Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelMenanggulangi Kemiskinan oleh Orang Miskin itu Sendiri
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Banjarmasin, 5 Juni 2012
Menanggulangi Kemiskinan oleh Orang Miskin itu Sendiri

Oleh: 
Iwan Setiawan 
TA Kebijakan Publik  
KMW/OSP 6 Kalimantan Selatan   
PNPM Mandiri Perkotaan

Kemiskinan masih menjadi masalah besar di negeri ini, entah sampai kapan akan berakhir. Berlimpahnya kekayaan alam dan lamanya umur Negara ternyata tidak menjadi jaminan ataupun berbanding lurus dengan terselesaikannya persoalan kemiskinan. Angka kemiskinan di Indonesia sangat rentan, apalagi bila terjadi perubahan-perubahan ekonomi, baik tingkat nasional, regional maupun global.

Jumlah penduduk miskin di Kalimantan Selatan (Kalsel) menurun dalam kurun sepuluh tahun terakhir, walaupun masih terjadi fluktuasi (naik turun) dalam setiap tahunnya. Menurut BPS Provinsi Kalsel, jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 sebesar 7,29% (dari total jumlah penduduk), lalu pada tahun 2006 meningkat menjadi 8,32%, kemudian menurun pada tahun 2008 menjadi 6,48%, dan terus menurun sampai sebesar 5,29% pada tahun 2011.

Walaupun menurut data di atas menunjukan terjadinya penurunan, tetap saja masih terdapat orang miskin di negeri ini. Padahal, upaya penanggulangan kemiskinan sudah cukup banyak dilakukan, baik oleh pemerintah melalui berbagai program sektoral kementerian maupun program skala nasional, seperti PNPM Mandiri yang dikemas dalam bungkus pemberdayaan masyarakat, maupun oleh pihak swasta (CSR, dan lain-lain), LSM/NGO, serta pihak peduli lainnya.  

Orang miskin sendiri telah banyak berbuat sesuatu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bekerja keras sesuai kemampuan, tapi tetap saja mereka sulit keluar dari masalah kemiskinan yang menghimpit kehidupannya.

Pertanyaanya, apa lagi yang harus dilakukan agar masalah kemiskinan cepat tertanggulangi?

Ada 3 hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, pemberdayaan masyarakat miskin itu sendiri. Kedua kepedulian pemerintah dan masyarakat non miskin. Ketiga, dukungan lingkungan/sumberdaya alam (SDA). Namun, yang paling mendasar adalah dari sisi kemanusiaannya.

Perlu dibangun suatu pandangan dasar bahwa yang paling berperan dalam menanggulangi kemiskinan adalah orang miskin itu sendiri. Karena sejatinya, yang paling tahu dengan persoalan kemiskinan dan bagaimana cara menanggulanginya adalah orang miskin itu sendiri, yang kesehariannya bergelut dengan dinamika kemiskinan.

Menanggulangi kemiskinan oleh orang miskin itu sendiri harus menjadi paradigma baru sebagai landasan berpikir bersama dengan mendudukkan orang miskin sebagai subjek utama pelaku penanggulangan kemiskinan. Warga miskin harus memiliki semangat bahwa hanya sayalah yang mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan, bukan orang lain. Asumsi (mindset) tergantung pada orang lain serta menganggap terjadinya kemiskinan adalah akibat perbuatan orang lain harus segera disingkirkan, karena akan memperpanjang budaya kemiskinan dan menistakan harkat martabat sebagai manusia berdaya.

Di sisi lain, pandangan-pandangan berlabel marjinalisasi, seperti orang miskin itu bodoh, pemalas, suka minta-minta, dan lain-lain, akan makin menenggelamkan posisi warga miskin ke dalam jurang ketidakberdayaan dan menyulitkan tumbuhnya semangat kebangkitan bagi warga miskin untuk mampu sendiri menanggulangi kemiskinan.

Pendekatan penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat miskin (non charity) perlu terus dilakukan sampai pada terwujudnya kemandirian masyarakat miskin dalam menyelesaikan persoalan kehidupannya. Pendekatan pemberdayaan masyarakat miskin tidak hanya bertumpu pada peningkatan kapasitas dan akses terhadap sumberdaya, namun harus disertai dengan perbaikan sikap, mental, dan perilaku (transformasi sosial) masyarakat miskin  itu sendiri dari ketergantungan menuju ke arah kemandirian.

Salah satu cara untuk mendorong terjadinya perubahan kultur masyarakat, dari yang memiskinkan menjadi tidak memiskinkan, adalah dengan pendekatan pembelajaran penyadaran kritis untuk menangkal makin terjerumusnya masyarakat miskin ke dalam dasar kesadaran mistis, seperti miskin dianggap nasib, orang miskin perlu terus-menerus disantuni, kemiskinan sebagai akibat perbuatan orang lain, atau mencari uang semata untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, bukan untuk perbaikan ekonomi jangka panjang (investasi). Pandangan atau paradigma keliru seperti ini perlu digeser ke arah pandangan positif yang lebih bermartabat dengan mendudukkan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu strategi pendekatan untuk mendorong terjadinya perubahan menuju masyarakat berdaya dilakukan dengan cara mengajak masyarakat miskin untuk mengenal dan menggali kembali nilai-nilai kemanusiaan, mengajak masyarakat miskin untuk mengenali masalah dan memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses identifikasi kebutuhan, perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, monitoring dan evaluasi sampai pada tingkat kontrol sosial masyarakat miskin terhadap proses dan hasil kegiatan.

Salah satu starting point dalam membangun kesadaran kritis masyarakat miskin dilakukan Refleksi Kemiskinan guna menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat terhadap akar penyebab masalah kemiskinan. Kesadaran kritis ini menjadi penting, karena selama ini seringkali, dalam berbagai program, menempatkan masyarakat sebagai “objek”. Seringkali masyarakat diajak untuk melakukan berbagai upaya pemecahan masalah tanpa mengetahui dan menyadari masalah yang sebenarnya—masalah dirumuskan oleh “orang luar”—padahal yang paling tahu tentang persoalan kemiskinan dan bagaimana cara penanggulangannya adalah orang miskin itu sendiri.

Kondisi tersebut menyebabkan dalam pemecahan masalah masyarakat hanya sekadar melaksanakan kehendak “orang luar”, atau karena tergiur dengan “iming-iming” bantuan uang, bukan melaksanakan kegiatan karena benar-benar menyadari bahwa kegiatan tersebut memang bermanfaat bagi pemecahan masalah kemiskinan.

Pandangan Robert Chambers dalam bukunya (Putting The Last First, 1983 dan Whose Voice Counts, 1997), mengkritik “orang luar” yang bekerja di masyarakat, tetapi berperilaku tidak sensitif terhadap keadaan dan persoalan masyarakat (terutama yang paling miskin). Menurut Chambers, orang paling miskin dan marginal adalah kelompok masyarakat yang paling tidak “kelihatan” (unseen) oleh orang luar yang bekerja di masyarakat. Hal ini terjadi karena orang-orang luar adalah orang-orang yang memiliki banyak ”bias” dalam memahami masyarakat, akibat latar belakang budayanya sendiri.

Orang luar mempunyai cara pandang dan persepsi tertentu terhadap masyarakat, mempunyai kepentingan, dan hanya mau memberikan sedikit waktu untuk berada di tengah masyarakat. Karena membatasi diri dengan cara pandangnya sendiri, orang luar seringkali gagal mengetahui tentang masyarakat yang paling marjinal. Celakanya, orang luar tidak tahu apa yang tidak diketahuinya.

Hal penting yang akan terjadi dalam proses refleksi kemiskinan adalah adanya analisis kritis terhadap permasalahan kemiskinan yang dihadapi masyarakat untuk membuka tabir yang selama ini sering tidak tergali dan tersembunyi di dalamnya. Analisis kritis terhadap permasalahan kemiskinan degan cara mencari secara kritis hubungan sebab akibat, sampai hal-hal yang paling dalam, sehingga dapat ditemukan akar permasalahan kemiskinan yang sebenarnya.

Upaya untuk merefleksikan ke dalam diri masyarakat miskin harus lebih menyentuh hati masing-masing orang guna merenungkan apa yang telah diperbuat, dilakukan, serta sumbangan apa yang telah diberikan untuk perbaikan hidup masyarakat, dengan menitikberatkan kepada sikap, mental, dan perilaku yang memanusiakan manusia.

Pada akhirnya cara pandang masyarakat miskin berubah menjadi: seharusnya mereka tidak menjadi bagian yang menambah persoalan, tetapi merupakan bagian dari pemecahan masalah dalam menanggulangi kemiskinan. (Kalsel)

Editor: Nina K. Wijaya

(dibaca 3613)
KOMENTAR ANDA:
sepakat pak, tidak ada orang yang mau miskin,tinggal bagaimana usahanya untuk melepaskan diri dari belenggu kemiskinan.
senangnya...manis kan?... setuju.... selain orang miskin itu sendiri mereka harus ditunjang dengan pemerintah dan orang yg mapan... sukses pak..
Tuhan tidak merubah suatu kaum dalam kehidupannya tatkala kaum itu sendiri tidak mau untuk merubah dirinya sendiri,

jika kita ingin berubah mulailah dari kita sendiri "BERUSAHALAH ! kemudian BERTAWAQKAL kepada Sang Kholiq Allah SWT.
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 3903, akses halaman: 4527,
pengunjung online: 183, waktu akses: 0,047 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank