Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaCeritaCerita Pak Lurah Tentang Tiga Istri
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Purbalingga, 7 Maret 2013
Cerita Pak Lurah Tentang Tiga Istri

Oleh:
Nugroho Adi Santosa
Faskel UP Tim 04
Kab. Purbalingga
OSP 5 Prov. Jawa Tengah    
PNPM Mandiri Perkotaan

Malam itu, pukul 20.00 WIB di hari Jumat, 4 Mei 2012. Di Sekertariat BKM Mawar Merah, Kelurahan Kandang Gampang, Kecamatan Purbalingga, digelar pertemuan Tim Pemasaran program Penataan Lingkungan dan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK). Hadir sebagai undangan adalah 3 perempuan dan 21 laki-laki, terdiri atas pemerintah kelurahan, Tim Pemasaran , Tim Koorkot dan pendamping (fasilitator).

Dalam pertemuan diagendakan banyak hal, terkait persiapan Tim Pemasaran untuk mengikuti event pameran di Universitas Jendral Soedriman Purwokerto, sekaligus evaluasi program PLPBK .

Salah satu apresiaisi luar biasa adalah paritisipasi sinergi pemerintah kelurahan dengan hadirnya Lurah Kandang Gampang Rokhani, yang selalu menyempatkan diri menghadiri dan mengikuti setiap pertemuan di tingkat masyarakat.

Meski malam bertambah pekat, Lurah Kandang Gampang tetap menghadiri pertemuan Tim Pemasaran PLPBK, bahkan berbagi cerita filosofis

Dalam rentetan sambung rasa, rembug yang semakin merambahi malam, dimana kantuk mulai menyerang satu persatu peserta rembug Tim Pemasaran dan BKM itu, akhirnya tiba giliran “gong” dari lurah untuk memberikan sambutan. Salah satu penuturan dan masukan yang menarik dari sang lurah adalah cerita filosofis yang ia sampaikan.

“Alkisah,” sang lurah mengawali, “Ada seorang pemuda, dengan semangat 45 ingin sekali sukses bergelimpangan harta. Sebut saja namanya Mas Bejo.”

Mas Bejo, lanjut lurah, saat itu melihat seorang sopir angkot “syik-asyik” menghitung uang receh, banyak sekali. Setelah mengobrol panjang lebar dengan si sopir, Bejo memutuskan mengikuti jejak si sopir: berprofesi di bidang transportasi angkot. Singkat cerita, hari demi hari silih berganti. Usaha keras Bejo dilakoni dengan gembira, termotivasi hitungan receh yang semakin menggunung, artinya banyak pemasukan alias uang berlimpaah. Akhirnya, Bejopun menjadi bos angkot paling sukses.

Namun saking asyik dan senangnya bekerja, Bejo si pemuda terlena madan kasep nggolet bojo. Artinya, sudah jadi lebih tua dan umurnya agak terlambat untuk mencari istri. Mulailah Bejo mencari calon istri, yang cantik, pintar dan bisa membantu menghitung duit dengan cepat. Singkatnya, Bejo menikah dengan perempuan impian semua pria. Dan, benar kehidupan mereka sangat bahagia serta makin bergelimpang kesuksesan dan harta. Sang istri juga semakin mahir menghitung dan mengelola uang.

Hanya saja, setelah menikah sekian lama, mereka belum juga dikaruniai momongan (anak). Saking bakti dan cintanya, sang istri justru menyarankan Bejo untuk mencari istri  lagi.

Dikisahkan Bejo kemudian menikah lagi dengan perempuan cantik, shalihah, rajin beribadah. Kehidupan mereka semakin sukses di dunia, dan mungkin juga di akhirat. Bejo makin bahagia, tertata dan makin sukses bersama 2 istri yang baik hati. Mereka juga mapan mental dan harta.

Hari berganti bulan, berganti tahun. Namun Bejo dan istri keduanya tak kunjung mempunyai anak juga. Saking sayang dan cintanya, sang istri menyarankan agar Bejo mencari istri lagi. Lalu, Bejopun menikah lagi dengan perempuan yang sangat cantik luar-dalam. Kehidupan mereka semua—Bejo dan tiga istrinya—semakin bahagia, rukun dan sejahtera.

Hingga suatu saat, Bejo jatuh sakit. “Bejo ming bisa ngatang-ngatang. Tangane thok sing teyeng obah, kaya lagi nggeseki duit,” tutur Lurah Kandang Gampang Rokhani. Artinya, Bejo jatuh sakit dan hanya bisa terbaring lemah. Hanya tangannya saja yang bisa bergerak, dengan jari-jari tangan seperti kebiasaannya menghitung uang.

Bejo, yang waktu itu dikelilingi ketiga istrinya, seakan-akan meminta sesuatu. Satu per satu istrinya mendekat. Istri pertama, yang mahir menghitung dan memenej uang, mengira Bejo ingin menghitung uang. “Kiye kayane Mas Bejo kepengin ngetung duit kyeeh,” pikir si istri pertama. (Artinya: Sepertinya Bejo ingin menghitung uang nih). Maka ia segera mengulurkan segepok uang kertas dan receh ke tangan Bejo. Tapi ternyata bukan itu yang diminta Bejo.

Kemudian maju istri kedua, yang cantik dan shalihah. “Oooh, ndean Mas Bejo pengin ndonga kyeeh,” pikir si istri kedua. (Artinya: Oh, sepertinya Bejo ingin berdoa nih). Maka dia mengulurkan tasbih ke tangan Bejo. Namun, lagi-lagi, bukan itu yang diinginkan Bejo.

Akhirnya, majulah istri ketiga, yang cantik luar biasa seperti super model. Ia maju lalu sedikit membungkuk, mendekatkan buah dadanya ke tangan Bejo. Benar saja, ternyata Bejo menyambutnya dengan hangat dan mesra. “Oalalaah, jebul kiyeeee yaaaa sing dijaluk!” (Artinya: Walah, ternyata inilah yang paling Bejo inginkan)

Gueeeerrrrrr.. Cerita berakhir, tombo (obat) ngantuk. Semua yang hadir jadi sumringah kembali dalam keseriusan menyimak alur cerita sang lurah.

Meski demikian, Lurah Kandang Gampang Rokhani menyambung, makna dari anekdot tersebut adalah semua jenis kegiatan atau pekerjaan apapun, jika dikerjakan dengan baik dan bersungguh-sungguh, pasti akan mendaptkan manfaat yang baik. Begitu juga korelasinya dengan program dari PNPM Mandiri Perkotaan, yang sejak mula bersiklus: masyarakat tak berdaya—seperti Bejo—dengan usahanya bisa menjadi berdaya.

Berdaya di masyarakat artinya adanya sinergi dari semua elemen masyarakat yang saling mendukung. Kemudian, dari berdaya ini akhirnya menuju masyarakat yang   mandiri dan madani. [Jateng]

BKM Sejahtera Mawar Merah
Jl. Gunung Sambeng
Kel. Kandang Gampang, Kec. Purbalingga
Kab. Purbalingga, Jawa Tengah

Editor: Nina Firstavina

(dibaca 1144)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 4038, akses halaman: 6669,
pengunjung online: 353, waktu akses: 0,027 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank