Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelStrategi Memotivasi Fasilitator PNPM
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Labuhanbatu, 8 Januari 2013
Strategi Memotivasi Fasilitator PNPM

Oleh:
Afrizal Tanjung
Senior Faskel Tim 02 Labuhanbatu   
Koorkot 7
KMW/OC 1 Provinsi Sumatera Utara
PNPM Mandiri Perkotaan

Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan.

Dalam hal ini, seseorang yang dimaksud di atas adalah fasilitator dan tujuan yang dicapai adalah visi-misi PNPM Mandiri Perkotaan. Seseorang fasilitator yang mempunyai motivasi berarti ia mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam menjalankan program. Apabila sang fasilitator PNPM sudah tidak mempunyai motivasi, bisa dikatakan PNPM akan di ambang kehancuran atau tutup.

Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intrinsik adalah kala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat fasilitator termotivasi. Fasilitator tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan, bukan karena rangsangan lain, seperti status. Bisa juga dikatakan, seorang fasilitator melakukan pekerjaan karena hobinya.

Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah ketika elemen-elemen di luar pekerjaan yang melekat dalam pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat fasilitator termotivasi, seperti status ataupun kompensasi. Hal ini juga menjadi sangat penting untuk diperhatikan manajemen, karena fasilitator seperti ini mempunyai motivasi yang kuat dalam melakukan pendampingan, tapi ditakutkan motivasi mengendur saat apa yang telah diperbuatnya tidak mendapat perhatian sama sekali.

Teori Motivasi

Fasilitator yang sukses dalam karier adalah fasilitator yang memiliki motivasi kerja. Jika seorang fasilitator memiliki keterampilan begitu memukau dalam program, artinya dia memiliki motivasi tinggi untuk menguasai keterampilan itu. Jika seseorang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat, artinya dia memiliki motivasi kerja yang tinggi. Termasuk mereka yang selalu disiplin bekerja, karena motivasi kerjanya luar biasa.

Persaingan kerja, termasuk persaingan dalam program pemberdayaan, bukan hal yang bisa diremehkan. Setiap tahun, akan muncul ribuan calon fasilitator baru yang siap menggantikan posisi kita. Jangankan rekan kerja, para pelamar barupun bisa mengancam karier jika fasilitator tidak mampu mempertahankan kinerja baik. Maka, jadilah yang terbaik. Pertahankan motivasi kerja kita sebagai seorang fasilitator.

Ada beberapa teori yang akan saya kemukakan dalam tulisan ini. Teori proses fokusnya pada bagaimana dan dengan cara apa perilaku didorong, diarahkan, dipertahankan, atau dihentikan:

Pertama, Teori Penguatan (B. F. Skinner). Jika diimplementasikan langsung dengan dunia pemberdayaan, maka teori penguatan ini sebagai berikut:

  • Perilaku fasilitator merupakan fungsi dari konsekuensi-konsekuensi dalam tugas bidangnya
  • Fasilitator berperilaku tertentu karena belajar dari masa lampau bahwa perilaku tertentu dapat mendatangkan hasil yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Hal ini seperti tidak berjalannya progres dianggap bukan akibat fasilitator (baru), melainkan akibat masalah yang ditinggalkan fasilitator lama. Ini sering kita dengar. Seharusnya, baik fasilitator baru maupun lama berupaya mengubah paradigma yang salah di masyarakat dan meluruskan persepsi, sehingga program berjalan sebagaimana diharapkan
  • Teori penguatan tergantung pada prinsip pengondisian sang senior fasilitator ataupun Koorkot untuk memotivasi anggotanya agar bisa kembali bergairah dalam melaksanakan pekerjaan.

Kedua, Teori Harapan (V.Vroom) atau expectancy:

  • Berkaitan dengan harapan seseorang fasilitator dan bagaimana mempengaruhi perilaku. Hal ini akan sangat penting diperhatikan, semisal oleh manajemen. Di saat sang fasilitator menjalankan tugas dengan baik, manajemen diharapkan memberikan reward bagi sang fasilitator.
  • Tingkat kecenderungan untuk bertindak negatif harus diberikan konsekuensi peringatan tegas, dan kebalikannya bila berbuat hal positif harus diberikan reward
  • Contohnya, orang melakukan kerja keras dengan motivasi mendapat/mencapai nilai tertentu. Dan terdapat konsekuensi bagi yang tidak melakukannya. Untuk hal ini mungkin perlu dicermati, karena tugas sebagai fasilitator yang dilaksanakan di lapangan dapat berpengaruh baik atau buruk dalam skala luas di tengah masyarakat

Ketiga, Teori Keadilan (J.S. Adams).

  • Dasar:
    Fasilitator akan menyukai perlakuan adil baik dari perhatian senior fasilitator maupun dari Koorkot hingga jajaran ke atas. Akan hal ini sangat berpengaruh kepada perform baik di Tim Faskel maupun di jajaran Koorkot akan perhatian atasannya.
  • Nilai:
    Dari rasa keadilan tersebut dapat kita faktorkan upaya yang dilakukan fasilitator (hasil yang dilakukan) <> dibandingkan dengan fasilitator lain <> sebanding hasil yang diterima fasilitator lain. Artinya semua pekerjaan yang dilakukan fasilitator tidak ada pembedaan dan sebanding dengan yang akan diterimanya.

Keempat, Teori Penetapan Tujuan (E.A. Locke).

  • Proses penetapan tujuan tim yang melibatkan atasan dan bawahan untuk bekerja sama guna menetapkan tujuan bawahan dalam periode waktu tertentu
  • Tujuan individu dan kepuasan merupakan penentu utama perilaku
  • Tujuan/target tertentu dari seorang fasilitator yang ingin dicapainya.

Yang disampaikan di atas ini hanya merupakan teori ahli yang dapat diimplementasikan ke dalam tugas rutin, baik di tingkatan Tim Faskel maupun di tingkatan Koorkot.

Apa yang Harus Dilakukan dalam Memotivasi Fasilitator

Ketika teman sebagai fasilitator tidak mempunyai motivasi mungkin hal ini akan menjadi bom waktu dalam tim, yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan tim itu sendiri. Apa yang harus kita lakukan? Berdiam dirikah? Atau membiarkan masalah ini berlarut-larut? Hal ini akan saya coba kupas, berbekal pengalaman di lapangan:

Teknik memotivasi dan upaya meningkatkan motivasi kerja di dalam tim dilakukan dengan cara pendekatan individu kepada fasilitator, yakni memberikan perlakuan khusus pada individu fasilitator yang sudah inkonsisten dalam pekerjaannya; Pendekatan kepada pekerjaan, yaitu merancang pekerjaan khusus meski tingkatannya sangat kecil, tapi dapat memberikan kepuasan batin fasilitator tersebut.

Dari poin yang disampaikan di atas, dapat kita kembangkan menjadi:

  1. Pendekatani individu kepada fasilitator:
    - Pendekatan hubungan antarfasilitator (be good): hubungan antara atasan dengan bawahan
    - Tawar menawar secara implisit: kombinasi ketegasan dan kebijaksanaan, yang merupakan perjanjian tidak tertulis antara atasan dengan bawahan.
  2. Pendekatan kepada pekerjaan:
    - Memperluas pekerjaan. Seorang fasilitator infra akan merasakan kejenuhan bila yang dilakukannya sepanjang hari hanya menghitung R.A.B. Maka, di sana dibutuhkan peran seorang Senior Faskel untuk sesekali menugaskannya untuk mengawal dan memverifikasi kegiatan ekonomi bergulir.
    - Menetapkan tujuan pekerjaan. Motivasi akan naik bila tujuan pekerjaannya tergambar jelas.
    - Memberikan kebijaksanaan tersendiri. Apabila dalam mengambil keputusan harus menunggu Senior Faskel suatu masalah maka sedikit demi sedikit motivasi di dalam tubuh fasilitator akan sirna.

Adapun peran Koorkot dalam memotivasi fasilitator bisa dilakukan sebagai berikut:

  • Koorkot dapat memengaruhi motivasi bawahannya
  • Melakukan penilaian atas kemampuan, kompetensi dan kesempatan memainkan peranan dalam motivasi
  • Koorkot perlu sensitif terhadap variasi kegiatan fasilitator, kemampuan dan tujuannya
  • Secara terus menerus melakukan pemantauan terhadap kemampuan dan tujuan bawahan
  • Koorkot bersikap sebagai model peran (role model) yang bisa berpengaruh dalam memotivasi fasilitator
  • Koorkot menetapkan tujuan atas perilaku langsung, yang penting bagi program. Motivasi seperti reward maupun punishment secara tegas.

Dalam hal memotivasi, baik di tingkatan Koorkot maupun tim, tiada salahnya jika kita mengoreksi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain. Begitu juga dalam memotivasi. Ketika seorang Koorkot hanya bisa memotivasi bawahannya tetapi ia sendiri tidak mempunyai motivasi, bisa dikatakan ini juga suatu kebablasan.

Mengenai ini, akan coba saya cuplikkan dari beberapa buku, maupun dari postingan di internet terkait Seni Memotivasi Diri Sendiri, yaitu:

  • Mengerjakan hal yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan
  • Memanfaatkan hadiah alamiah (bakat)
  • Memperbaiki pola berpikir
  • Memberi makna/arti pada sikap kegiatan yang kita lakukan
  • Merumuskan tujuan secara jelas hal-hal yang akan kita lakukan
  • Berupaya menyelaraskan tujuan pribadi dengan tujuan tim
  • Mau melihat setiap persoalan, tidak saja dari sisi kepentingan sendiri tapi juga menggunakan kacamata orang lain
  • Membuat hidup kita lebih berarti dengan upaya terus mengaktualisasikan diri kepada masyarakat

Mungkin ini hanyalah suatu tulisan ringan dari saya di saat senggang. Dan, ini juga menjadi motivasi diri sendiri ketika membaca tulisan di web beberapa waktu lalu, yang berjudul “Oktober, Sumut (Masih) Sakti. November, Jatuh Sakit. Aduh!” Mungkin bukan hanya itu yang memotivasi individu kita, tetapi juga dirasa perlu pemikiran bagi teman-teman seperjuangan bahwa dalam menyumbangkan dan pengalaman dalam web bisa menjadi nilai tersendiri bagi kita untuk dikembangkan di wilayah tugas masing-masing.

Bravo PNPM! Bravo Sumatera Utara! Bravo Laskar PNPM Labuhanbatu! [Sumut]

Editor: Nina Firstavina

(dibaca 1273)
KOMENTAR ANDA:
Selain Faskel membutuhkan motivasi diri juga, ada yang harus disadari bahwa faskel juga harus bisa menjadi motivator bagi dampingannya "3. Menjadi motivator bagi LKM/BKM, hal ini sangat penting bagi LKM yang seringkali down menghadapi berbagai masalah yang berhubungan langsung dengan mereka, baik konflik dengan masyarakat desa/kelurahan masing-masing maupun masalah yang berhubungan dengan administrasi kegiatan. Motivasi ini deberikan kepada mereka sesuai dengan kebutuhan dan pola fikir masyarakat." kutipan : kutipan : http://m.suarakomunitas.net/baca/25350/re-orientasi-fasilitator-kelurahan-dalam-pemberdayaan-masyarakat.html
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 9440, akses halaman: 14233,
pengunjung online: 203, waktu akses: 0,047 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank