Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelMembangun Team Work dengan Kritik
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Manado, 29 Oktober 2012
Membangun Team Work dengan Kritik

Oleh:
Novrey Wurangian 
TA Urban Planner
KMW/OSP 8 Sulawesi Utara  
PNPM Mandiri Perkotaan

Dikritik? Siapa takut! Sedikit yang perlu diingatkan kembali bahwa persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik jika kita menanamkannya di dalam hati bahwa kritik itu penting.

Spesial, for my Team Bunaken, sahabat-sahabatku, “kakak-kakakku”, panutanku: Hendra, Amanda, Menny dan Rena. Ada sepenggal pertanyaan, apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar perkataan, ‘Saya ingin mengritik Anda!’

Mari melihat sekeliling kita. Sudah menjadi suatu kebiasaan jika seseorang mendapat kritikan maka dia akan bereaksi negatif. Sulit sekali bagi seseorang menerima perlakuan seperti itu walaupun hanyalah sebuah kritikan. Akan terlihat bahasa tubuh, seakan-akan kehormatan dan harga dirinya sedang terancam. Ia menganggap kritik sebagai penghinaan yang akan menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baiknya. Maka, wajar jika reaksi yang muncul—entah itu berupa pikiran, perasaan, maupun sikap tubuh—adalah pembelaan diri. Sulit baginya untuk menerima semua kritikan, apalagi menikmatinya.

Hal sebaliknya, saya mau bertanya, apa respon Anda ketika mendengar perkataan, ‘Saya akan memberi kamu kripik!’ Tentu akan muncul reaksi spontanitas yang sangat berlawanan dengan reaksi dari perkataan saya yang pertama. Wajah mungkin menjadi ceria dan perasaan menjadi riang karena membayangkan akan diberikan kripik yang enak.

Di sinilah perbedaan kata “kritik” dan “kripik”. Tetapi yang terpenting bukan itu. Hal terpenting adalah mengapa kita sampai memunculkan sikap berbeda ketika mendengar dua kata itu? Untuk yang pertama, kita cenderung tidak mau menerimanya, sementara untuk yang kedua, kita malah sering mencarinya.

Kita sepakat bahwa yang dibahas disini adalah kritik, bukanlah kripik. Saya akan memulai “Petualangan Kritik” ini dari dalam Tim Bunaken sendiri, walaupun semua kritik di sini hanyalah sekedar sentilan saja, tetapi harapan saya dapat memiliki pengaruh dalam hal peningkatan kinerja tim dan pencegahan efek-efek yang dapat ditimbulkan akibat tindakan-tindakan yang tanpa sadar merugikan kita. Kemudian selanjutnya petualangan kritik juga akan ditujukan untuk manajemen kota (Koorkot - Askot), Tenaga Ahli dan Team Leader KMW, serta tak ketinggalan kritik untuk BKM dan perangkatnya.

Tim Fasilitator

Pertama, setelah melewati perjalanan 2 bulan sebagai Fasilitator dalam menjalankan pendampingan yang profesional melalui program PNPM Mandiri Perkotaan, dimana ukuran utama keberhasilan adalah peningkatan kapasitas masyarakat secara kolektif melalui pengokohan kelembagaan masyarakat (BKM) guna mempercepat upaya penanggulangan kemiskinan, saya melihat ada sedikit kepincangan hubungan antara fasilitator dan BKM sebagai lembaga perpanjangan tangan masyarakat. Entah penyebabnya mungkin bersumber dari BKM ataupun mungkin dari pihak lain. Tapi satu yang pasti bahwa Fasilitator tidak banyak lagi melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat pencerahan-pencerahan, pendekatan-pendekatan pribadi, membangkitkan semangat BKM, dan terkesan Fasilitator hanya berhubungan dengan 1-2 orang saja. Dalam hal ini paling sering dengan koordinator BKM.

Kritik untuk Fasilitator: bahwa dalam proses pendampingan kita tidak dapat berharap hanya pada satu-dua pintu masuk ke masyarakat. Selebihnya kita juga harus mampu melakukan pendekatan dengan pihak anggota-anggota BKM lain demi terlaksananya tujuan-tujuan pendampingan kita. Terlepas dari berbagai tuntutan kesibukan yang mungkin menyita waktu seorang Fasilitator, sudah seharusnya seorang Fasilitator mampu mengembangkan diri dalam hal pendekatan-pendekatan kepada pihak BKM ataupun masyarakat setempat.

Kedua, dalam melakukan komunikasi dengan pihak BKM, kadang Fasilitator terlalu terbawa dengan keadaan yang menggambarkan ‘emosional’. Hal ini tercermin pada keluarnya nada-nada suara tinggi, yang mungkin diakibatkan kekesalan terhadap kinerja pihak BKM dan perangkatnya. Bahkan, hal semacam ini di lingkungan Tim Fasilitator sendiri masih terlihat gaya-gaya adu argumentasi dengan nada suara yang tinggi juga, padahal hanya untuk menyelaraskan pendapat yang tidak terlalu sulit. Ini mungkin karena kita dipengaruhi oleh kultur gaya berkomunikasi orang Manado, yang menurut saya perlu ada sedikit “kontrol” dalam usaha menggaet hati masyarakat.

Memang terlepas dari siapa yang mengritik dan siapa yang dikritik, satu yang sering dialami adalah kebanyakan orang akan jauh lebih mudah mengutarakan kritikan. Tetapi saat giliran menerima kritikan, sudah pasti reaksi perasaan jadi kesal, sebal dan sebagainya. Karena, biasanya kritikan akan terasa pedas saat didengar. Namun, ada satu nasihat, jangan kita sampai terbawa emosi. Sebaiknya pikirkan kritikan sebagai sisi baik untuk memotivasi diri untuk lebih maju. Selayaknya memang kita harus bisa memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi dan rindu dinasehati, seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Kritik adalah kunci kesuksesan dan kemajuan, kritik akan membuka prestasi, derajat dan kedudukan yang lebih baik.

Sangat penting untuk kita memiliki teman yang mau dengan jujur untuk saling mengoreksi kekurangan diri. Dan, yang cukup penting adalah persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya isinya benar, tapi caranya yang salah. Tidak ada yang rugi dengan koreksi.

Jadi kalau ada yang mengritik, usahakanlah untuk tidak berkomentar. Belajarlah untuk diam dan menjadi pendengar yang baik. Cobalah perhatikan setiap kritikan yang ditujukan untuk kita. Pahami seluruh makna yang terkandung dalam kritik tersebut. Jangan pernah memotong pembicaran saat orang lain mengritik. Dengarkan baik-baik hingga dia selesai dengan semua kritikannya.

Tak kalah pentingnya adalah evaluasi diri. Jujurlah kepada diri sendiri ketika menerima kritik. Jangan sibuk menyalahkan pengritik, atau mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain. Tidak ada salahnya kita teliti dan evaluasi (introspeksi diri) tentang kebenaran dari kritikan tersebut. Apabila ternyata tidak benar, jangan menanggapinya dengan emosi, kebencian ataupun dendam. Namun, jika kritikan itu mengandung kebenaran, jadikan kritik tersebut sebagai alat untuk mengoreksi dan memperbaiki diri.

Meski kita mendapat kritikan yang pedas, sebaiknya tetaplah jaga sikap, kebiasaan dan perilaku baik. Dengan begitu kita akan mampu menjawab kritikan dengan tindakan nyata.

Sebaiknya jangan beranggapan bahwa krtitik yang dilontarkan pada Anda sebagai usaha penyerangan terhadap diri Anda pribadi. Tidak semua kritikan bermaksud menjatuhkan. Biasanya kritik justru bersifat membangun. Kritik dapat mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi dari kelemahan kita. Hal ini tentu diperlukan untuk kemajuan profesionalisme kita. Ambil hikmahnya bahwa orang lain care pada kita. Mari menikmati kritik.

“Kritik adalah kunci kesuksesan dan kemajuan. Kritik akan membuka prestasi, derajat dan kedudukan yang lebih baik.” [Sulut]

Editor: Nina Firstavina

(dibaca 1156)
KOMENTAR ANDA:
Bro.....pengalaman, memang tidak banyak orang bisa menerima kritik kalo kripik banyak.....kalo di Bitung biasanya lebih suka kwaci daripada Kripik senangnya...manis kan?... tapi, I proud of your article...suka dan 2 jempol... setidaknya bahan refesensi dan bahan kritik buatku.senangnya...
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 1216, akses halaman: 1517,
pengunjung online: 65, waktu akses: 0,043 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank