakan pemikiran”, melainkan data RK menjadi dasar kebutuhan, bukan sekadar keinginan dan gambaran potensi SDA dan SDM masyarakat yang tergambar di FGD Refleksi Kemiskinan. Apalagi karena PS lebih dominan tindakan, tapi jika tindakan tidak didukung oleh frame berpikir dan data dasar, maka kita akan salah arah.

Nah, ternyata betapa pentingnya FGD Refleksi Kemiskinan sebagai modal dasar kita sebagai konsultan dalam melakukan pemetaan kemiskinan! (Sulsel)

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 1250)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 3439, akses halaman: 4470,
pengunjung online: 215, waktu akses: 0,012 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank