Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
PNPM-Perkotaan
Warta
,
Selamat datang di website PNPM Mandiri Perkotaan!
HomeWartaArtikelAdakah Kontribusi PNPM Perkotaan terhadap Kesehatan Rakyat Miskin?
Bagi rekan pelaku dan pemerhati P2KP yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan P2KP dan KBP ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web P2KP. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web P2KP tercinta ini.
Jakarta, 9 April 2013
Adakah Kontribusi PNPM Perkotaan terhadap Kesehatan Rakyat Miskin?

Oleh: 
Tomy Risqi 
Sub Specialist Community Organization  
KMP Wil. II
PNPM Mandiri Perkotaan   .

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi, tapi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tersendat, itu sudah jamak. Menurut laporan Stanley (Morgan Stanley Group; 2009), Indonesia sedang memasuki rezim pertumbuhan ekonomi 6-7% per tahun sejak tahun 2011. Namun, IPM kita pasang surut di rangking 110-125an (UNDP 2009-2012). Tahun 2009 menduduki ranking 111, kemudian meningkat ke 108 (2010) sebelum melorot drastis ke rangking 124 (2011) untuk meningkat lagi ke posisi 121 (2012). Mengapa bisa terjadi? Pasti ada kesenjangan perolehan pendapatan. Si kaya makin hebat, sampai-sampai 25 orang Indonesia terdaftar ke dalam 1426 orang terkaya di planet in menurut majalah Forbes 2013, saat si miskin masih berjibaku mengais rezeki sebagai buruh panggul di pasar tradisional (LP3ES;2012).

Di luar tidak matching-nya pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan, PNPM Mandiri berada di salah satu pusat persoalannya. Apa yang bisa kita perbaiki agar prestasi pembangunan kita menurut IPM—yang digagas oleh Amartya Sen et al dan selalu diukur setiap tahun itu—meningkat?

Mari kita ambil salah satu komponen IPM, yaitu peningkatan angka harapan hidup. Percepatan laju angka harapan hidup niscaya berhubungan dengan sector kesehatan. Bagaimana sumbangan PNPM Mandiri Perkotaan dalam memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas?

Tapi tunggu dulu. Sebelum menjawabnya, tampaknya fakta berikut ini patut kita simak. Berdasarkan data UNDP, IPM Indonesia mengalami kemajuan dalam 40 tahun terakhir. Antara tahun 1980 hingga 2012, nilai IPM Indonesia meningkat sebesar 49% atau peningkatan rata-rata 1,3% per tahun dari 0,422 menjadi 0,629.

Pada periode yang sama, harapan hidup orang Indonesia naik 12,2 tahun dari 57,6% menjadi 69,8% untuk saat ini. Peningkatan juga terjadi pada harapan lama sekolah sebesar 4,6 tahun dari 8,3 tahun pada 1980 menjadi 12,9 tahun pada tahun 2012. Sedangkan PDB per kapita tahun 2012 sebesar 4,154 atau naik sebesar 225%. (Sumber: wartaekonomi.co.id

Data sekunder di atas memperlihatkan bahwa IPM kita baru bisa meningkat hampir 50% setelah 40 tahun lebih. Itupun dibangun dari peningkatan yang tidak setara, yaitu kendati income naik hingga 225%, tapi lama bersekolah dan lama hidup (survival) baru meningkat 12 tahun setelah hampir setengah abad.

Baiklah, kita lihat sumbangan PNPM Mandiri Perkotaan sekarang. Pembangunan manusia oleh UNDP diukur melalui tiga aspek, yaitu pendidikan, kesehatan dan daya beli. Salah satu aspek penting yang diukur adalah aspek kesehatan. Karena dengan berbekal kesehatan, setiap orang dapat leluasa beraktivitas, bersekolah dan mengaktualisasikan diri. PNPM Mandiri Perkotaan, sebagai salah satu program penanggulangan kemiskinan di garda depan, turut berkontribusi terhadap pembangunan manusia melalui perbaikan ketiga layanan tersebut.

Khusus aspek kesehatan, selama tahun 2012 saja, PNPM Mandiri Perkotaan telah mengalokasikan 35,2 M bagi 788,445 warga miskin. Jumlah sebesar itu hanya 14% dari seluruh BLM Sosial yang direalisasikan. Bentuk-bentuk program yang didukung antara lain pencegahan dan pengobatan penyakit dan dikerjasamakan dengan SKPD dan dunia usaha. Kita sudah berada di jalur yang benar.

Pencegahan penyakit berupa imunisasi, sosialisasi/penyuluhan, fogging, dan perbaikan gizi (pemberian makanan tambahan) untuk balita maupun lansia. Sedangkan pengobatan gratis adalah pemberian obat-obat generik untuk warga PS-2 secara periodik. Selain itu juga dilakukan pencegahan penyebaran penyakit dengan menciptakan lingkungan bersih melalui pengelolaan sampah. Seluruh program kesehatan via PNPM Perkotaan tersebut didukung oleh swadaya masyarakat sebesar Rp9,6 miliar (27%), disertai kontribusi SKPD sebesar Rp1,9 miliar (0,05%) serta sumber dana lain sebesar Rp1,7 miliar (0,04%).

Namun semua program peningkatan pelayanan kesehatan tersebut belum termasuk pembangunan sejumlah infrastruktur pendukungnya, seperti Posyandu, Poskesdes, instalasi air bersih, drainase, rumah layak huni dan jamban keluarga. Artinya, sesederhana apapun, masyarakat melalui LKM telah mendorong langsung peningkatan kualitas kesehatan warga miskin, kendati hanya 14% dari BLM Sosial yang tersedia. Sedikit banyak kita telah membantu membuka akses kesehatan masyarakat miskin. Sedih rasanya jika melihat pemanfaatan BLM yang tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Secara statistik masih terdapat 21,4% kegiatan yang dikelola oleh masyarakat tidak terkait langsung dengan perbaikan hidup warga miskin (lain-lain).

Jangan sampai kita mengulang status sebagai negara yang berpredikat buruk dalam menjaga kesehatan ibu. Tengok saja tahun 2009, Indonesia menduduki rangking 9 dari 11 negara yang memiliki angka kematian ibu tertinggi di dunia. Sedikit di atas Korea Utara dan Papua Nugini. Yang lebih tragis, kemungkinan anak-anak Indonesia lahir meninggal saat dilahirkan maupun pada ulang tahunnya yang kelima ternyata tiga kali lebih besar dibandingkan anak-anak Vietnam (Setyo Budiantoro etal; 2012). Padahal Srilanka dan Vietnam memiliki pendapatan perkapita lebih buruk ketimbang Indonesia. Namun, ibu dan balita mereka mendapatkan pelayanan yang lebih baik, asupan gizi yang memadai, serta dimanusiakan hak-haknya atas kesehatan dan harapan hidup.

Sekali lagi terbukti bahwa PDB yang dirancang para ekonom yang mengedepankan hitung-hitungan indeks output produk pabrik, panen petani, penjualan ritel dan belanja konstruksi itu bukan hanya gagal menangkap kesejahteraan masyarakat abad 21, tapi juga melencengkan tujuan politik global ke arah pengejaran pertumbuhan ekonomi semata (Gertner; New York Times 2010). Negeri ini dikhawatirkan turut terpeleset ke sana dengan mengalokasikan pembiayaan kesehatan masyarakat hanya 1% dari PDB. Bandingkan dengan Kosta Rika dan Korea Selatan yang mencapai 5-7%.

Potret RPJMN 2010-2014 jelas-jelas berorientasi pada kesejahteraan rakyat, menerjemahkan amanah konstitusi. Namun ketimpangan masih tinggi akibat buruknya kesehatan masyarakat. Maka dari itu, bagi yang belum oke, janganlah kita ikut-ikutan mengacaukannya. Ayo benahi data kita dan kegiatannya. Segera berinvestasilah pada human capital di aspek kesehatan, agar antisipasi terhadap kemsikinan makin berlanjut. Desain-lah bidang kesehatan sebagai bagian utama dari strategi penanggulangan kemiskinan desa. Ajak sektor lain membantu mengarahkan BKM memfasilitasi kesehatan PS 2 melalui program-program inovatif. Dengan demikian, kita sedang membangun civil society (baca: BKM) produktif yang turut mendorong laju pembangunan negara kesejahteraan (welfare state).

Mulai saat ini, jauhi kegiatan yang instan, abu-abu, tidak pro poor. Yakinkan diri bahwa orang yang tak terdidik, lemah serta sakit-sakitan akan lebih mudah terperangkap kembali dalam kemiskinan ketimbang yang diprospek sehat dan berpengetahuan. [KMP wil. 2]

Catatan: Dokumentasi pribadi terkait kegiatan BKM Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut dan lainnya saat peresmian dan pemanfaatan Poskesdes (2009).

 

Editor: Nina Firstavina

(dibaca 926)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
PNPM Mandiri Perkotaan:
Jl. Danau Toba F 3 No. 8, Jakarta Pusat 10210
Total pengunjung hari ini: 2599, akses halaman: 2854,
pengunjung online: 417, waktu akses: 0,035 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank